
Yi Yi yang termenung melihat kearah taman, kemudian berkata,
"Tidak bisa seperti itu nek, ayah sudah tua aku tidak mungkin membiarkan dia maju ke medan perang sendirian."
"Apalagi musuhnya banyak di dampingi orang sakti, aku yang kini mewarisi ilmu bela diri dari guru Xue Yen, tidak mungkin berdiam diri dirumah."
"Bila nanti terjadi sesuatu dengan ayah, aku akan menyesal seumur hidup.."
"Aku bagaimanapun akan ikut maju menjaganya, selama nyawa ayah tidak terancam aku tidak akan ikut campur."
"Tugasku hanya melindungi ayah ku saja, sehingga kemungkinan bertemu dan bentrok langsung dengan nya akan sangat kecil.."
ucap Yi Yi tidak begitu yakin.
Hanya terlihat cenderung menipu diri sendiri dan berharap semua bisa sesuai keinginan nya.
Nenek Yang menghela nafas panjang dan berkata,
"Mau sampai kapan..? kamu terus terlibat dalam pusaran cinta dan perasaan mu kepada nya, yang hanya membawa mu tenggelam dalam pusaran penderitaan tiada ujung dari pangkalnya."
Yi Yi masih tetap termenung menatap kearah taman dan berkata,
"Aku tidak tahu nek.. aku benar-benar tidak tahu.."
"Aku sadar cinta diantara kami telah berakhir sejak dia memutuskan menikah dengan nya, tapi perasaan ini.. perasaan ini tidak mau menuruti pikiran ku.."
"Aku juga tidak berdaya, aku selalu tidak berhasil melupakan kenangan indah yang pernah dia tinggalkan untuk ku."
Nenek Yang membelai rambut Yi Yi dan berkata,
"Ada pertemuan pasti ada perpisahan, tidak ada pesta yang tidak pernah usai, kamu harus belajar lebih keras merelakan dan melepaskan dia pergi."
"Buka hati mu terima lah yang lain sebagai penggantinya, raihlah kebahagiaan mu."
"Cinta yang diperoleh dengan kubangan airmata, lebih baik relakan dan biarkan pergi, dia tidak pantas kamu perjuangkan dan menunggunya."
'Cinta seperti itu hanya akan memberi penderitaan tiada akhir bagi mu, nenek cuma ingin melihat mu bahagia.."
"Anak bodoh jangan bersedih lagi, pergilah tidur esok akan lebih cerah.."
Yi Yi mengangguk menghapus airmatanya dan tersenyum manis, kemudian dia kembali ke kamarnya.
"Jaga dirimu...bersemangat lah.. tetap tegar Yi Yi..sampai jumpa.."
gumam Nenek Yang sebelum kembali ke kamar Thian San.
Keesokan paginya Yi Yi yang tidur terlalu malam, masih terlelap dalam tidur.
__ADS_1
Di buat terkejut oleh gedoran di depan pintu kamar, dari suara yang memanggilnya.
Yi Yi mengenalinya sebagai suara putranya Thian San ada hal apa Thian San pagi-pagi begini menggedor-gedor kamarnya.
Ini sangat tidak biasa, pikir Yi Yi dia segera bangun membuka pintu kamar dan memeluk putranya sambil berkata,
"San er kamu kenapa pagi-pagi sudah kesini mencari ibu..ada apa nak ?"
"Ibu.. nenek menghilang..!"
Yi Yi mengerutkan keningnya dan mencoba bertanya memastikan..
"Apa maksud mu nak ? coba jelaskan pada ibu..?"
"Nenek menghilang ibu...tadi saat San er bangun tidur..San er tidak melihat ada nenek di kamar."
"San er cari ke dapur kesemua tempat tetap tidak menemukan Nenek.."
ucap Thian San panik
Yi Yi tersenyum dan berkata,
"San er anak baik.. dengarkan ibu, nenek tidak mungkin pergi jauh, nenek sudah tua."
"Paling-paling nenek pergi ke pasar belanja barang, sebentar lagi juga pulang.."
Lalu Yi Yi menggandeng tangan anaknya pergi memandikannya dan menggantikan pakaian bersih ke anaknya.
