
Baik bayangan suling maupun bayangan Tapak Budha sama-sama lenyap tak berbekas saling menetralisir.
Dua sosok tubuh kembali terlempar mundur kedua sisi berbeda dengan jarak yang semakin jauh.
Wu Song tidak punya pilihan saat melihat biksu Hui Neng sepertinya masih memilki satu jurus lagi yang belum dia lepaskan.
Wu Song terpaksa merentangkan sepasang tangannya melayang menembus awan merapal jurus ke sembilan Naga Siluman menyerap kekuatan semesta, sambil mengerahkan ilmu kekekalan semesta untuk mengimbangi kekuatan dan efek samping jurus ke 9 nya.
Berbagai kekuatan semesta terserap kedalam tubuhnya tubuhnya membesar dan terus membesar seperti balon yang ditiup.
Sedangkan biksu Hui Neng terlihat mulutnya berkomat-kamit seperti sedang membaca Parita.
Tubuhnya bergetar hebat lalu muncul 3 bayangan Budha raksasa di belakang tubuhnya.
Bayangan Budha sebelah kanan terlihat Budha sedang tertawa gembira, bayang Budha bagian tengah terlihat Budha sedang tersenyum lembut penuh ketenangan dan welas asih,. sedangkan bayangan Budha sebelah kiri terlihat wajah Budha sedang marah dan bersedih sepasang alisnya berdiri.
Ketiga bayangan Budha bergerak menyerang Wu Song dari tiga arah seperti akan menepuk seekor lalat sampai gepeng.
Bayangan Budha sebelah kanan menyarangkan tapak es,. sedangkan bayangan Budha sebelah kiri menyarangkan tapak api.
Budha bagian tengah menyarangkan tapak bercahaya putih menyilaukan penuh kelembutan dan welas asih.
Wu Song yang sedang menyerap kekuatan semesta akhirnya berubah menjadi sebuah bola dunia perlahan-lahan turun.
Menerima hantaman ketiga tapak itu kemudian menyerap nya lalu melontarkannya kembali berikut kekuatan alam semesta yang dia hisap.
Terjadi ledakan yang sangat dahsyat saat semua kekuatan yang terserap oleh Wu Song di lontarkan kembali .
Tiga bayangan Budha hancur tak berbekas tubuh biksu Hui Neng terpental menabrak tebing batu yang bergetar hebat.
Sedangkan tubuh Wu Song masih melayang di udara dan telah kembali ke ukuran normal nya.
Wu Song terlihat baik-baik saja dari tubuhnya kini juga mengeluarkan cahaya lembut yang terpancar karena pengerahan ilmu kekekalan semesta.
Biksu Hui Neng berlutut dengan sebelah kaki memuntahkan darah segar, setelah menghapus noda darah di ujung bibirnya dia berkata,
"Anak muda kamu sungguh luar biasa saya yang tua ini menyerah kalah."
"Kamu saya ijinkan membawa biksu Hong San pergi dari sini, tolong sampaikan kepada nya kedepannya semua tindak tanduknya tidak ada hubungannya dengan Siauw Lim Si lagi."
"Dia bukan murid Siauw Lim Si lagi."
Wu Song mengangguk dan berkata,
"Terimakasih guru besar,. saya akan menyampaikan padanya."
__ADS_1
"Ini sebagai ganti rugi kerusakan kuil."
ucap Wu Song sambil mengeluarkan dua tumpukan emas.
Yang merupakan sebagian kecil harta Karun yang dia peroleh di neraka perut bumi dulu.
Wu Song sekali lagi memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangannya didepan dada dan sedikit membungkuk.
Kemudian melesat pergi meninggalkan Lokasi pertempuran yang kini terlihat sangat kacau dan berantakan.
Wu Song langsung bergerak menuju sebuah pondok sederhana yang terletak di lereng gunung Xiong.
Wu Song kemudian mendarat ringan di depan rumah In Su Nio yang sederhana.
Wu Song berteriak dari depan rumah,
"Paman Bibi aku sudah datang menjemput kalian.!!"
