
Melihat kondisi istrinya Yue Fei buru-buru maju memapahnya dan bertanya,
"Kamu kenapa sayang kenapa bisa seperti ini ?"
Sin Yi tersenyum lembut meski wajahnya masih pucat, kemudian dia berkata,
"Aku tidak apa-apa, cuma kehabisan tenaga saja."
"Tapi aku sudah membantu mu membereskan tua bangka, yang mengejar mu."
Yue Fei terbelalak tak percaya dan bertanya ulang,
"Maksudmu kamu sudah menewaskan jendral He Wan ?"
Sin Yi duduk diatas kasur dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan bangga.
Yue Fei meninju telapak tangannya sendiri, dan berkata,
"Bagus...!"
Dia terlihat sangat puas, otaknya yang cerdik terus berputar memikirkan apa yang harus di lakukan, memanfaatkan momen ini.
Sepasang matanya berputar-putar, tiba-tiba dia menjentikkan jarinya dan sambil tersenyum senang dia berkata,
"Istri ku terima kasih, kamu istirahat dengan baik, aku mau pergi sebentar."
Sin Yi menahan tangan suaminya dan bertanya dengan cemas,
"Kamu mau pergi kemana ? luka mu belum sembuh.."
Yue Fei tersenyum kemudian memegang tangan istrinya dan menciumnya.
Kemudian berkata.
"Sayang kamu tenang saja, aku tidak akan menggunakan otot hanya menggunakan otak."
Sin Yi tetap terlihat khawatir dan dia cepat-cepat berkata,
"Aku ikut ya...?"
Yue Fei tersenyum lembut dan mencium dahi istrinya dan berkata.
"Menurut lah sayang, kamu istirahat pulihkan tenaga mu, pertempuran kita masih panjang."
"Aku masih sangat membutuhkan dukungan mu di pertempuran berikutnya."
"Percayalah, kita akan segera berkumpul kembali di kota Wan."
Sin Yi masih ingin membantah, tapi Yue Fei , menutup mulutnya dengan sebuah ciuman.
Sehingga dia pun lemas membiarkan Yue Fei membaringkannya diatas kasur.
Sesaat kemudian terlihat Yue Fei berjalan keluar dari dalam tenda, dan berkata,
"Jaga atasan kalian baik-baik jangan biarkan dia kemana-mana."
Kedua gadis Muda yang berjaga didepan tenda Sin Yi pun mengangguk.
__ADS_1
Yue Fei langsung berjalan menuju ruang tahanan, dia memberikan sebungkus Hua Kung San kepada penjaga ruang tahanan.
Kemudian berkata,
"Berikan kepadanya campur dengan minuman, jangan lepaskan jala dan ikatannya."
"Tambahkan ikatan tidak apa-apa, setelah itu bawa dia ke kereta perang."
"Gunakan kereta Jendral He Wan."
Setelah memberi pesan, Yue Fei bergegas menuju gerbang Wu Kuan, memeriksa mayat jendral tua He Wan,
Kemudian dia berkata kepada bawahannya,
"Bawa dan dudukan di kereta perang miliknya, nanti biarkan dia duduk memangku tawanan kita."
"Kalian semua cepat berganti dengan seragam Pasukan musuh."
"Sekarang juga ikut dengan ku menuju kota Wan, panji-panji yang berserakan jangan lupa di bawa."
"Ingat tunjukkan kondisi kalian seperti kelelahan kehabisan tenaga, saat berada di depan gerbang Wan, paham..!"
Bawahan Yue Fei mengangguk, kemudian mereka bergegas menjalankan perintah Yue Fei barusan.
Setelah itu tak lama kemudian Rombongan Yue Fei tiba di depan gerbang kota Wan.
Yue Fei yang menyamar sebagai kusir kereta Jendral He, memajukan kereta mendekati gerbang Utara benteng Wan.
Yue Fei berteriak keatas benteng.
"Cepat buka pintu Jendral tua dan tuan muda He Siong terluka parah, perlu pengobatan."
Sesaat kemudian mereka menghilang, lalu kembali lagi dengan jumlah orang yang lebih banyak.
Di sana terlihat Jendral He San , yang juga melihat kearah kereta untuk memastikan apa yang dikatakan Oleh kusir kereta, hasil penyamaran Yue Fei.
