
Di tepi sungai yang berarus deras terlihat seorang anak gadis berusia 15 tahun berkulit kecoklatan Bermata besar hidung mancung di tengah dahinya ada titik merah.
Berpakaian kulit binatang terlihat ketakutan berdiri dengan tubuh gemetar, didepan nya ada 4 ekor anjing yang terus menyalak.
Memamerkan taring mereka kearah seekor harimau belang sebesar kerbau, harimau itu juga tidak mau kalah dia juga mengaum keras.
Tapi ke 4 anjing itu sangat berani mereka tidak terlihat takut, ataupun mundur selangkah pun.
Dua ekor anjing dari arah kiri kanan sang harimau, melompat menyerang harimau yang berjalan mendekati kearah mereka.
Tapi serangan kedua anjing itu tidak berarti apa-apa, hanya sekali sapok dengan sepasang cakar depannya.
Kedua ekor anjing itu terpental menabrak pohon disamping mereka dan mengalami luka cakar yang cukup parah di wajah sampai ke leher mereka.
Tapi kedua anjing tersebut pantang menyerah, mereka kembali bangun sambil terus menyalak dan memamerkan taring mereka.
Mereka bergerak maju mendekati harimau tersebut dari kiri kanan.
Sisa dua ekor anjing lainnya kini juga bergerak maju, ke 4 anjing itu sekarang mengepung harimau tersebut dari 4 arah.
Sambil terus menyalak dan memamerkan taring mereka.
Tapi harimau tersebut bersikap tenang, sesekali mengaum dan menggereng dengan suaranya yang menggetarkan jantung.
ke 4 anjing itu mulai menerjang dan menggigit leher kaki dan punggung harimau tersebut dari berbagai sisi.
Harimau itu juga membalas dengan cakar dan gigitan taringnya yang panjang.
Salah satu anjing yang tergigit oleh harimau itu langsung tewas dengan leher patah dan perut robek terbanting tak bergerak lagi.
Tapi ketiga ekor anjing lainnya terus menyerang harimau itu dengan ganas.
Lu Ping sudah sampai di lokasi, dan melihat semua kejadian tersebut, Lu Ping dapat menebak bila diteruskan pertarungan berat sebelah tersebut.
Sebentar lagi ke 3 anjing lainnya bakal mati menyusul temannya yang sudah mati lebih dulu.
Lu Ping tidak tega melihat nya, sehingga dia langsung melesat dengan cakar tulang putihnya yang mengeluarkan cahaya putih menyelimuti sepasang cakarnya.
__ADS_1
Harimau tersebut mencium adanya bahaya dia berusaha menangkis cakar Lu Ping dengan kedua cakarnya dan mengabaikan ke 3 ekor anjing yang sedang menggigitnya.
Tapi cakar Lu Ping bergerak lincah kini mencengkram kedua kaki depan harimau tersebut.
Tulang kedua kaki depan harimau tersebut langsung remuk, harimau tersebut meraung keras berusaha mengigit Lu Ping dengan taringnya yang panjang.
Tapi moncong harimau tersebut terkena tendangan dari arah bawah oleh kaki Lu Ping, sehingga harimau tersebut terpental kedalam semak-semak.
Harimau tersebut terluka parah tidak bisa melarikan diri karena kedua kaki depan nya telah remuk tulangnya.
Selanjutnya Lu Ping membiarkan Ketiga ekor anjing itu yang membereskan harimau tersebut.
Dia lebih memilih mendekati gadis kecil tersebut dan bertanya,
"Gadis kecil kamu tinggal dimana ? kenapa bisa ada di sini ? dimana orang tua dan keluarga mu tinggal ?"
Gadis itu sudah tidak terlalu ketakutan lagi, dengan suara agak kaku dan kurang lancar dia menjawab,
"Aku..ambil..air.. desa ku tidak jauh... di sana..."
Lu Ping menyadari gadis kecil ini bukan orang Han, bisa sedikit bahasanya dan mengerti apa yang dia katakan itu sudah hebat luar biasa.
pikir Lu Ping dalam hati.
