
Padahal mereka lah yang seharusnya berada di garis depan, karena mereka adalah Abdi negara dinasti Jin.
Di mana selama ini mereka dan seluruh keluarga mereka lah yang justru menikmati penghasilan yang diberikan negara untuk mereka.
Kasarnya mereka adalah peliharaan negara, kini negara dalam masalah seharusnya mereka yang maju.
Tapi mereka berdua tidak bisa membantah, dengan kekuatan mereka saat ini bila maju kedepan mereka hanya mengantar nyawa.
Makanya Lu Sun mengatur semua ini, termasuk ingin melindungi nyawa mereka agar tidak mati sia-sia.
Jendral Kam dan Jendral Wu mundur dengan kepala tertunduk malu kembali ketempat mereka.
Lu Sun maju menghampiri kedua orang itu dan menepuk bahu mereka sambil berkata,
"Aku tahu apa yang kalian berdua pikirkan, tapi kalian berdua jangan salah paham."
"Coba kalian pikir dengan seksama, jalan kecil tertutup formasi, Meng Jin tertutup Pasukan gabungan para pendekar."
"Hu Lau Kuan di jaga oleh Panglima Sie dan menantunya yang sangat ditakuti pihak Bun Houw."
"Kami menyerang Luo Yang dari arah depan, bila mereka terdesak mereka akan kemana ?"
"Bila kalian merasa posisi kalian tidak penting kalian salah besar."
"Justru Han Gu Kuan adalah penentu ke musnahan para pemberontak itu, Han Gu Kuan pun adalah tempat kalian berjaga dan melindungi Negara dan Dinasti kalian hormati."
"Bila Han Gu Kuan jatuh Tong Kuan pasti bernasib sama, lalu siapa yang akan menjaga Kaisar dan seluruh keluarga beserta rakyatnya yang sedang berada di Chang An ?"
Mendengar penjelasan Lu Sun kedua jendral itu menjatuhkan diri berlutut didepan Lu Sun dan berkata,
"Maafkan kebodohan kami,! kami bersumpah akan menjalankan semua tugas dari jendral dengan taruhan nyawa kami..!"
Ucapan Lu Sun berhasil membangkitkan semangat kedua Jendral itu yang merasa minder.
Lu Sun Tersenyum dan berkata,
"Kalian berdua berdirilah, kita di sini berada dalam satu perahu, hanya dengan bersatu padu dan memiliki hati dan semangat yang sama, kita baru bisa memenangkan pertempuran ini dengan cantik.."
Lu Sun kembali ke posisi nya ditengah dan melanjutkan berkata,
"Kita tahu di pihak lawan kita masih tersisa beberapa orang sakti, yaitu Shi Ma Ong, Xie Bun Houw dan Koai Lau Jen."
"Song er Fan er dan Yen Mei dengarkan perintah...!"
Wu Song Lu Fan dan Xue Yen maju berdiri di hadapan Lu Sun menunggu perintah.
"Song er kamu ku tugaskan menangkap Shi Ma Ong hidup ataupun mati, hidup harus terlihat orang nya mati harus terlihat mayatnya, tidak boleh ada kesalahan...mengerti..!"
ucap Lu Sun tegas.
__ADS_1
"Siap guru...!"
ucap Wu Song sambil memberi hormat.
"Fan er kamu boleh menghadapi Koai Lau Jen yang sakti licik dan banyak akalnya, tempo hari tidak berhasil menangkapnya.."
"Semoga kali ini kamu bisa menangkapnya membalaskan dendam mertua mu yang makamnya dirusak oleh nya."
Lu Fan memberi hormat ke ayahnya dengan penuh semangat dan berkata,
"Fan er siap terima perintah...!"
"Yen Mei ilmu Bun Houw lahir dari kita, sudah semestinya kita berdua yang memberikan hukuman kepada murid kita yang salah jalan itu."
"Jadi biar kita berdua bekerja sama menahlukkan nya.."
Xue Yen Tersenyum gembira karena dia diijinkan bertempur bersama suaminya.
