
Saat ini sudah memasuki musim dingin salju mulai turun.
Ceng Ceng berdiri di depan jendela kamar tempat Wu Song biasanya bekerja.
Dia terlihat termenung menatap salju putih yang beterbangan dihalaman.
Seperti sedang mengenang sesuatu.
Perlahan-lahan airmata mulai menetes membasahi sela pipinya.
Sambil menghela napas panjang dan mengelus perutnya yang besar dan sedikit tertunduk dia berkata pada bayi yang dikandungnya.
"Anak ku sayang, entah bagaimana kabar ayahmu saat ini..?"
Ceng Ceng termenung menatap salju yang beterbangan turun dari langit kemudian berkata,
"Musim salju sudah datang, entah bagaimana keadaan ayahmu saat ini diluar sana..?
Semua ini salah ibu nak, ibu yang egois sehingga melibatkan ayahmu."
Dengan suara sedikit bergetar karena sedih dan menyesal Ceng kembali berkata,
"Bila ibu mu waktu itu bisa mengendalikan perasaan ibu, dan tidak terus menerus mendekati dan menggoda ayahmu."
"Tentu saat ini hidup ayahmu akan baik-baik saja dan masih bekerja di ruangan ini."
"Bila sampai terjadi sesuatu pada ayahmu ibu akan menyesal seumur hidup nak."
"Thian lindungilah dia jangan sampai terjadi sesuatu dengan dirinya.
Aku rela menukar seluruh umurku yang tersisa yang penting dia bisa selamat dan berada dalam keadaan baik-baik saja,"
"Maafkan keegoisan ibu nak, ibu telah menyusahkan kalian ayah dan anak,"
ucap Ceng Ceng sambil menengadah menatap langit, airmata terilhat berlinang membasahi wajahnya.
Wu Song mendengar semua kata-kata yang diucapkan istrinya barusan.
Wu Song dalam hati berpikir dalam setengah tahun ini begini kah cara istri nya yang sedang mengandung melewati hari-hari nya.
Wu Song sangat menyesal semua kejadian ini terjadi karena kelemahan dan kebodohannya melewatkan kesempatan mempelajari ilmu silat dari gurunya.
Sehingga tidak dapat melindungi dan menjaga istri yang sangat mencintainya ini.
Rasa haru menyesaki dada Wu Song, Wu Song pun melayang turun dari sebuah pohon kemudian berjalan menuju kamar yang jendelanya sedang terbuka.
Sambil berjalan mendekati jendela kamar tersebut dia berkata,
__ADS_1
"Maafkan aku istri ku, kamu tidak bersalah kamu sudah berkorban terlalu banyak untuk mempertahankan cinta kita."
"Akulah yang lemah tidak bisa menjaga mu sehingga membuat mu harus mengalami penderitaan dan kesedihan selama ini."
Begitu mendengar suara tersebut tubuh Ceng Ceng bergetar hebat, dia menatap kearah asal suara dengan perasaan tidak percaya.
Ceng Ceng cepat-cepat berlari keluar kamar sambil memegang perutnya yang besar.
Sampai didepan pintu kamar Ceng Ceng berdiri mematung menatap sosok yang berdiri dihadapan nya.
Ketika sosok itu membuka lebar sepasang tangannya, Ceng Ceng langsung menghambur kedalam pelukan sosok itu sambil menangis tersedu-sedu.
Sambil terbata-bata Ceng Ceng berkata,
"Aku...tidak ..sedang bermimpi kan Song ke ke..? kamu masih hiduplah..? ini benar kamu..? jangan mempermainkan perasaan ku..lagi...? aku sudah tidak...sanggup hidup...
seperti ini ...lagi..."
Sambil merangkul erat istrinya dan mengelus punggung istrinya dengan penuh kasih sayang yang dipenuhi kerinduan mendalam Wu Song berkata,
" Tidak sayang, kamu tidak sedang bermimpi ini beneran aku."
"Kedepan nya aku akan melindungi mu, dan tidak akan membiarkan siapapun membuat mu mengalami penderitaan seperti saat itu lagi."
Sambil menangis Ceng Ceng berkata,
"Tidak perduli berapa besar penderitaan yang harus kualami, semua terlihat pantas saat ini."
Wu Song sangat terharu airmatanya juga mengalir turun disela-sela pipinya.
Wu Song mencium lembut kepala Istrinya, kemudian berbisik.
"Sayang kita harus pergi menemui kakek dan mengucapkan terima kasih pada nya."