Lu Ping tidak menguasai bahasa Thian Tok, kalau saja ada Wu Song tentu semua menjadi lebih mudah, karena Wu Song menguasai bahasa tersebut, bahkan bisa baca dan tulis.
Teringat Wu Song Lu Ping sedikit sedih, Kenapa nasib selalu mempermainkan mereka, baru saja bersatu sudah kembali harus berpisah.
Tapi hanya sesaat saja Lu Ping kembali tersadar dari lamunannya sambil menghela nafas Lu Ping berpikir saat ini yang paling penting menemukan jalan pulang lebih dahulu.
Lu Ping kembali menatap anak itu dan berkata,
"Ambil airnya sudah ? kalau belum biar saya bantu."
Gadis itu cepat--cepat mengangguk dan menunjuk kearah depan.
lalu dia berlari kecil kearah yang dia tunjuk tadi.
__ADS_1
Lu Ping berjalan mengikuti nya dari belakang, tidak jauh dari sana ada sebuah gerobak yang terisi tong yang penuh dengan air.
Dari cerita gadis kecil itu, Lu Ping mendapatkan informasi desa mereka mengalami kekeringan krisis air, karena air yang biasa mengalir kedesa mereka di bendung oleh pasukan kerajaan yang sedang menempati posisi di mulut aliran air.
Sedangkan melakukan persiapan menghadapi serangan musuh yang jumlahnya lebih banyak.
Sambil bercerita mereka berdua mendorong gerobak berisi air pulang kedesa anak kecil tersebut yang letaknya cukup jauh.
Lu Ping tidak mendapatkan informasi apapun mengenai jalan pulang ke daratan tengah, karena gadis itu tidak paham dan tidak tahu di mana letak daratan tengah.
Anak ini bisa mendengar dan berbicara bahasa daratan tengah pasti di desanya ada yang tahu dimana letak daratan tengah.
Pikir Lu Ping sambil membantu gadis itu mendorong gerobak.
Sementara Lu Ping sedang bergerak menuju desa anak kecil yang di tolongnya.
Wu Song yang sedang duduk di tepi sungai memulihkan kondisinya.
Mendengar ada bunyi langkah kaki kuda dan kereta yang sedang menuju kearahnya, di belakang rombongan kereta kuda juga ada kelompok lain dalam jumlah yang lebih besar.
Berusaha mengejar rombongan kereta kuda. Wu Song akhirnya dapat melihat sebuah kereta yang ditarik oleh 4 ekor kuda.
berlari kencang menuju kearahnya, yang mengendarai kereta tersebut adalah seorang gadis yang sangat cantik berusia sekitar 20 tahun.
Kulitnya putih bersih matanya besar dan indah hidungnya mancung bibir nya merah tipis sedang tidak besar tidak kecil.
Dia memakai perhiasan di keningnya, cuping hidung nya ditindik dan memakai giwang.
Pakaian yang di kenakan nya agak unik bagian perutnya di biarkan terbuka.
Gadis tersebut mengendarai kereta kuda seorang diri, dan di kawal oleh prajurit berkuda sebanyak 5 orang yang semuanya adalah wanita.
berjarak agak jauh di belakang serombongan Pasukan berkuda berteriak-teriak mengejarnya.
Gadis yang membawa kereta terlihat panik dan terus menoleh kebelakang dengan wajah pucat dan berusaha memacu kudanya secepat mungkin.
Wu Song yang melihat ketakutan yang terbayang di wajah gadis itu, mengingatkan dia akan kondisi Lu Ping saat di keroyok di Xu San.
__ADS_1
Hal ini membuat Wu Song menjadi geram dan marah, sehingga timbul niat ingin menghadang dan mencegah rombongan pasukan tersebut.
Wu Song berdiri dari meditasi nya lalu Wu Song lenyap dari tepi sungai kini berdiri menghadang di tengah-tengah antara rombongan kereta dan Pasukan berkuda yang melakukan pengejaran.