
Lu Fan langsung menghindar, yang sial Bun Houw yang duduk dibelakangnya. Sepatu Lu Sun dengan tepat menghantam jidatnya sehingga jidatnya bengkak sebesar telur ayam kampung.
Bun Houw hanya bisa menyegir kuda menahan rasa sakit dan tidak berani bersuara.
Lu Sun menjadi tidak enak hati segera meminta maaf pada Bun Houw.
Bun Houw dengan senyum seperti orang mau menangis tapi tidak bisa.
Mungkin mirip-mirip muka gaya berak.
Dia langsung menjawab,
"Tidak apa-apa..."
Lu Sun untuk menutupi rasa tidak enaknya, langsung berkata,
"Fan Er kamu anak celaka , aku perintahkan padamu bila besok lusa kamu tidak bawa pulang tanduk siluman kerbau. Yang telah berani menggertak ibu mu, kamu jangan pernah pulang lagi kerumah."
Sambil tersenyum lebar Lu Fan berkata,
"Ayah tenang saja, besok malam Lu Fan pasti akan temani ayah bermain tanduk kerbau."
"Tapi besok malam kira-kira ayah akan berikan hadiah apa padaku, bila berhasil membawa pulang sepasang tanduk siluman kerbau itu."
"Karena aku kan sudah menolong ayah agar tidak mendapat hadiah topi hijau darinya."
Setelah berkata Lu Fan langsung berkelebat pergi, tidak menunggu jawaban Lu Sun.
Lu Sun tertegun dan sedang mencerna kata-kata Lu Fan, ketika menyadari Lu Fan sedang mengejeknya.
Lu Sun langsung berteriak...
"Fan Er... bocah biadab... awas kamu.. ya...!!"
Siau Ching wajahnya menjadi merah, dia sangat malu dan kesal dengan kelakuan Lu Fan yang sangat nakal.
Lu Sun memenangkan emosinya, dengan menghela nafas panjang kemudian berkata,
"Bun Houw sekali lagi paman minta maaf atas insiden tadi, harap kamu tidak memasukkannya kedalam. hati."
"Aku juga sudah mendengar dari Ching Ching istriku, kalian berdua tertarik untuk tinggal di sini, kami sekeluarga tidak keberatan."
"Kalian boleh bebas tinggal disini, lembah ini cukup luas kalian boleh pilih dimana saja."
__ADS_1
"Tapi saran ku di dekat sini paling aman, terutama daerah dekat gunung lima jari saya sarankan kalian jangan kesana dengan kemampuan kalian saat ini."
"Bila kalian berdua sudah mantap ingin menikah, kalian bisa ikut menikah bersamaan dengan Wu Song dan Ping Er."
Bun Houw sambil mengangkat kedua tangan kedepan sebagai pemberian hormat, dengan wajah sedikit tertunduk dan meringis menahan sakit dijilatnya dia berkata,
"Terimakasih atas kebaikan hati paman Lu yang bersedia menampung kami tinggal di lembah ini. Juga terima kasih atas sarannya tadi dalam mencari lokasi tempat tinggal kami."
"Untuk tawaran pernikahan bersama, aku hanya dapat mengucapkan terimakasih. "
"Saat ini aku belum siap membentuk rumah tangga, karena aku tidak memiliki kemampuan dan kesuksesan untuk melindungi dan membahagiakan istri dan anakku."
"Bila suatu hari aku bisa sukses, aku akan membawa Yi Yi pulang menemui ayahnya.
Baru kami akan menikah secara resmi dibawah restu ayahnya."
Ekspresi Yi Yi tadi sedikit kecewa ketika mendengar Bun Houw menolak menikahinya bersamaan dengan Wu Song dan Lu Ping.
Tapi dia tetap tersenyum lembut dan berusaha mengerti.
Saat mendengar penjelasan Bun Houw dia baru sadar, Bun Houw melakukan semua ini. Karena ingin menjaga martabatnya, agar dia bisa mendapatkan pengakuan dari keluarganya.
Sehingga Pernikahan mereka nantinya bisa mendapatkan restu ayahnya secara resmi.
Lu Sun juga memiliki pandangan berbeda saat ini, setelah mendengar penjelasan Bun Houw.