Untuk meyakinkan He San, Yue Fei membuka tirai kereta, sehingga dapat terlihat Jendral He Wan yang sedang duduk bersandar dengan mata tertutup, dengan sekujur tubuh mengalami luka-luka.
Di pangkuannya terbaru g He Siong, yang dalam keadaan terikat.
Jendral He San mengerutkan alisnya dan bertanya,
"Kenapa cucu keponakan ku, kamu biarkan terikat ?"
Yue Fei pura-pura berdecak kesal,
dan berkata.
"Tuan Jendral cepatlah buka gerbang sebelum terlambat, lihat luka Tuan Jendral besar sangat parah perlu penanganan secepatnya."
"Kami mana ada waktu melepaskan ikatan tuan muda, seluruh tubuhnya dipenuhi mata pancing, bila tidak hati-hati kami bisa membuatnya terluka parah."
He Siong yang terikat sangat sedih, saat menyadari kakeknya yang memangkunya telah meninggal.
Dia semakin marah, saat mengetahui Yue Fei menggunakan dirinya dan kakeknya untuk menipu kakek pamannya He San agar bisa masuk melewati gerbang kota.
Tapi dia tidak bisa bersuara, karena syaraf gagunya ditotok oleh Yue Fei.
__ADS_1
Dia hanya bisa mempelototi punggung Yue Fei yang licik dengan penuh kebencian.
Dalam pandangan He Siong yang masih anak-anak, Yue Fei adalah seorang penjahat licik curang dan memalukan.
Tapi dia tidak tahu kenyataan perang, inilah realita perang yang di sebut taktik perang.
Yue Fei secara pribadi juga tidak suka melakukan hal ini, tapi dia tidak punya cara lain.
Bila ingin memenangkan pertempuran.
Tanpa banyak jatuh korban jiwa, terutama di pihaknya, maka jalan seperti inilah satu-satunya yang harus di gunakan dalam peperangan.
Bukan seperti yang di lakukan oleh Alung, yang akhirnya membawa seluruh bawahan nya ikut mati bersamanya.
He San terlihat ragu, dan sedikit bimbang
Sesaat kemudian dia berkata,
"Siong Er ini kakek paman bagaimana kondisi mu...?"
Yue Fei mengutuk ketelitian mahluk tua yang cerewet itu.
Yue Fei terpaksa menggunakan suara perutnya meniru suara He Siong yang terbata-bata berkata,
"Aduhhh... ! Sakit...! kakek paman tolong aku...!"
Mendengar suara cucu keponakannya, hati He Wan langsung luluh.
Tanpa pikir panjang lagi dia berkata,
"Bukaaa... Pintu....Gerbang....!!"
Pasukan penjaga gerbang langsung membuka pintu gerbang, menurunkan jembatan penyeberangan.
Yue Fei akhirnya bisa bernafas dengan lega, dia pun memajukan kereta nya memasuki kota Wan.
Di ikuti oleh pasukannya yang menyamar berjalan dengan lesu dan tertatih-tatih memasuki gerbang kota.
Begitu memasuki gerbang kota mereka bertindak sigap dengan gesit langsung melumpuhkan para penjaga pintu gerbang dan jembatan.
Setelah itu semua pasukan Rajawali Merah langsung menyerang keatas benteng.
Karena kurangnya persiapan dan terkejut, akhirnya Pasukan Rajawali Merah berhasil menguasai tembok benteng kota Wan.
Dan menewaskan Jendral He San di bawah kepungan mereka yang menggunakan formasi.
Di bantu dengan Yue Fei yang melepaskan panah dari tempat tersembunyi.
Setelah dua anak panah menancap di paha dan bahunya.
membuat Jendral He San kehilangan fokus dalam bertempur.
Sehingga akhirnya tewas di bawah hujan tombak Pasukan Rajawali Merah dari berbagai arah.
Dengan membawa dua kepala He Wan dan He San, maka patahlah perlawanan Pasukan penjaga kota Wan.
Sebanyak 150.000 Pasukan yang masih berada di barak militer, menyerahkan diri, tanpa perlawanan.
__ADS_1
Mereka semua di isolasi dan di jaga ketat oleh pasukan Rajawali Merah, semua persenjataan di sita.
Sedangkan He Siong yang berbahaya di jebloskan ke penjara, bersama keluarganya di kamar tahanan terpisah.