LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
SAMPAI DI PADANG RUMPUT HIJAU


__ADS_3

Di bagian tengah ruangan terlihat sebuah batu Giok berwarna putih transparan, di dalam nya terdapat sebuah batu berbentuk janin yang mengeluarkan cahaya merah kehitaman.


Pria itu mengutak-atik segel formasi yang melindungi batu giok putih itu, dari orang-orang yang ingin mengambilnya.


Tidak butuh waktu lama segel formasi terbuka, begitu segel formasi terbuka batu giok putih itu juga hancur dengan sendirinya.


Kini tinggal batu merah kehitaman berbentuk janin yang bersinar semakin terang, pria itu mengambilnya dan memasukkan nya kedalam sebuah kantung berwarna hitam.


Begitu batu merah berbentuk janin diambil gua bergetar hebat batu-batu berjatuhan dari atas langit-langit gua.


Pria itu menatap kesebelah kiri tidak terlihat ada apa-apa, Kemudian dia buru-buru melesat keluar dari dalam gua.


Setelah dia keluar dari gua, gua itu pun runtuh dan tertutup oleh reruntuhan tebing, sehingga saat ini hanya terlihat tebing yang runtuh.


Sesaat kemudian tidak lagi terlihat tebing tinggi dan sebuah gua dibawahnya.


Pria itu mendengar langkah kaki orang banyak mendekati tempat dia, dia segera melesat kearah lain dan menghilang dari tempat tersebut.


Langkah kaki yang ramai itu berasal dari rombongan yang dipimpin oleh


biksu Hong Ti.


Sampai di lokasi biksu Hong Ti tertegun melihat kekacauan yang terjadi, dia terbelalak tak percaya.


Terutama saat melihat tebing tinggi yang kini telah runtuh menjadi gundukan batu.


Selain itu juga terdapat dua gundukan emas teronggok disana.


Biksu Hong Ti dan kedua Sutenya biksu Hong Sin dan Hong Kun berlarian kearah tumpukan batu tebing dan mencoba membongkarnya.


Di bawah bantuan muridnya yang ramai akhirnya di bawah tumpukan batu tebing yang runtuh ditemukan jasad Biksu Hui Neng.


Sebagian meneruskan pembongkaran, sebagian lagi mengurus pemakaman biksu Hui Neng.


Akhirnya mayat biksu Wu Ming Wu Sin dan Wu Se berhasil di temukan, penggalian terus berlanjut tanpa henti.


Akhirnya hanya berhasil ditemukan Mayat


Tat Mo Couw Su yang telah rusak menjadi tulang belulang dan puluhan papan nisan leluhur yang sebagian besar juga telah rusak.


Pencarian pun berakhir, sampai di situ selanjutnya di lakukan pengurusan pemakaman dan upacara sembahyang.

__ADS_1


Biksu Hong Ti Hong Sin dan Hong Kun sangat marah mereka bertiga berlutut dan bersumpah akan mencari Wu Song untuk di mintakan pertanggungjawaban atas semua kejadian di Siauw Lim Si ini.


Seluruh murid Shaolin ikut bersumpah mengikuti biksu Hong Ti.


Lalu rombongan biksu yang berjumlah sampai ribuan orang bergerak menuju Gunung Xu yang terletak di deretan pengunungan Kun Lun.


Biksu Hong Ti juga mengutus beberapa biksu untuk pergi ke India menyampaikan kejadian yang menimpa Shaolin kepada Budha Ju Lai yang tinggal di kuil halilintar.


Dan meminta bantuan dari beliau untuk membantu mereka menghadapi Wu Song yang sangat sakti.


Wu Song sendiri tidak menyadari kejadian yang terjadi di belakangnya dia terus bergerak bersama rombongannya menggunakan kereta kuda menuju Gunung Xu yang terletak di deretan pegunungan Kun Lun San.


Pagi yang cerah awan putih berarak tertiup angin melewati langit yang biru.


Matahari bersinar cerah, angin lembut berhembus membawa udara yang sejuk.


