LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
PEMBICARAAN SAAT MENYEBERANGI SUNGAI,


__ADS_3

Mereka bertiga kini telah berdiri di depan Wu Song dan seorang pria yang berbaju putih berkata,


"Wu Ta Sia kami sudah lama mendengar nama anda, hari ini bisa berjumpa dengan anda adalah kehormatan buat kami bertiga."


"Sayang nya ada sedikit kesalah pahaman menyangkut Sute ( adik seperguruan ) ke 5 kami dengan istri anda."


"Secara kebetulan kita bertemu di sini,


sehingga kami datang kemari untuk mengundang anda dan istri anda mengunjungi perguruan kami."


Wu Song segera berdiri dan memberi hormat sambil berkata,


"Terimakasih banyak, maaf telah merepotkan Ketiga tetua, kami memang datang kemari bertujuan mengunjungi Xu San dan membereskan masalah kesalah pahaman ini."


Su Nio langsung menjatuhkan diri berlutut didepan Ketiga tetua Xu San dan berkata,


"Murid tidak berbakti Su Nio memberi hormat pada ketiga Susiok."


Ketiga tetua Xu San menatap Su Nio sejenak, kemudian berkata dengan sedikit heran dan terkejut,


"Eh Su Nio ternyata kamu disini juga, kemana saja kamu selama ini ?"


"Kamu tidak tahu betapa khawatir nya guru mu selama ini."


Su Nio sambil menitikkan air mata berkata,


"Su Nio tidak telah membuat guru dan para Susiok risau, kepulangan Su Nio kali ini, memang bermaksud mengunjungi guru dan memohon maaf darinya."


"Tidak perlu...tidak perlu... baguslah kamu sudah pulang, mari ikut dengan kami menemui guru mu, beliau pasti akan senang sekali." ucap tetua berjenggot putih.


Lalu mereka menatap kearah pria yang ikut berlutut di sebelah Su Nio.


Mereka bertiga sangat terkejut dan mundur dua tindak kebelakang saat mengenali siapa pria tersebut.


Mereka segera cepat-cepat maju membangunkan nya dan berkata dengan penuh rasa heran dan terkejut,


"Bukankah anda Biksu Hong San Fang Cang dari Siauw Lim Si ?"


Hong San memberi hormat dan berkata,


"Ya Susiok saya memang Hong San, tapi sekarang sudah bukan Fang Cang Siauw Lim Si lagi."

__ADS_1


Ketiga tetua Xu San tidak berani banyak bertanya masalah internal Biksu Hong San, jadi mereka hanya mengangguk dan memberi hormat saja.


Tapi Su Nio langsung menceritakan secara singkat tentang keadaan Hong San suaminya saat ini, dan menceritakan bahwa kedatangan mereka juga ada maksud meminta restu Guru Pai Mei Lao Jen dan beberapa Susiok.


Untuk membantu meresmikan pernikahan mereka berdua yang sedikit telat.


Ketiga tetua saling pandang dan mereka pun tertawa bahagia


Ketiga tetua ini adalah adik seperguruan dari Pai Mei Lau Jen ( Orang Tua Beralis Putih )


Ketua Xu San saat ini.


Orang kedua di Xu San Pai adalah pria yang berjanggut putih berusia 65 tahun wajahnya sabar dan bijaksana dia adalah wakil dari Pai Mei Lau Jen, yang berjuluk Pai Hu lau Jen ( orang tua berjanggut putih ).


Orang no 3 di Xu San adalah Pai Yi Lau Jen ( Orang Tua Berbaju Putih ) berusia 62 tahun wajahnya bulat telur selalu tersenyum.


Sejak muda sampai tua dia sangat suka mengenakan baju putih.


Akhirnya orang-orang dunia persilatan memberinya julukan Pai Yi Lau Jen.


Orang no 4 di Xu San berjuluk Xu San Pai Lung ( Naga Putih Gunung Xu ) berusia 60 tahun wajahnya sabar tapi tegas.


