LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
KEPUTUSAN KAISAR SHI MA HUI,


__ADS_3

"Yang mulia, hamba yang rendah datang memberi salam, semoga yang mulia panjang umur dan sehat selalu."


"Bangunlah Ai Fei (Selir Kesayangan) tidak perlu terlalu banyak peradatan."


ucap kaisar sambil memberi kode agar istrinya berdiri dan mendekati nya.


Dengan lemah gemulai Selir Bai berjalan mendekati Kaisar, kemudian memijat-mijat bahu punggung dan kedua sisi kening suaminya dengan lembut.


Kaisar Shi Ma Hui meletakkan laporan yang sedang di pegang nya, Kemudian bersandar pada kursi memejamkan matanya.


Menikmati pijatan lembut istrinya, melepas kelelahan dan kepenatan di otaknya.


Sambil memejamkan matanya kaisar bertanya,


"Kamu kenapa tiba-tiba kemari ?"


"Ayah mu yang menyuruh mu datang ya ?"


Selir Bai yang mendengar pertanyaan kaisar kepadanya, dia menanggapinya dengan sangat tenang tidak terpengaruh sama sekali.


Dia tetap memijat-mijat kedua sisi kening kaisar dengan lembut berkata,


"Aku kemari karena memperhatikan kesehatan mu, untuk itu aku sengaja memasak sup ginseng dan mengantarkannya kemari khusus untuk mu."


"Maaf bila kedatangan ku, kurang berkenan di hati yang mulia."


"Aku mengerti yang mulia sedang banyak pikiran, sebaiknya aku permisi dulu, agar tidak timbul salah paham."


Setelah mengucapkan hal itu, selir Bai dengan lembut dan hati-hati mengakhiri pijatan nya dengan memijat halus bagian cuping telinga suaminya.


Kemudian dia menghembuskan nafas lembut mencium belakang telinga dan pipi suaminya.


Setelah itu dia memberi kode agar pelayan meletakkan sup ginseng yang dibawanya.


Lalu dia berjalan melewati samping suaminya sambil tersenyum lembut penuh pengertian, tapi di matanya dapat terlihat sinar kesedihan dan kekecewaan yang di tahan.


Kaisar langsung menangkap telapak tangan istrinya yang halus dan lembut itu, menariknya agar duduk di pangkuannya dan berbisik,


"Sayang maafkan aku."


Selir tersenyum penuh pengertian, kemudian membelai wajah kaisar dan berkata,


"Tidak apa-apa, Baginda tentu sedang banyak pikiran."


Kaisar menghela nafas panjang, tanpa di minta dia menceritakan semua permasalahan yang dia hadapi, termasuk pertemuan dan saran dari ketiga jendral nya itu.


Kaisar sendiri yang kini bertanya, meminta saran dan bertukar pendapat dengan selir Bai.

__ADS_1


"Ai Fei menurut mu, aku harus mendengarkan dan mengikuti saran siapa.


Semua ini adalah momen-momen yang ditunggu-tunggu oleh selir Bai. dengan hati-hati dia berkata,


"Chen Cie ( selir kaisar) yang rendah tidak berani berpendapat, Chen Cie sehari-hari hanya berada di istana belakang, tidak mengerti urusan politik."


"Chen Cie tidak berani mencampuri urusan negara."


Kaisar terpancing, dan berkata,


"Di sini aku lah yang berkuasa, aku yang memberi mu ijin bicara."


"Tenang saja bicaralah, kalau ada yang berani membicarakan mu di belakang biar Chen (Kaisar) sendiri yang akan menghukumnya."


Setelah mendengar ucapan kaisar baru,


Dengan hati-hati selir Bai mengutarakan pandangan nya,


"Menurut Chen Cie ide kedua jendral Wu dan He itu sudah sangat baik dan tepat."


"Hanya saja yang mulia harus pertimbangkan baik-baik darah lebih kental dari air, hubungan kekeluargaan jauh lebih penting dari kekuasaan."


"Tapi ini semua hanya pandangan wanita yang picik dan tidak berpengetahuan, sebaiknya yang mulia memilih ide kedua jendral Wu dan He saja."


"Anggap saja saya tidak pernah bicara."


