LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
OUWYANG THIAN,


__ADS_3

"Naga Mengejar Mutiara...!" teriak Gadis Bercadar.


Cambuk menyabet kearah kaki Pemuda itu,


Pemuda itu meloncat keatas dengan sedikit menekuk kakinya.


Sehingga terhindar dari serangan tersebut, tapi serangan tidak berhenti ujung cambuk bergerak menotok pinggang nya.


Dia menyabetkan kipas bututnya untuk menangkis ujung cambuk.


Ujung cambuk distrik sedikit menghindari benturan tangkisan dan meliuk mengincar leher pemuda itu.


Sekali ini dengan tidak berdaya dia terpaksa membuang diri kebelakang dengan bersalto.


Dengan gerakan ini dia sudah menyentuh garis batas arena.


Tapi cambuk tidak berhenti dia kembali datang menotok ubun-ubun.


Serangan ini sangat berbahaya bila terkena minimal lumpuh kalau berat bisa kehilangan nyawa.


Pemuda itu mengangkat kipas menahan serangan itu, ujung cambuk merubah arah mengincar leher.


Mengincar leher cuma pancingan begitu kipas digunakan menangkisnya.


Cambuk menegang seperti tombak menusuk jantung.


Pemuda itu posisi mendarat dari salto tadi belum sempurna, mendapatkan serangan beruntun seperti ini akhirnya dia kembali membuang diri bergulingan menghindari serangan cambuk.


Tanpa disadari dia sudah keluar dari garis arena pertandingan, dia pun harus menerima kekalahan nya.


Dengan kesal dia menarik kembali dua ekor ular merahnya yang meringkuk ketakutan.


Wu Song menghentikan suara sulungnya, sehingga dua ekor ular merah itu melesat cepat kembali masuk ke lengan baju pemuda itu.


Sebelum pergi Pemuda itu menatap Kearah Wu Song dengan marah, sambil mendengus dia pun meninggalkan arena.


Setelah pemuda itu mundur muncul seorang kakek berambut riap-riapan berpakaian hitam dan memegang sebatang tongkat kepala ular.


Sambil menatap dingin kakek itu berkata, "nona muda sebaiknya kamu mundur, aku tidak mau melukai mu dan berurusan dengan pihak kerajaan."


Gadis Bercadar dengan santai menjawab,


"Aku masuk pertandingan atas nama pribadi tidak ada hubungan dengan kerajaan."


"Hidup mati ku dalam pertandingan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kerajaan."


Kakek itu tertawa terbahak-bahak, dan berkata.


"Kalian semua mendengar ucapannya barusan, kalau terjadi sesuatu dengannya harap para panitia dan penonton bisa menjadi saksi untukku nanti."

__ADS_1


Gadis itu langsung memberi serangan sambil berkata, "jangan banyak bacot lihat cambuk..!"


Ujung cambuk langsung menotok beberapa bagian ditubuh Kakek berbaju hitam itu.


Sebelum mencapai tubuhnya semua serangan cambuk di buat terpental oleh kakek itu, dengan menggunakan tongkatnya.


Sekarang Gadis Bercadar baru menyadari ternyata kemampuan kakek itu berada jauh di atas dirinya sendiri.


Dia merasa tangannya gemetaran dan telapak tangan nya terasa perih akibat beradunya cambuk dengan tongkat aneh berbentuk kepala ular.


Kakek itu tersenyum dingin, lalu berkelebat cepat memberi serangan tongkat kepala ular kearah gadis itu.


Gadis itu menangkis dengan cambuknya dan berusaha menjaga jarak, tapi karena perbedaan kekuatan dan kecepatan dia menjadi terdesak.


Pada satu kesempatan kakek itu membelit tongkat nya dengan cambuk lalu membetot dan menyentaknya .


Karena berusaha mempertahankan cambuknya gadis bercadar itu tubuhnya tersentak melayang kearah kakek itu.


Dia terkejut dan menatap pucat kearah kakek itu


Yang sedang tersenyum sinis, dan merendahkan tubuhnya sampai terdengar bunyi.


"KWOKK...KWOOKK...KWOKK..!"


Lalu melesat kedepan untuk menyambut Gadis Bercadar yang sedang melayang kearahnya dengan telapak tangan terbuka.


Tapi diantara mereka berdua tiba-tiba muncul Wu Song yang menyambut pukulan kakek itu.


Sedangkan Wu Song untuk membuang tenaga pentalan tersebut dia melayang berputar-putar sambil memeluk pinggang ramping Gadis Bercadar.


