
"Hei kamu pria atau bukan, kenapa cuma bisa meloncat-loncat seperti monyet...!!"
tegur He Siong sedikit kesal.
Karena serangannya selalu menemui tempat kosong, sudah hampir sejam mereka bertarung tempat mereka bertarung kini juga sudah berlubang-lubang.
Yue Fei yang berpikir akan menguras tenaga anak itu, hanya menyambut tegurannya dengan senyum lebar.
Dia kemudian berkata membalas,
"Kamu masih bocah tidak pantas ikut bertarung, aku tidak Sudi melukai bocah.!"
"Jadi lebih baik kita main-main saja, anggap saja ini permainan kucing menangkap tikus."
"Biar yang tua mengalah jadi tikusnya...!"
ucap Yue Fei sambil tertawa-tawa.
Hal ini membuat, He Siong semakin marah wajahnya menjadi merah padam.
Dia yang biasanya selalu ditakuti oleh semua orang kini di permainkan dianggap kucing.
Tentu saja dia tidak bisa terima.
Di dalam hati nya dia bersumpah sebelum berhasil membuat Yue Fei jadi daging cincang dia tidak akan menyudahinya.
Sambil menggertakkan gigi nya, He Siong mempercepat serangannya.
Dia kuat tapi dia bukan kerbau yang tidak memiliki akal pikiran.
Sebaliknya He Siong sangat cerdas, dari tadi sambil menyerang dia terus memperhatikan arah pergerakan lawannya.
Akhirnya dia tahu, Yue Fei seperti bisa menghilang, sebenarnya menggunakan ilmu ringan tubuh di campur dengan langkah.
Mengikuti dasar formasi 8 diagram, sebagai cucu kesayangan kakek nya, sejak kecil dia sudah mempelajari berbagai formasi tempur.
Formasi 8 diagram adalah salah satu formasi dasar yang harus dia kuasai dalam seni militer mengatur barisan.
Berdasarkan pengetahuan ini, dia mulai bisa menebak arah munculnya Yue Fei.
Dia sudah berulang kali mencobanya, untuk memastikan Yue Fei pasti akan muncul ditempat yang dia sudah perkirakan.
Ternyata semua terbukti, sesuai dengan yang dia perkiraan kan, Yue Fei selalu muncul di tempat yang dia perhitungkan.
Maka dia berlari jigjag untuk membingungkan Yue Fei, kemudian melompat menyerang, dengan satu gada.
Sedangkan gada lainnya dia lemparkan ke arah tak terduga, untuk menutup jalan mundur Yue Fei.
Yue Fei langsung menghilang dari serangan pertama, tapi saat dia muncul.
__ADS_1
Yue Fei sangat kaget sebuah gada terbang sudah menanti kemunculan nya.
Dia tidak sempat lagi menghindarinya terpaksa, dia menyambutnya dengan mengerahkan seluruh kekuatan Im Yang Sen Kung.
Yue Fei tidak memiliki kemampuan selengkap Bun Houw, dia tidak memiliki Xi Xing Ta Fa maupun Qian Kun Ta Lo Ih Sin Fa.
Bila tidak dia pasti bisa menyambut gada itu dengan baik, bahkan dapat melontarnya kembali deengan kekuatan dua kali lipat,
Tenaga alami He Siong sangat lah besar, bila Lu Bu, Guan Yu, Zhang Fei masih hidup, mereka belum tentu bisa di sebut Jendral terkuat bila bertemu dengan bocah ini.
Yue Fei mengunakan bagian tengah tombaknya yang terbuat dari baja pilihan, dengan mengalirkan Im Yang Sen Kung kebagian tersebut, untuk menangkis Gada yang terarah ke dadanya.
Benturan keras lawan keras pun tak terhindarkan dalam hal ini yang paling rugi adalah Yue Fei.
Tombak Yue Fei melengkung menghantam dada Yue Fei, Yue Fei terpental kebelakang.
Kesempatan ini yang ditunggu-tunggu oleh He Siong dia menyambut tubuh Yue Fei yang terpental ke belakang.
Dengan gada ditangannya yang terarah ke bagian punggungnya yang terbuka.