Ucapan selir Bai membuat kaisar tertawa terbahak-bahak dan menepuk pahanya sendiri dan berkata,


"Aku dari awal juga punya pemikiran yang sama dengan mu, hanya saja aku sedikit ragu."


"Terimakasih sayang kamu telah membuat keraguan ku sirna, dan mengangkat sebagian beban yang membuat ku pusing."


"Terimakasih banyak sayang,"


ucap kaisar sambil tertawa gembira.


Melihat kaisar sudah bisa tertawa gembira, dengan hati-hati selir Bai, menyuapi kaisar sup ginseng panas yang dibuatnya.


Sesendok demi sesendok sambil terlebih ditup-tiup, agar tidak terlalu panah saat di minum.


Setelah menghabiskan semangkuk sup ginseng, kaisar yang sedang senang perasaannya.


Memanggil Kasim Wei menghadap dan berpesan agar tidak ada yang boleh menggangunya.


Hari ini dia tidak ingin menemui siapapun.


Setelah Kasim Wei keluar, Kaisar langsung menggendong selir Bai masuk keruangan peristirahatan nya.

__ADS_1


Tak lama kemudian terdengar suara tertawa merdu desahan dan rintihan suara selir Bai dari dalam ruangan peristirahatan kaisar.


Selir Bai sangat pandai membawa diri, meski tujuan kedatangan nya memang tidak jauh dari masalah ayahnya, tapi dia bisa menutupinya dengan rapi.


Informasi juga bukan dia dapat dari ayahnya, melainkan dari Kasim Wei, yang sudah lama menjadi kaki tangannya.


Di istana bagian belakang ini, terkadang pertempuran adu strategi dan kecerdasan, melebihi pertempuran mati hidup di Medan perang.


Seseorang yang kurang cerdas, dan tidak hati-hati bisa mati tanpa tahu sebabnya, bila kurang waspada.


Kehidupan sebagai istri kaisar, bukan hal mudah, Cantik bertubuh molek dan sexy saja, bukan jaminan untuk bisa mendapatkan perhatian kaisar.


Masih banyak hal lainnya, seperti pintar membawa diri, pintar menghibur, termasuk kemampuan muaskan sang kaisar di ranjang,


Terkadang juga harus bisa bersikap cerdas cerdik tega dan kejam, tapi semua ini juga harus pintar melihat situasi dan kondisi.


Adakalanya tidak boleh merasa terlalu pintar, ataupun sok pintar, kadang kala memang harus tunjukkan bahwa dirinya juga bukan orang bodoh, dan dapat diandalkan.


Yang paling sadis dan kejam adalah berbuat sadis dan kejam, tapi tidak ada yang tahu dia lah pelakunya.


Dengan demikian setelah kaisar mendapatkan kabar dari utusannya yang di kirimkan lewat merpati pos.


Bahwa dari WAN sudah berangkat 200.000 Pasukan yang di pimpin jendral muda He Sin, putra tunggal dari Jendral senior He.


Sedangkan dari Han Zhong juga sudah berangkat 500.000 Pasukan yang di pimpin langsung oleh raja Muda Shi Ma Jun.


Maka berangkatlah Jendral Bai Lun membawa 300.000 Pasukan menuju Han Gu Kuan ( Gerbang pertahanan Han Gu ).


Sementara itu Yue Fei dan istrinya Sin Yi yang kini di tunjuk sebagai Jendral yang mempertahankan ibukota Chang An.


Terlihat sedang sibuk berdiskusi dengan beberapa komandan pasukan mereka, di sebuah ruangan rapat.


Di mana ditengah ruangan terlihat sebuah meja besar berisi miniatur peta seputar kota Chang An dan perbatasannya.


Lengkap dengan gunung hutan sungai maupun gerbang pertahanan dan kota Chang An.


Yue Fei terlihat sedang membagi tugas dan mengatur rencana menghadapi serangan yang datang dari dua arah.


Setelah membagi-bagikan tugas dan para bawahannya sudah keluar dari ruangan.


Yue Fei berdiri di depan meja yang berisi peta miniatur, menatap peta itu dengan serius.


Sin Yi yang terus menemaninya berkata,


"Sayang kamu sudah sibuk seharian dan belum makan apapun, ayo kita makan dulu."


Yue Fei mengangkat kepalanya menoleh kesamping menatap wanita di sampingnya sambil tersenyum lembut.

__ADS_1


__ADS_2