Karena sampai jam segini di mana matahari mulai naik tinggi, nenek Yang belum juga kelihatan.
Yi Yi kemudian menggandeng Thian San kembali kekamar Thian San dan mengecek lemari pakaian Nenek Yang.
Semua pakaian dan barang-barang yang pernah dia berikan kepada nenek Yang, semua nya terlihat utuh di sana.
Bahkan uang dan perhiasan yang pernah dia berikan kepada nenek yang semua utuh di sana.
Yang tidak terlihat lagi, adalah beberapa pakaian nenek Yang, yang sudah usang dan sebuah gelang giok putih, yang pernah dia berikan ke nenek Yang saat Thian San lahir.
Da atas tumpukan pakaian terlihat sepucuk surat.
dengan tangan gemetar pikiran kacau Yi Yi mengambil surat itu dan membacanya.
Sedangkan Thian San terlihat asyik sendiri dengan mainan nya.
Yi Yi mengeluarkan sepucuk surat dari dalam amplop surat dan membacanya dengan tangan gemetar.
"Yi Yi nenek mendengar kabar putra nenek ada Di Yong An, nenek ingin pergi mencarinya.
__ADS_1
Sebenarnya semalam nenek ingin sampaikan pada mu."
"Hanya saja melihat mu sedang bersedih dan banyak pikiran nenek tidak jadi menyampaikan nya langsung."
"Yang hanya akan membuat mu semakin sedih dan terbebani, mungkin dengan cara ini akan lebih baik buat mu dan buat nenek."
"Ingatlah pesan-pesan nenek semalam, nenek ingin melihat kamu bahagia, kamu harus kuat tegar, jangan selalu larut dalam kesedihan."
"Bersemangatlah,.jaga Thian San baik-baik, beri dia pengertian, tiada pesta yang tidak usai."
"Ada pertemuan pasti akan ada perpisahan, dan suatu hari nanti kita pasti bisa bertemu lagi, nenek harap saat itu tiba, kamu bisa hidup berbahagia dengan orang yang benar-benar tulus mencintaimu."
Sampai jumpa, Nenek Yang..
Yi Yi duduk termenung dia seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup nya.
Terbayang semua kebaikan perhatian dan ketulusan Nenek Yang dalam menjaga dirinya dan Thian San, tanpa sadar airmata nya pun runtuh.
Thian San yang cerdas melihat keadaan ibunya dia segera meninggalkan mainannya, berjalan menghampiri ibunya.
"Ibu kamu kenapa ?"
ucap Thian San sambil menatap ibunya dengan tatapan mata nya yang polos.
Yi Yi memeluk kepala anaknya dan berkata,
sambil menahan tangis.
"San er putra ku yang baik, dengarkan ibu.. mulai hari ini, ...Nenek Yang tidak akan hidup... bersama kita lagi.."
"Apa maksud ibu ? apa yang terjadi dengan Nenek..?"
tanya Thian San polos.
"Nenek Yang pergi ketempat yang jauh, mencari putranya yang hilang.."
ucap Yi Yi berusaha memberi penjelasan pada Thian San.
Di luar dugaan Thian San tidak menangis, dia langsung berlari keluar dari kamarnya, dia berdiri ditaman mengepalkan sepasang tinju kecilnya, matanya yang jernih di basahi airmata, sambil mengigit bibirnya, Thian San berkata,
"Nenek...nenek...nenek... Thian San berjanji Thian San tidak akan nakal.. Thian San tidak akan menangis... Thian San tidak akan menangis... menyusahkan ibu... Thian San akan menjaga ibu.."
"Nenek harus kembali dengan selamat...dan kembali bersama Thian San lagi..!
Thian San yakin...suatu hari nenek pasti...akan kembali lagi...! nenek...nenek..nenek..apakah kamu mendengarnya...!"
ucap anak kecil tersebut bercucuran airmata.
__ADS_1
Yi Yi yang juga berlari keluar dari kamar menyusul anaknya, terlihat berjongkok di samping anaknya.
Yi Yi sudah tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil memeluk anaknya.