Hong San dan Su Nio yang sedang berpelukan mesra terkejut saat mendengar suara teriakan Wu Song di depan rumah.
Mereka berdua buru-buru keluar dari dalam kamar mereka, saat pintu rumah terbuka mereka melihat Wu Song sedang berdiri santai menatap mereka berdua sambil tersenyum.
Wu Song pun berkata,
"Karena paman bukan lagi murid Siaiw Lim Si lagi.'
Mendengar kata-kata itu Biksu Hong San dengan wajah pucat dan sedih berjalan kearah halaman rumah.
Lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap kearah puncak Xiong San kemudian membenturkan dahinya sebanyak 3 kali diatas tanah.
Sambil membenturkan dahinya biksu Hong San berkata,
"penghormatan pertama untuk Budi Siauw Lim Si membesarkan murid."
"Penghormatan kedua untuk Budi Siaw Lim Si mengajarkan ilmu bela diri."
"Penghormatan Ketiga umtuk budi Siaw Lim Si memberikan kepercayaan kepada murid menjadi Fang Cang."
"Maafkan murid yang tidak berbakti telah mengecewakan Budi besar Siauw Lim Si selama ini kepada murid."
"Meski aku Yap Hong San kini bukan lagi murid Siauw Lim Si lagi, tapi selamanya aku tidak akan melupakan Budi baik Siauw Lim Si kepada ku."
Setelah menutup ucapan nya Hong San baru bangun berdiri di bantu oleh In Su Nio.
Wu Song kagum dengan sikap teguh Hong San,.sambil tersenyum Wu Song berkata,
__ADS_1
"Ayo paman Hong San bersiap-siaplah kita akan segera melakukan perjalanan menuju Xu San."
"Agar paman bisa secara resmi melamar bibi Su Nio." ucap Wu Song menggoda mereka.
Muka kedua orang itu menjadi merah, tapi mereka berdua saling menatap dan tersenyum bahagia.
Sesaat kemudian terlihat Hong San dan Su Nio perlahan-lahan berjalan menuruni lereng gunung Xiong, mengikuti Wu Song dari belakang.
Tiba di kaki gunung Hong San di sambut oleh seluruh murid Siaiw Lim Si yang berlutut di hadapannya, termasuk ketiga Sutenya
Hong Ti, Hong Sin, Hong Kun.
Hong San Kemudian mempersilahkan mereka semua untuk berdiri.
Perpisahan terakhir dilakukan dalam suasana yang mengharukan.
Setelah acara perpisahan tersebut, semua murid Siauw Lim Si dipimpin oleh Hong Ti bergerak menuju puncak gunung Xiong.
Wu Song membawa Hong San dan Su Nio menuju penginapan di kaki gunung Xiong menemui istrinya Lu Ping dan Cun Ming.
Lalu rombongan kecil itu bergerak menuju arah He Nan untuk pergi ke Xu San yang terletak di perbatasan barat pengunungan Kun Lun yang berbatasan dengan gunung Himalaya.
Sementara Wu Song dan rombongannya sedang melakukan perjalanan ke gunung Kun Lun.
Biksu Hui Neng di puncak gunung Xiong berjalan tertatih-tatih memasuki gua.
Tapi sebelum masuk kedalam gua terdengar suara di belakangnya berkata,
"Biksu Hui Neng apa kabar ? Anda baik-baik saja kan ?"
Biksu Hui Neng tersentak mendengar suara tersebut dia segera membalikkan badannya menatap orang yang barusan menegurnya.
Dengan sorot mata tajam penuh waspada dan dahi berkerut, kemudian bertanya
"ada keperluan apa lagi anda datang kemari.?"
"Apa belum cukup kamu merasakan Tapak Budha,? apa anda ingin mencobanya kembali.?"
Orang itu hanya menanggapinya dengan suara tertawa keras.
"Ha..ha..ha..ha..hahaha...!!"
Suara tertawa yang disertai energi Chi dan aura mencekam yang kuat.
Membuat tubuh biksu Hui Neng yang tidak dalam kondisi Fit tergetar mundur beberapa langkah.
__ADS_1