Xue Yen memberi hormat dan berkata dengan lembut sambil menatap Lu Sun dengan mesra.
"Aku siap mendampingi mu Sun ke ke.."
"Ibu ayah...! cukup menjijikkan sekali sikap kalian,"
ucap Lu Fan sedikit menggigil seperti orang habis pipis..
Semua yang hadir yang tadinya bersikap serius kini semuanya menutup mulut mereka menahan tawa melihat sikap Lu Fan yang jenaka..
Lu Fan meski mengejek ayahnya, tapi di dalam hati dia sangat kagum dengan ayahnya.
Ayahnya ternyata sangat mengagumkan bila sedang berada di Medan tempur dan sedang mengatur orang-orang.
Sama sekali tidak terlihat tingkahnya yang konyol dan memalukan seperti saat bersama kedua ibunya di lembah sana.
Lu Fan mulai menyadari kekonyolan ayahnya di lembah sebenarnya demi menyenangkan hati kedua ibunya yang sangat di cintai ayahnya.
Ayah nya meletakkan posisi kedua ibunya, di atas segala-galanya.
Sementara itu di Hu Lao Kuan di markas pusat panglima Sie menerima pesan surat lewat burung merpati.
Agar bersiap-siap bergerak sesuai dengan rencana yang sudah Lu Sun buat.
Panglima Sie memanggil menantunya datang menghadap dan menyerahkan surat perintah itu padanya.
Yang Jian mengangguk dan berkata,
"Legenda tetap Legenda manusia-manusia dari lembah itu sangat luar biasa."
"Satu saja diantara mereka, bila menghendaki mereka bisa saja menguasai dunia ini dengan mudah.."
__ADS_1
"Ayah rencana ini sudah sempurna kita tinggal memberikan dukungan saja, sesuai rencana."
Panglima Sie mengangguk dan berkata,
"Kalau begitu segeralah perintahkan para pendekar untuk berangkat ke Meng Jin malam ini juga secara diam-diam."
"Sedangkan kita besok pagi akan bergerak memberikan dukungan kepada Pasukan Naga Hitam dan Pasukan keluarga He..."
"Tidak ku sangka teman baik ku bisa memiliki cucu yang begitu membanggakan.."
"Sedangkan aku...Haisss...!"
"Ayah jangan begitu, Thian San kelak pasti akan membuat kita semua bangga.."
Panglima Sie menghela nafas berat dan berkata,
"Semoga saja,.....kalau teringat ayah kandung bocah itu aku selalu ingin muntah darah karena kesal dan kecewa.."
"Mana wajah mereka berdua begitu mirip lagi. Sehingga setiap melihatnya selalu mengingatkan ku dengan koki sialan itu.."
"Tahu akan jadi begini harus nya waktu itu aku tidak membawanya pulang ke rumah.
"Seharusnya kubiarkan dia mati saja dalam tugas membangun tembok di perbatasan.."
umpat Panglima Sie kesal.
"Ayah jangan berkata begitu, itu akan menyakiti hati Yi Yi..."
"Thian San adalah anak kandung ku, bila kelak dia tidak bisa memberikan kebanggaan buat ayah, itu tidak ada hubungannya dengan orang itu."
"Itu adalah murni kesalahan ku tidak bisa Didik anak..."
ucap Yang Jian tegas.
"Haisss kamu ini... ya sudahlah cepat kamu kembali ke kemah mu, buatkan cucu yang manis untuk ku.."
"Selagi aku masih hidup, aku ingin menggendong anak dari kamu dan Yi Yi..."
"Jangan bikin yang tua ini mati penasaran..."
ucap Panglima Sie kesal dan kecewa.
Yang Jian meski tidak bisa melihat tapi dia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh ayah mertuanya.
Sambil menghela nafas pelan dia berkata,
"Baiklah ayah kalau tidak ada hal lain saya permisi dulu..."
Panglima Sie hanya memberi kode dengan tangannya sambil memunggungi Yang Jian.
__ADS_1
Yang Jian begitu keluar dari tenda Ayah mertuanya, dia menghela nafas sedih dan melangkah kembali ke tendanya.