
Yi Dao dan seluruh pasukan yang berada di atas pagoda tewas dengan dada tertembus energi pedang yang di lepaskan oleh kakek tua yang membawa sebatang kebutan ditangannya.
Kakek tua berjenggot panjang itu, menahan serangan Shi Ma Ong dengan kebutan yang di pegang di tangan kanan.
Sedangkan tangan kirinya Melesatkan energi pedang yang halus kecil-kecil menembus jaring dan dada Yi Dao dan para pengawalnya hingga tewas.
Kakek tua berjenggot putih itu dengan ringan memikul tubuh Yang Jian di pundaknya, lalu melesat kearah menara pagoda.
Dengan sekali kibas maka terbukalah Tirai pelindung menara pagoda.
Lalu dia mengebutkan dua kali kebutannya, kearah ikatan tangan yang membelenggu kedua tangan Yi Yi dan Thian San.
Lalu dia menggandeng tangan Yi Yi dan Thian San, lalu terbang meninggalkan tempat itu dengan santai.
Tidak ada yang bisa mencegahnya, semua terdiam menatap kepergian kakek tua berjenggot panjang itu.
Di sebuah pondok sederhana yang berada di salah satu puncak pegunungan Thian yang sepi.
Terlihat seorang kakek tua sedang menotok tubuh seorang pemuda yang terlihat duduk bersila, tanpa mengenakan baju.
Kakek itu menjejalkan beberapa butir pil berwarna pelangi kedalam mulut pemuda tersebut.
Lalu dia kembali mengurut dan menotok punggung dan dada pemuda tersebut.
Kakek itu kemudian menempelkan telapak tangannya di kepala pemuda itu.
Dari kepala kakek tua itu dan kepala pemuda itu mengeluarkan asap putih tipis.
Di sisi kedua orang itu duduk seorang wanita cantik yang menatap dengan cemas kearah kedua orang itu, sambil memeluk seorang bocah berusia kurang lebih 6 tahun.
Bocah itu tidak bersuara hanya terus menatap kearah pemuda tampan yang sepasang matanya tertutup rapat.
Kakek tua yang sedang mengobati pemuda itu adalah Thian San San Jen.
Dia adalah salah seorang sesepuh perguruan Thian San yang sudah berusia 500 tahun lebih.
Dia adalah guru yang mewariskan berbagai kesaktiannya kepada Yang Jian.
Yang Jian yang waktu itu sedang membawa pulang ketujuh tetua Thian San dan ayahnya yang terluka akibat melawan Wu Song.
Ketika sedang melakukan pendakian menuju Thian San Pai.
Dia di hadang oleh badai salju, dengan susah payah akhirnya dia bisa membawa ke 7 paman bibi dan ayahnya, berteduh di sebuah gua alam yang dia temukan.
Karena perjalanannya terhalang oleh badai salju, selama hampir 3 hari.
__ADS_1
Yang Jian menggunakan waktunya yang santai untuk memeriksa keadaan gua alam tersebut.
Secara tidak sengaja dia pun berjumpa dengan gurunya saat ini, Thian San San Jen yang sedang bermeditasi..
Thian San San Jen masih merupakan salah seorang sepuh perguruan Thian San yang telah lama mengasingkan diri.
Setelah badai mereda Thian San kemudian mengantar tujuh paman bibi nya dan ayahnya kembali ke Thian San Pai
Setelah itu dengan penasaran dia kembali ke gua tersebut, karena ketulusan dan kegigihannya, Thian San San Jen kemudian menerimanya sebagai murid.
Setelah berhasil menamatkan seluruh latihannya, Thian San San Jen sebenarnya jauh-jauh hari sudah memberitahu muridnya mengenai musibah yang bisa di alaminya.
Bila dia nekad turun gunung sebelum lewat 7 tahun.
Tapi Yang Jian tetap nekad dan tidak terlalu mempercayai tentang ramalan, menurutnya nasib berada di pilihan manusia itu sendiri tidak ditentukan oleh takdir.