Yue Fei yang mendengar angin kesiur di belakangnya, secepat mungkin melentingkan tubuhnya .
Bersalto diudara menghindari serangan tersebut, Yue Fei melayang melewati atas kepala He Siong.
Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Yue Fei, dia menaburkan Hua Kung San yang diterimanya dari Bun Houw untuk jaga diri.
Di saat sedang terdesak.
He Siong terlihat sempoyongan, dan terus memegangi kepalanya, mengoyang-goyangkan Kepalanya.
Untuk menghilangkan rasa pusing yang menyerang Kepalanya.
Gada He Siong terlepas dari pegangannya, tubuhnya bergoyang-goyang seperti mau rubuh.
Melihat hal ini, Yue Fei langsung memberi kode kearah Pasukannya.
Pasukan Rajawali Merah yang sangat terlatih, langsung bergerak dengan cepat.
Mereka merentangkan Jala yang di pasangi pengait seperti mata pancing, kemudian melemparkannya kearah He Siong..
Lalu mereka mengikat ujungnya ke empat ekor kuda, lalu menariknya dengan memacu kuda mereka.
He Siong terbelit di dalam jala, dengan seluruh tubuh tertancap mata pancing, sehingga darah mulai mengucur deras membasahi seluruh pakaiannya.
Semakin dia meronta dan berusaha keluar dari jala, atau mencoba memutuskan tali jala, mata pancing itu akan menancap lebih dalam ketubuhnya.
Di saat dia sedang sibuk berusaha melepaskan diri dari jala, keempat ekor kuda di pacu, menyeret tubuh He Siong.
Sehingga terguling, kemudian di seret oleh 4 ekor kuda tersebut.
__ADS_1
Yue Fei sambil memegangi dadanya, melompat keatas kudanya dan berteriak,
"Mundur...! angin keras...!"
Maka Yue Fei dan seluruh pasukannya bergerak mundur melarikan diri.
Sementara itu di atas benteng kota He Wan yang melihat dari jauh, tubuh cucunya bergoyang-goyang, kemudian gada terlepas dari pegangannya.
Meski dia tidak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi, sebagai Jendral yang berpengalaman dia langsung menyadari ada yang tidak beres dengan cucunya.
Dia langsung berteriak,
"Tidak baik...! celaka...! Siong Er masuk jebakan musuh..!"
"He San dengar perintah...!"
Seorang pria berusia 40 an berwajah gagah maju kedepan sambil berlutut dengan kaki sebelah berkata,
"He San siap menerima perintah.."
He San adalah adik kandung Jendral He Wan, dia sejak kecil sudah ikut di sisi kakaknya.
Dia adalah Jendral yang sangat berpengalaman, dalam berbagai situasi pertempuran.
Dengan wajah cemas Jendral He Wan berkata,
"He San jaga benteng Wan dengan baik, selama aku pergi."
"Apapun situasinya tidak boleh keluar dari gerbang pertahanan, kamu dengar.!"
He San menganggukkan kepalanya dan berkata,
"He San dengar perintah, He San akan menjaga benteng Wan sampai nafas terakhir."
"Bagus.. semua pasukan dengarkan perintah..!"
ucap Jendral tua He Wan.
"Setengah dari kalian ikut dengan ku sisanya ikut dengan jendral He San menjaga benteng."
Lalu Jendral He Wan terburu-buru membawa 200.000 Pasukan berkuda melakukan pengejaran untuk menolong He Siong cucunya yang masuk dalam perangkap Yue Fei.
He Wan sangat panik dan cemas, dia telah kehilangan putra tunggalnya He Sin, bila kini dia juga kehilangan anak tunggal putranya He Siong.
Bagaimana dia akan punya muka untuk pulang menemui istri dan menantunya nanti.
Makanya dia tidak bisa berpikir banyak lagi, selain melakukan pengejaran sendiri.
Menyerahkan urusan benteng kepada adiknya.
__ADS_1
Yue Fei terluka parah sepanjang pelarian, dia beberapa kali memuntahkan darah segar.
Selain itu dia juga kehilangan tombak kesayangannya yang bengkok total tidak bisa di gunakan lagi.