
Mimi terbelalak menatap Wu Song dengan tatapan bengong, dia menutupi mulutnya yang terbuka dengan jari tangannya yang lentik.
Wu Song tidak memperdulikan ekspresi Mimi, dia kembali melanjutkan kata-katanya.
"Kamu tentu sebelumnya sudah dengar, Kota Ye sudah jatuh, Yalina dan Yelu Chi sekarang menjadi tawanan."
"Jadi..jadi..kamu..kamu ..ahh..! kamu.. Panglima Pasukan Jin yang dikabarkan masih sangat muda dan gagah perkasa itu.."
tanya Mimi menatap dengan tak percaya.
Wu Song tersenyum dan mengangguk.
"Jadi..kamu...kamu.. Sang legenda Pendekar Suling Hitam yang sering dibicarakan oleh seluruh rakyat Han..itu..?"
Wu Song kembali menganggukkan kepalanya.
Sepasang mata Mimi semakin terbelalak, tapi sesaat kemudian dia dengan panik dan buru-buru menarik tangan Wu Song dan berkata,
"Kamu tidak boleh ada disini..sangat berbahaya..cepat tinggalkan tempat ini..."
ucap Mimi panik sambil berusaha menarik tangan Wu Song.
Wu Song tersenyum dan menekan kedua bahu Mimi dengan lembut agar duduk kembali dengan tenang.
Tapi Mimi meronta dan menolak duduk, dia berkata.
"Kamu tidak tahu, keempat pengawal Raja Sanggha itu bukan manusia biasa."
"Kamu pasti bukan lawan mereka dan akan celaka, cepat tinggalkan tempat ini sebelum terlambat."
ucap Mimi panik, memikirkan keselamatan Wu Song yang sudah dia anggap sebagai teman baiknya.
Wu Song tersenyum dan berkata,
"Mimi kamu tenanglah duduklah dulu, dengarkan penjelasan ku dan rencana ku dulu, ok ?"
Untuk menenangkan Mini Wu Song terpaksa menunjukkan sedikit kesaktiannya, agar Mimi percaya dan tenang.
Wu Song melihat ke angkasa dia melihat ada seekor Rajawali sedang terbang berputar-putar diatas langit.
Wu Song mengulurkan tangannya menggunakan Si Sing Ta Fa. dalam sekejap burung rajawali yang sedang terbang di angkasa.
Merasa tubuhnya kehilangan keseimbangan, lalu terjatuh kebawah.
Rajawali tersebut kemudian mendarat tak berdaya ditangan Wu Song.
Ukuran Rajawali yang diudara terlihat kecil tapi setelah mendarat di lengan Wu Song, ternyata tubuhnya jauh lebih besar dari Wu Song.
Hampir dua kali lipat tubuh Wu Song, Wu Song tersenyum santai kemudian membelai kepala Rajawali yang terlihat jinak.
__ADS_1
Padahal kenyataannya bukan jinak tapi lebih tepatnya tidak berdaya.
Setelah Wu Song melepaskan daya sedotannya dan mengibaskan tangannya keatas udara.
Rajawali itu dengan terburu-buru terbang menjauhi Wu Song, saking buru-buru nya, Rajawali tersebut sampai lupa mengeluarkan pekik nyaringnya.
Baru setelah terbang sangat jauh dari tempat tersebut baru terdengar suara pekikan Rajawali itu yang samar-samar.
Mimi semakin terbengong-bengong dibuatnya dia seperti sedang menonton sulap, tapi ini jauh lebih nyata dan lebih hebat dari sulap manapun.
"Mimi ...!"
tegur Wu Song sambil tersenyum lembut dan melambaikan tangannya didepan Mimi.
Mimi pun kembali tersadar wajahnya menjadi merah karena malu.
Wu Song tidak mau membuat Mimi malu dan salah tingkah.
Jadi dia langsung berkata,
"Mimi percaya lah pada ku, asal kamu mengikuti semua rencana dari ku."
"Aku berani jamin kamu pasti akan bisa pulang ke suku mu dengan selamat tanpa kurang apapun, begitu pula dengan suku mu."
Mimi menatap Wu Song dengan penuh harap dan menganggukkan kepalanya sambil berkata,
"Baiklah aku akan menurut padamu, katakanlah apa yang harus kulakukan..?"
Wajah Mimi sebentar merah sebentar pucat.