Mereka berdua terlihat melayang berputar-putar diudara kemudian mendarat ringan diatas tanah sambil berpelukan.


Selama berputar-putar di udara, Wu Song tidak melepaskan tatapan tajamnya pada gerak-gerik Kakek itu dia bersikap waspada.


Sedangkan Gadis Bercadar merasa sangat aman berada dalam pelukan Wu Song.


Dia menatap Wu Song penuh rasa terima kasih dan kagum.


Setelah berada di atas tanah Wu Song melepaskan rangkulannya dari pinggang gadis itu, sambil berkata "Maaf.."


Lalu dia berbalik memunggungi gadis itu menatap Kakek itu dan berkata, "Anda yang menang gadis ini bukan lawan mu,"


Posisi Wu Song dan Kakek itu sama-sama berada diluar garis arena pertandingan.


Panitia pembawa acara melayang ketengah arena pertandingan dan berkata,


"Kalian berdua dapat maju kembali melanjutkan pertandingan ini.!"


"Atau kalian berdua akan dinyatakan gugur dalam pertandingan ini dan diskualifikasi tidak boleh mengikuti pertandingan ini lagi.!!"

__ADS_1


Gadis Bercadar dengan manja berbisik di telinga Wu Song,


"Terimakasih sudah menolongku, namaku Si Ma Ling-Ling."


"Berjuang lah aku mendukungmu."


Gadis itu tersenyum manis lalu membalikkan badannya berlari kearah pemuda tampan dan pria tinggi besar yang mengenakan seragam militer.


Wu Song sedikit terpaku mendengar nama marga gadis itu, dalam hati Wu Song berpikir dan bertanya-tanya apa hubungan Gadis ini dengan keluarga kerajaan?"


Tapi Wu Song tidak bisa berpikir terlalu banyak, karena Kakek itu kini telah melangkah kedalam arena sambil berkata, "Majulah anak muda aku menunggumu."


Wu Song dengan terpaksa melangkah ke dalam arena, dia sebenarnya tidak ingin mengikuti pemilihan ketua Dunia Persilatan.


Dia tidak memiliki ambisi seperti itu, tujuan kedatangan nya hanya ingin menemani Lu Ping dan Lu Fan melihat keramaian, bila perlu dia akan melindungi mereka dari bahaya.


Setelah ini dia ingin cepat-cepat kembali ke LUO YANG menemui istrinya Ceng Ceng.


Dia agak khawatir dengan kondisi Ceng Ceng yang kini sedang hamil tua.


Karena menurut penuturan Lu Ping dia sudah menghilang selama 1/2 tahun.


Jadi menurut perkiraan nya usia kandungan Ceng Ceng kini sekitar 7 sampai 8 bulan.


Lu Gan memberikan tepuk tangan sebagai dukungan.


Sedangkan Lu Ping tampak cemberut, karena melihat kemesraan Wu Song ketika menolong Gadis Bercadar itu.


Tapi meski cemberut, tapi tatapan nya menunjukkan kekhawatiran dan perhatian pada Wu Song.


Wu Song memegang sebatang seruling Hitam ditangan kanan dan berdiri dihadapan kakek itu dengan sikap santai.


Begitu panitia pembawa acara meninggalkan arena pertandingan untuk kembali duduk dikursi yang disediakan diluar arena.


Kakek itu bertanya "anak muda kemampuanmu boleh juga, kalau boleh tahu siapa namamu dan siapa gurumu.?"


Meski tidak begitu suka dengan kakek di depannya, Wu Song tetap memberi hormat dan menjawab dengan sopan.


"Saya bernama Wu Song, Guru ku tidak suka di sebut-sebut namanya."


"Aku hanya dapat memberitahu mu aku berasal dari Lembah Alam Penebus Dosa Dewa Buangan."


Mendengar nama tempat ini suasana di sekitar arena menjadi geger.


Terdengar banyak orang berbicara sendiri menyebut-nyebut dirinya murid Jendral Legendaris dari Pasukan Naga Hitam.


Kakek itu juga sedikit terkejut, tapi dia kemudian berkata,


"Bagus tidak sia-sia aku datang dari pengunungan daerah barat sana."

__ADS_1


"Sungguh tidak di sangka bisa bertemu murid Jendral Naga Hitam, yang namanya terkenal sampai ke Tibet sana."


"Nama ku Ouwyang Thian, mari kita bermain-main anda tidak perlu sungkan Wu Song keluarkan semua kemampuan mu untuk membuka mataku."


__ADS_2