
Wu Song dan Lu Ping bergandengan tangan berjalan menghampiri Bun Houw dan Yi Yi.
Melihat Wu Song dan Lu Ping berjalan menuju kearahnya, Bun Houw juga menggandeng tangan Yi Yi mendekati Wu Song.
Setelah berhadapan Wu Song langsung berkata,
"Kalian berdua pasti belum sempat makan bukan..? ayo kita makan disana sambil ngobrol-ngobrol, makanan disana cukup enak."
Bun Houw tersenyum malu kemudian dia memandang Yi Yi ingin tahu pendapat nya, begitu mendapat anggukan dari Yi Yi.
Bun Houw langsung berkata,
"Boleh tapi kami tidak boleh makan gratis, tadi tuan penolong telah menolong kami."
"Jadi untuk makanan ini, kami saja yang membayarnya. Meski makanan ini tidak bisa membalas Budi pertolongan tuan.
Tapi setidaknya hati kami akan sedikit lebih tenang, dan nyaman."
Wu Song tersenyum kemudian berkata,
"Baiklah kalau begitu kami tidak akan sungkan lagi, kami mengucapkan terima kasih lebih dahulu, atas undangan saudara Bun dan nona Yi Yi."
Bun Houw memberi hormat dan mempersilahkan Wu Song jalan duluan, Wu Song langsung menggandeng tangan Lu Ping menuju Rumah makan tempat dia biasa memesan daging panggang.
Bun Houw dan Yi Yi jalan mengikuti Wu Song dari belakang.
Wu Song berjalan menuju lantai dua dia memilih sebuah meja yang dekat dengan balkon.
Sehingga selain bisa melihat pemandangan danau yang indah, mereka juga dapat mengamati orang-orang yang berlalu lalang didepan rumah makan.
Setelah semua nya duduk Wu Song memesan beberapa jenis masakan yang disukai Lu Ping dan dirinya tidak lupa memesan seguci arak Hang Zhou ukuran sedang.
Pelayan yang sedari tadi mengikuti mereka segera mencatat semua pesanan Wu Song, kemudian dia membungkuk hormat didekat Bun Houw menunggu pesanan Bun Houw.
Bun Houw menanyakan pada Yi Yi ingin pesan apa ? Yi Yi menggeleng sambil menjawab "aku ikut saja."
Bun Houw kemudian menambahkan 3 macam menu kesukaan Yi Yi dan seguci arak Hang Zhou.
Setelah Bun Houw selesai, pelayan tersebut segera mengundurkan diri untuk pergi menyiapkan pesanan mereka.
Melihat pelayan telah pergi Wu Song pun memulai pembicaraan,
"Namaku Wu Song dan calon istriku ini dia bernama Lu Ping."
"Kami berdua sedang tamasya di danau Si Hu setelah ini kami akan kembali kerumah Lu Ping." ucap Wu Song menambahkan.
Lu Ping tertunduk malu wajahnya merah ketika Wu Song menyebutnya sebagai calon istri.
__ADS_1
Tapi hatinya sangat bahagia dan senang mendengar pengakuan Wu Song barusan.
Wu Song melanjutkan kata-katanya, "Saudara Bun kamu tidak perlu memanggilku Tuan itu sangat tidak enak didengar."
"Saudara Bun berapa usia mu saat ini?"
tanya Wu Song sambil menatap Bun Houw.
"20.." jawab Bun Houw singkat.
Wu Song tersenyum kemudian berkata,
"Usia kita sama kebetulan sekali, kamu kelahiran bulan apa?"
"bulan 9" jawab Bun Houw.
"Aku bulan 2, berarti aku lebih tua dari mu kedepan nya kamu panggil kakak Song padaku dan aku akan memanggilmu adik Bun..? bagaimana menurutmu..? ucap Wu Song tersenyum gembira menatap Bun Houw.
"Baik kakak Song," jawab Bun Houw sungkan.
Wu Song kembali bertanya,
"Adik Bun kamu asli orang XIANG YANG ya, tapi kudengar logat mu berbeda..?"
Bun Houw sambil tersenyum sedih menjawab,
"Bagaimana kedua orang tua mu bisa meninggal bersamaan ?" tanya Wu Song penasaran.