Di sebuah padang rumput yang luas, dimana sepanjang mata memandang hanya terlihat hamparan hijau,.seperti permadani berwarna hijau yang menutupi bumi.


Di kejauhan di dataran yang agak tinggi terlihat sebuah kereta sedang bergerak menuruni dataran tinggi menuju hamparan rumput pendek yang luas.


Kereta tersebut adalah kereta kuda yang dikendarai oleh Wu Song yang membawa rombongannya di dalam kereta.


Mereka bisa melihat deretan pegunungan Kun Lun San yang dibawahnya terdapat aliran sungai yang jernih seperti cermin.


Memantulkan bayangan gunung-gunung yang berderet-deret di sisi nya dan langit biru dengan awan putih yang sedang berarak.tertiup.angin.


Wu Song menghentikan kereta kudanya berdiri di atas kereta menarik napas panjang menghirup udara segar pagi hari.


Sambil menikmati sinar matahari pagi yang hangat, sambil meluruskan pinggang nya .


Terdengar suara lembut dari dalam kereta,


"Sayang sampai di mana kita ? kenapa kereta berhenti ?"


Wu Song menoleh kearah kereta dan berkata,


"Sayang udara di sini sangat bersih dan segar, cobalah Keluar, kita sudah tidak jauh dari pegunungan Kun Lun."


"Biar kita beristirahat di sini sebentar melepas lelah, Cun Ming ayo turun dari kereta jangan tidur aja di dalam kereta.".ucap Wu Song sambil menyingkap Kerai kereta membantu seorang wanita cantik keluar dari dalam kereta.


Wanita cantik itu berdiri di sebelah Wu Song ikut menikmati menghirup udara segar sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Wu Song merangkul pinggang nya dengan mesra kemudian membawanya terbang dan mendarat diatas Padang rumput hijau dengan ringan.


Wanita cantik itu adalah istri Wu Song, Lu Ping.


Lu Ping dengan ceria berputar-putar menari-nari di depan Wu Song dan berkata,


"Sayang tempat ini sangat bagus dan indah, juga sangat nyaman udaranya."


Wu Song mengangguk dan berkata,


"Udara di sini sangat sejuk karena deretan pegunungan di sebelah sana sangat dingin dan selalu diselimuti salju sepanjang tahun."


"Jadi angin dingin dari puncak pegunungan itu, yang tertiup angin sampai kemari membawa udara yang sejuk dan menyegarkan."


Tak lama kemudian dari dalam kereta terlihat Cun Ming muncul dan melompat turun dari kereta di susul oleh pasangan Hong San dan Su Nio yang meski sudah cukup berumur.


Tapi kemesraan mereka berdua tidak kalah dibandingkan dengan Wu Song dan Lu Ping.


Wu Song menoleh kebelakang dan menatap mereka bertiga dan berkata,


"Kita beristirahat sejenak di sini sambil sarapan."


"Selesai sarapan kita baru menyeberangi padang rumput ini, kelihatannya setelah melewati padang rumput ini, kita tidak bisa lagi menggunakan kereta kita." ucap Wu Song sambil menatap mereka semua.


In Su Nio mengangguk dan berkata,


"Bila tidak salah ingat di sebelah barat sana, ada di sediakan kapal penyeberangan."


"Kita bisa menyewa perahu untuk menyeberangkan kita berikut kereta kuda kita."


"Jadi kita tetap bisa melanjutkan perjalanan dengan kereta sampai kaki gunung Xu."


"Sampai di sana lah kita terpaksa menitipkan kereta dan kuda kita pada para penduduk di kaki gunung."


"Untuk selanjutnya kita harus menempuh perjalanan dengan berjalan, karena Medan yang ditempuh sangat sempit dan curam."


"Sehingga sangat tidak cocok bila menempuh perjalanan dengan tunggangan." ucap Su Nio memberikan penjelasan.


Saat mereka sedang asyik duduk dan makan 3 bayangan melesat cepat seperti terbang di atas rumput.


Sedang bergerak kearah mereka dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


__ADS_2