Tidak ada yang tahu apakah karena rencana Wu Song, yang harus dia jalani yang membuat wajahnya berubah-ubah ekspresi nya.
Atau karena akibat hembusan nafas hangat dari Wu Song ditelinga nya, sehingga membuat dirinya terlena dan tersipu malu.
Setelah menyampaikan rencana yang harus di lakoni oleh Mimi, Wu Song pun pamit kembali ke kamarnya.
Mimi mengangguk sambil tersenyum lembut penuh rasa terimakasih kepada Wu Song.
Keesokan sorenya, sehabis bermain suling dan bernyanyi bersama, Mimi membuka pintu kamar nya membiarkan Wu Song masuk kedalam kamar nya.
Sesaat kemudian dari dalam kamar Mimi, di mana diatas tempat tidur Mimi yang tertutup tirai korden tipis.
Terlihat Mimi seperti sedang naik kuda, sambil mengeluarkan suara erangan dan rintihan yang berulang-ulang dengan suaranya yang merdu dan menimbulkan sensasi erotis.
Beberapa pelayan yang ditempatkan permaisuri sebagai mata-mata, segera bergegas pergi melaporkan hal ini kepada permaisuri.
Mendengar hal ini, dengan sangat terburu-buru Permaisuri langsung pergi menghadap Raja Sanggha.
Raja Sanggha yang sedang sibuk merundingkan strategi bersama para bawahannya, untuk menyerang dan mengambil kembali kota Ye dari pasukan Jin.
__ADS_1
Awalnya agak marah, dan kesal dengan sikap Permaisuri yang memaksa ingin bertemu dengan nya saat itu juga.
Tapi dia tidak bisa menolaknya begitu saja, akhirnya dengan wajah kesal dia membubarkan acara perundingan tersebut.
Dan bergegas menemui Permaisuri yang menunggunya diruang terpisah.
"Ada apa kamu mendadak memaksa bertemu dengan ku, apa kamu tidak tahu aku sedang sibuk berunding urusan negara dengan bawahan ku."
ucap Raja Sanggha marah dan tidak puas begitu dia bertemu Permaisuri.
Permaisuri menghela nafas panjang dan berpura-pura sedih sambil berkata,
"Bila bukan karena masalah selir kesayangan mu itu, aku juga tidak akan mau capek-capek datang kesini hanya untuk menerima kemarahan mu."
Mendengar itu masalah Mimi, wajah Raja Sanggha pun sedikit melunak dan berkata,
"Ada apa dengan Mimi ?"
tanya raja Sanggha khawatir.
"Ahhh..! lihat dirimu begitu mengkhawatirkannya, dia malah berbuat begitu di belakang mu, aku benar-benar merasa tidak pantas untukmu."
"Apa...apa maksud mu ?"
"Jelaskan yang jelas ?"
ucap raja Sanggha gugup panik dan mulai terpancing.
Sambil pura-pura sedih, padahal hatinya sangat gembira dia segera berkata,
"Dari pada mendengar nya dari mulutku, dan kamu belum tentu percaya.."
"Ayo sekarang kamu ikut dengan ku, kesana melihat nya dengan mata kepala mu sendiri."
Setelah berkata Permaisuri langsung berjalan meninggalkan ruangan tersebut, pergi menuju ke istana tempat tinggal selir Mimi.
Raja Sanggha mengikutinya dari belakang dengan wajah cemas dan sedikit panik.
Begitu masuk kedalam kediaman selir Mimi, para pelayan dan pembantu disana sangat terkejut dan ingin berteriak memberitahukan kedatangan raja Sanggha dan permaisurinya.
Tapi gerakan mereka terhenti saat melihat kode dari Permaisuri dan raja Sanggha yang meminta mereka diam.
Permaisuri berjalan didepan sambil tersenyum jahat, menuju kamar Mimi yang terletak di samping taman.
Sampai di sana mereka langsung mendengar suara rintihan dan erangan lembut bercampur nafas memburu dari Mimi.
Wajah raja Sanggha sebentar pucat sebentar merah, matanya melotot seperti akan meloncat keluar dari lubang nya.
kedua tangannya terkepal erat erat menahan geram dan kemarahan nya.
__ADS_1
Selama bersamanya, dia tidak pernah mendengar Mimi mengerang dan merintih sepuas ini.