"Tidak kakak Song ayahku meninggal lebih dulu, menurut cerita ibu ku ayahku di khianati teman-temannya yang iri padanya karena mendapat kepercayaan dari Tuan Sui San untuk mengurus Restoran dan Penginapan nya.
Wu Song terlihat terkejut kemudian memotong,
"Sebentar kamu lahir di XIA PI ayahmu kerja sama Sui San mengurus Restoran dan Penginapan apakah nama Restorannya Bunga Mas ?"
Dan ayahmu apakah biasanya dipanggil Paman Sie? tanya Wu Song curiga.
Bun Houw terkejut menatap Wu Song dia terlihat gemetar dia teringat waktu kecil punya seorang teman akrab.
Jangan-jangan Wu Song teman akrab masa kecilnya, cuma dia belum yakin. Sehingga hanya bisa menatap lekat-lekat wajah Wu Song, mencoba membandingkan dengan wajah teman masa kecilnya.
Sesaat kemudian Bun Houw tersadar dari lamunannya, lalu menjawab.
"Benar ayahku di tempat kerja biasanya dipanggil Axie atau Paman Xie.
Wu Song langsung memegang tangan Bun Houw dengan perasaan haru bercampur gembira dan berkata,
"Aku Song Song apakah kamu sudah lupa Siau Pai ?"
__ADS_1
Dengan diliputi rasa haru Bun Houw langsung berdiri dan merentangkan sepasang tangannya.
Kemudian Wu Song dan Bun Houw berangkulan mata dan hidung mereka basah karena rasa haru yang menyesaki dada mereka.
Sesaat kemudian Wu Song berkata,
"Ceritakan, cepat ceritakan semua tentang paman bibi dan dirimu adik Bun."
Bun Houw menatap Wu Song dengan cucuran airmata selama ini dia hanya menyimpan semua kesedihannya didalam hati.
Bahkan terhadap Yi Yi dia juga tidak pernah bercerita, dia menyimpan semua kesedihan nya seorang diri.
Setelah bertemu kembali dengan teman masa kecilnya, Akhirnya Bun Houw mengeluarkan semua kesedihan dan penderitaan yang pernah dia alami .
Bun Houw melanjutkan ceritanya,
"Ayahku mendapat kepercayaan dari Tuan Sui San mengurus Restoran dan Penginapan, maka ayahku mulai memeriksa pembukuan dan daftar tamu Penginapan.
Di sana ayah ku menemukan kejanggalan, ayahku menyelidikinya akhirnya berhasil mengumpulkan beberapa bukti kecurangan yang dilakukan temannya.
Sebelum ayahku sempat melaporkan mereka, mereka melaporkan ayahku lebih dahulu.
Ke wakil tuan Sui San.
Karena tuan Sui San sedang keluar kota mendapat tugas dari Gubernur Song Chin. Faktor ini juga bukti di tangan ayahku terlambat di laporkan.
Wakil Tuan Sui San melakukan penggerebekan dan menemukan sejumlah harta yang digelapkan teman-teman ayah yang secara diam-diam mereka letakkan di kamar kerja ayahku.
Wakil Tuan Sui San sangat marah dia menangkap ayah dan dijebloskan kedalam penjara.
Tiga hari kemudian ayahku meninggal diracun orang didalam penjara.
Setelah Turun Sui San pulang dia sangat terkejut mendengar berita kematian ayahku,
Tuan Sui San sendiri datang menemui ibuku, kemudian ibu ku memberikan semua bukti yang dikumpulkan ayah ku padanya.
Tuan Sui San sendiri yang menyelidiki dan menginterogasi kasus itu.
Akhirnya komplotan yang mencelakai ayahku semua di jebloskan ke penjara.
Sedangkan wakil Tuan Sui San karena kelalaiannya dalam menangani kasus dia dihukum cambuk 30 kali dan diturunkan pangkatnya menjadi prajurit biasa.
Ibu ku dan aku sepeninggal ayah hidup dalam kesulitan keuangan, akhirnya ibu ku jatuh sakit kemudian meninggal.
Setelah ibu ku meninggal, aku hidup sebagai gelandangan mengemis untuk mempertahankan hidup.
Suatu hari aku ditangkap oleh sekelompok preman di jual ke SHOUCHUN sebagai budak.
__ADS_1
dari SHOUCHUN aku dijual ke BEI PING sebagai pekerja paksa membangun tembok dan kanal.