Ceng Ceng mengangkat kepalanya dan tersenyum bahagia menatap Wu Song meski wajahnya masih dipenuhi airmata.
Wu Song menghapus nya dengan lembut menggunakan jari jempolnya.
Sambil tersenyum menggoda Wu Song berkata,
"Jangan nangis lagi sayang, nanti kakek bisa mengira aku menyiksa cucu nya sampai menangis."
"Padahal kan cuma sekali aku membuatmu berkeringat dan menangis waktu di malam...."
ucap Wu Song tersenyum nakal menggoda Ceng Ceng.
Wajah Ceng Ceng menjadi merah, dia mencubit pinggang Wu Song dengan gemas menutupi perasaan malunya.
__ADS_1
Sambil menjerit-jerit dan tertawa-tawa Wu Song mengajak Ceng Ceng jalan menuju kamar kakeknya.
Sampai didepan kamar kakeknya Ceng Ceng mengetuk pintu sambil memanggil,
Kakek...kakek...kakek.. apa kamu sudah tidur..? Ini aku Ceng Ceng kek..."
Terdengar sebuah suara yang sangat familiar bagi Wu Song,
"Tunggu ...bentar..."
Kemudian pintu pun terbuka Si Ma Jian terbelalak menatap Wu Song dengan tidak percaya.
Dia benar-benar tidak menyangka bisa melihat Wu Song lagi.
Berbeda dengan Ceng Ceng yang masih terus berharap bisa bertemu Wu Song, karena sebenarnya Ceng Ceng tidak pernah mengetahui kabar kematian Wu Song yang dibuang pasukan Si Ma Ong kedalam jurang.
Si Ma Jian sengaja merahasiakan hal ini dari Ceng Ceng dan berpesan keseluruh pelayan dan pengawal dirumahnya harus merahasiakan berita kematian Wu Song dari Ceng Ceng.
Dia khawatir bila Ceng Ceng sampai tahu kabar itu, akan mempengaruhi jiwa dan keselamatan Ceng Ceng serta calon cucu buyutnya itu.
Jadi Saat ini melihat Wu Song berdiri dihadapannya dalam keadaan baik-baik saja sambil berangkulan mesra dengan Ceng Ceng dan tersenyum kepadanya.
Si Ma Jian benar-benar dibuat terkejut dan sulit mempercayai nya.
Wu Song kemudian berlutut dihadapan Si Ma Jian sambil berkata,
"Kakek maafkan saya yang telah mengecewakan harapan mu padaku, aku tidak melindungi Ceng Ceng dengan baik dan membuatnya menderita."
Si Ma Jian cepat-cepat maju membangunkan Wu Song sambil berkata,
"Cucu mantu ku yang baik, ini bukan salahmu...ini jelas bukan salahmu kamu yang seorang sastrawan mana bisa menghadapi pasukan kerajaan yang berjumlah banyak itu."
'Sekarang kamu tenang saja, semua kekacauan yang di timbulkan oleh ketamakan ayah ibu Ceng Ceng sudah dibereskan oleh gurumu."
"Kenapa dari awal kamu tidak menjelaskan gurumu adalah Dewa Perang Lu Sun yang namanya seperti legenda itu..?"
Si Ma Jian menggandeng tangan Wu Song masuk ke kamarnya mempersilahkan Wu Song duduk dan menjelaskan semuanya.
Wu Song menarik kursi dan dengan hati-hati membantu Ceng Ceng duduk terlebih dahulu.
Setelah itu sambil menggenggam tangan Ceng Ceng Istrinya dengan mesra Wu Song mulai bercerita,
Bahwa dia dari kecil tidak bersedia belajar ilmu silat, karena dia membenci ilmu silat kekerasan. Yang membuat ibunya meninggal dan disusul ayahnya ketika dia masih kecil.
Wu Song pun mengakui ibunya adalah Dian Sin Lan salah satu jendral wanita kepercayaan asisten Jendral Naga Hitam Song Chin.
Sedangkan ayahnya adalah orang kepercayaan Gurunya Sang Jendral Naga Hitam Lu Sun.
__ADS_1
Sehingga ketika kedua orang tua nya meninggal dia langsung di adopsi dan dibesarkan oleh gurunya.
Cuma karena pemikiran nya yang salah dan sikap keras kepalanya, dia tetap tidak bersedia menerima ilmu silat yang akan diwariskan Lu Sun padanya.