Lu Sun merasa kagum dengan jalan pikiran Bun Houw yang teliti penuh pertimbangan dan sangat bertanggungjawab tidak mementingkan kesenangan sesaat.
Lu Sun yakni suatu hari anak ini akan sangat sukses masa depannya.
Lu Sun mengangguk dan berkata,
"Baiklah kalau begitu pertimbangan mu, saran ku bila ingin sukses kamu harus tahan penderitaan."
"Ditempat ini kalau mau cari harta tidak ada, tapi bila ingin mencari ilmu dan sumberdaya, aku jamin kamu pasti akan mendapatkan nya." ucap Lu Sun menambahkan.
Bun Houw membungkuk kan badannya dalam-dalam sambil memberi hormat sekali lagi dan berkata,
"Terimakasih atas kemurahan hati dan saran dari Paman Lu Bun Houw akan selalu mengingatnya."
Kemudian Bun Houw dengan sopan mengundurkan diri sambil menggandeng Yi Yi keluar dari pondok Xue Yen.
Lu Fan ternyata ada dihalaman depan ketiga pondok yang berjejer rapi sedang menyiapkan tenda darurat untuk Wu Song dan Bun Houw.
__ADS_1
Sedangkan Yi Yi dan Lu Ping bisa menginap di pondok Siau Ching.
Lu Fan dia tidur di pondok ayahnya, karena kamarnya memang terletak di pondok ayahnya.
Sedangkan kamar Lu Ping ada di pondok Xue Yen, karena Ibu Siau Ching menginap di pondok Xue Yen, Lu Ping pun tidak enak hati ikut meramaikan disana.
Bun Houw dan Yi Yi segera membantunya menyiapkan tenda militer darurat milik ayah Lu Fan, sesaat kemudian Wu Song dan Lu Ping juga keluar membantu.
Sehingga dalam waktu singkat sebuah tenda militer yang besar dan gagah pun berdiri.
Bun Houw kemudian menyiapkan api unggun di depan tenda, mereka berlima anak muda duduk mengelilingi api unggun sambil membakar jagung hasil panen kebun yang dulu diurus oleh Wu Song.
Mereka berlima terlihat asik ngobrol, sambil makan jagung.
Setelah hari agak malam, Lu Ping dan Yi Yi pergi ke pondok Siau Ching untuk istirahat.
Sedangkan Lu Fan pergi ke kolam air terjun menangkap ikan.
Tak lama kemudian mereka bertiga terlihat sibuk bakar ikan.
Setelah perut kenyang Bun Houw terlihat sedang duduk bermeditasi menyerap kekuatan ikan yang dimakannya.
Sedangkan Wu Song dan Lu Fan berbaring diatas rumput hijau pendek, yang sengaja ditanam Wu Song dulu. Sebagai penghias halaman pondok agar terlihat indah dan asri.
Mereka berdua berbaring ngobrol sambil menatap bintang di langit.
Setelah Bun Houw menyelesaikan penyerapan Kekuatan tenaga sakti.
Dia juga ikut berbaring di samping Lu Fan, menceritakan pengalaman nya sejak kecil sampai saat ini kepada Lu Fan.
Yang belum tahu banyak tentang dirinya, karena mereka baru kenalan pagi tadi.
Lu Fan merasa bersimpati terhadap nasib Bun Houw, Lu Fan berjanji dalam hati besok dia akan menemui ayahnya. Meminta ijin menurunkan beberapa ilmu kepada Bun Houw, agar bisa melindungi dirinya di masa depan.
Kemudian ganti Wu Song bercerita pengalamannya setelah berpisah dari Lu Fan di Hua San dulu.
Mendengar cerita Wu Song yang mengharukan Lu Fan dan Bun Houw merasa bersimpati atas derita cinta yang dialami Wu Song.
Wu Song sendiri menjadi terkenang dengan semua kebaikan Ceng Ceng padanya tanpa sadar airmata berlinang menetes dikedua sudut matanya.
Melihat hal ini Lu Fan dan Bun Houw hanya diam termenung menatap bintang.
Mereka bertiga larut dalam lamunan mereka masingmasing sambil menatap bintang yang berkelap-kelip di langit.
__ADS_1