Sedangkan tetua ke 5 yang kini telah meninggal berjuluk Xu San Pai Hu ( harimau Putih Gunung Xu. berusia 55 tahun. atau lebih terkenal dengan julukan Kun Lun lau Jen


Orangnya jujur adil dan sangat taat aturan sehingga dia diberi kepercayaan sebagai kepala bagian Hukum perguruan Xu San Pai.


Sedangkan yang saat ini datang menemui Wu Song adalah tetua no 2, 3, 4.


Wu Song dan rombongannya kini bergerak menuju Xu San mengikuti Ketiga tetua Xu San Pai tersebut.


Mereka melakukan perjalanan dengan cepat, tanpa banyak saling berbicara, mereka hanya fokus menempuh perjalanan saja.


Baru saat di perjalanan menyebrangi sungai.


Diwaktu santai duduk bersama para susiok nya, Su Nio baru menceritakan semuanya kepada ketiga Susiok nya mengenai apa yang dia ketahui dan di alami sampai tidak kembali ke Xu San selama ini.


Mendengar cerita Su Nio, Pai Lung sangat geram kepada kedua murid keponakannya Thie Mien Cin Jin dan Im Yang Cin Jin.


Pai Lung segera berkata,


"Pulang nanti aku pasti akan menghukum mereka berdua dengan berat."

__ADS_1


Pai Hu Lau Jen batuk-batuk dan berkata,


"Sebaiknya masalah ini kita langsung membawa mereka langsung menemui Suheng kita untuk mendengarkan pendapatnya."


"Tanpa bukti kuat, bahwa mereka adalah pelaku yang mencelakai Susiok sendiri, kamu langsung menghukum mereka ini pasti akan menimbulkan ketidakpuasan yang lainnya"


"Cerita Su Nio sangat masuk akal, dan mereka layak di curigai, tapi tanpa bukti jelas kita tidak bisa semena-mena menuduh tanpa bukti."


Ucapan dari Wakil ketua Xu San Pai sangat masuk akal dan bijak,. semuanya mengangguk termasuk Wu Song dan Lu Ping juga ikut mengangguk tanda setuju.


Maka Pai Lung pun hanya bisa terpaksa berkata,


"Maafkan sikap ku yang terburu-buru dan terbawa emosi tadi Ji Suheng."


Wakil ketua Xu San melambaikan tangannya dan berkata,


"Tidak perlu banyak peradatan, aku hanya mengemukakan jalan pikiran ku saja."


Wu Song kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya dan memberikan kepada wakil ketua Xu San sambil berkata,


"Aku di sini ada 2 potongan baju yang kutemukan di lokasi kejadian, mungkin bisa menjadi bukti untuk menemukan pelakunya."


"Selain itu aku juga menemukan Jarum halus ini di sekitar lokasi kejadian, pelaku ada kemungkinan orang yang biasa menggunakan senjata rahasia ini."


"Di sini juga aku ada mengambil sampel darah tetua ke 5 untuk di tes, hasilnya adalah Tetua lama terkena racun Hua Kung San, dari sebelum beliau meninggal."


"Lagipula aku sudah melakukan pemeriksaan, hasilnya Turis ke 5 bukan meninggal akibat tusukan pedang Lu Ping yang terarah ke perut.'


"tapi.oleh pukulan Cui Sin Cang yang menyebabkan jantungnya meledak."


ucap Wu Song sambil menyerahkan bukti-bukti yang dia temukan kepada wakil ketua Xu San.


Wakil ketua Xu San berkata sambil memberi hormat,


"Wu Ta Sia,.anda sungguh teliti dan tenang, aku yang tua ini sungguh salut pada mu,"


"Terimakasih banyak telah memberikan bukti-bukti penting yang anda pernah temukan di lokasi pertempuran."


Kemudian Pai Lung bergumam sendiri sambil berkata,


"Cui Sin Cang...Cui Sin Cang...Cui Sin Cang ? dimana aku seperti pernah mendengarnya."

__ADS_1


Tiba-tiba dia terbelalak menatap kedua kakak seperguruan nya, yang juga sepertinya sedang terkejut dan mereka bertiga saling menatap dengan wajah pucat.


"Dia...Dia..Dia...!' ucap Pai Lung ragu.


__ADS_2