Pemuda yang sedang di obati oleh Thian San San Jen, akhirnya perlahan-lahan menggerak-gerakkan bulu matanya.
Bersamaan dengan itu, Thian San San Jen juga menarik kembali tangannya dari kepala pemuda itu.
"Anak bodoh yang keras kepala, sedikit saja aku datang terlambat nyawa mu tentu akan melayang sia-sia di sana."
ucap Thian San San Jen mengomeli Yang Jian muridnya.
Yang Jian yang mendengar nya berusaha tersenyum, tapi karena rasa nyeri di lubang matanya belum hilang dia malah terlihat sedang meringis.
"Yang Ta Ke bagaimana keadaan mu saat ini.."
terdengar suara lembut Yi Yi yang bertanya dengan cemas.
Mendengar suara tersebut sepasang mata Yang Jian yang tertutup sedikit bergerak-gerak, dan bertanya,
"Yi Yi kamu kah di sana..."
ucap Yang Jian sambil mengulurkan tangannya kearah suara lembut yang sangat dia hapal itu.
Yi Yi segera menyambut uluran tangannya dan berkata,
"Ya..ya..ini aku Yi Yi.. maafkan aku Yang Ta ke."
"Gara-gara aku kamu jadi seperti ini.."
Yang Jian menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak ini bukan salah mu, ini murni pilihan ku sendiri, tidak ada hubungannya sama sekali dengan mu."
__ADS_1
"Yi Yi San er..San er bagaimana ? di mana dia sekarang ?"
tanya Yang Jian cemas.
"Kakak tampan.. aku di sini...aku baik-baik saja..kakak jangan cemaskan aku."
ucap Thian San menahan Isak melihat keadaan kakak tampan nya saat ini.
"Thian San anak baik.. jangan menangis..anak baik.."
ucap Yan Jian sambil mengulurkan tangannya yang lain membelai kepala Thian San.
Meski tidak bisa melihat, tapi melalui pendengaran nya yang tajam, Yang Jian bisa menebak posisi kepala Thian San dengan tepat.
Yang Jian menggenggam tangan Yi Yi yang lembut dengan erat, dan membelai kepala Thian San dengan penuh kasih sayang.
Kakek tua itu tersenyum dan berkata,
"Kalian lanjutkan, aku mau kembali ke gua melanjutkan meditasi ku."
Yi Yi maju duduk merapat Kearah Yang Jian dan berkata,
"Yang Ta Ke mengapa kamu begitu bodoh, aku tidak pantas mendapatkan pengorbanan mu yang seperti ini."
Yang Jian menggenggam tangan Yi Yi dengan hangat dan berkata,
"Kamu selalu mengatakan dirimu tidak pantas dan tidak berharga, kini dengan kondisi seperti ini, akulah yang sekarang tidak pantas bersanding dengan mu."
"Bila kamu tidak berkeberatan merawat dan menjaga pria buta ini, jadilah istri ku Yi Yi, biar kita besarkan San er bersama."
"San er mau kah kamu menjadi putra kakak buta ini ?"
tanya Yang Jian tulus kearah Thian San.
Yang Jian tahu persis bila Thian San tidak setuju, maka seumur hidup dia hanya akan bisa menjadi penjaga dan pelindung ibu dan anak ini saja.
Thian San cepat memegang tangan Yang Jian, kemudian dia langsung memeluk Yang Jian dan berkata dengan gembira
"Ayah..ayah.! ibu, San er mulai hari ini akan punya ayah yang menyayangi dan melindungi San er, ibu.."
Yi Yi sangat terharu dia juga dengan sedikit malu-malu maju memeluk Yang Jian dan berkata,
"Maafkan kebodohan ku selama ini Yang ke ke, aku sangat bodoh menyia-nyiakan sebuah permata di depan mata dan pergi memilih batu sungai."
"Mulai hari ini aku Yi Yi akan mengikuti mu kemanapun Yang ke ke ingin pergi, sampai Yang ke ke tidak menghendaki ku lagi."
__ADS_1