
"Bagaimana kami memanggil mu sebaiknya ?" tanya Wu Song bingung.
Di lihat dari penampilannya pria ini layak menjadi kakek buyutnya, tapi bila melihat wajahnya pria ini usianya terlihat tidak beda jauh dengan nya.
Pria tersebut tersenyum kemudian berkata,
"Aku juga kurang tahu ini tempat apa? aku sendiri menamainya Neraka Perut Bumi."
Nama ku adalah Hua Thian, aku sama seperti kalian terdampar di tempat ini, tidak pernah bisa keluar dari sini.
Kalian boleh memanggilku Kakek Thian.
Wu Song terkejut dan cepat-cepat bertanya,
"Apa maksud kakek Thian tidak bisa keluar dari tempat ini,? emangnya sudah berapa lama kakek Thian ada ditempat ini?"
Kakek Thian tersenyum dan berkata,
"Pastinya aku kurang tahu, tapi diperkirakan mungkin ada ratusan ribu tahun yang lampau, aku sudah berada di tempat ini."
Wajah Wu Song langsung pucat tatapannya menjadi kosong, bagaimana ini pikirnya.
Bila tidak bisa keluar dari sini bagaimana dengan Lu Ping yang sedang menunggunya, di lembah sana.
Sebaliknya Se Se terlihat senang, baginya di manapun sama aja yang penting bisa bersama Wu Song.
Kakek Thian tersenyum dan berkata,
"Jangan terlalu di pikirkan waktu masih panjang, siapa tahu justru lewat kalian lah aku bisa keluar dari tempat ini."
"Kalian berdua kenapa bisa terdampar ketempat ini?" tanya Kakek Thian.
Se Se menceritakan secara singkat, karena Wu Song masih kaget dan larut dalam pikiran nya sendiri.
"Bagaimana dengan kakek Thian sendiri kenapa kakek Thian bisa ada ditempat ini?" tanya Se Se heran.
Kakek Thian termenung seperti semua masa lalunya terbayang di depan mata.
Aku adalah yatim piatu yang di pungut oleh guru kami manusia setengah dewa bernama Lo Cu, yang berdiam di pegunungan Himalaya.
Perguruan bentukan guru ku adalah perguruan langit.
Nama ku inipun adalah pemberian guru ku, karena sejak ditemukan guru ku.
Aku memakai sebuah kalung yang ada tulisan Hua.
Maka dengan meminjam nama dari kalung dan perguruan bentukannya, aku di beri nama Hua Thian.
Di perguruan tersebut selain aku masih ada dua anak lain yang usianya sama denganku.
__ADS_1
Yang laki-laki yang menjadi kakak seperguruan ku bernama Ling Bao,
yang perempuan adalah anak guru ku bernama Lo Mei Ling.
Kami bertiga tumbuh besar bersama, setelah dewasa aku jatuh cinta pada Mei Ling.
Ketika aku mengungkapkan perasaan ku .
Mei Ling menyambutnya dengan baik.
Ternyata dia juga memiliki perasaan yang sama dengan ku.
Tapi Ling Bao yang juga mencintai Mei Ling tidak terima, karena dia juga mencintai Mei Ling tapi tidak berbalas.
Suatu hari saat guru mengajakku menjalankan misi menolong orang yang dalam kesulitan.
Dengan cara licik Ling Bao menodai Mei Ling, setelah guru dan aku pulang menjalankan misi.
Guru mendapatkan pengaduan dari Mei Ling, meski guru sangat marah tapi nasi sudah menjadi bubur.
Guru pun menikahkan Mei Ling pada
Ling Bao, aku sangat kecewa dan marah.
Tapi tidak berdaya melawan keputusan guru dan kenyataan yang sudah terjadi.
Akhirnya aku memilih meninggalkan perguruan langit, karena aku tidak bisa melihat orang yang kucintai hidup menderita bersama pria yang telah menodainya secara paksa.
Bila tidak dia akan bunuh diri di depan ku,
karena takut Mei Ling benar-benar bunuh diri, aku membawa Mei Ling meninggalkan perguruan langit.
Setelah berlari kesana-kemari menghindari kejaran Ling Bao dan orang-orang dari perguruan langit.
Akhirnya kami memilih bersembunyi di sebuah lembah yang tersembunyi dari dunia luar.
Karena tempat tersebut banyak terdapat berbagai macam jenis tanaman obat yang hidup subur,. aku memberinya nama Lembah Selaksa Obat.
Di lembah ini aku dan Mei Ling menikah diam-diam dan di karuniai seorang putra.
Aku memberinya nama Hua Ci, ketika Hua Ci berumur 10 tahun Ling Bao berhasil menemukan persembunyian kami.
Dengan penuh emosi Ling Bao menyerang ku awalnya aku tidak ingin melayani nya.
Karena bagaimanapun kami tumbuh besar bersama seperti saudara sendiri.
Meski dia telah melakukan perbuatan tidak terpuji terhadap Mei Ling tapi semua itu sudah menjadi masa lalu.
Kini aku dan Mei Ling telah hidup berbahagia dan memiliki seorang putra.
__ADS_1
Aku dan Mei Ling telah mengubur dan melupakan masalah tidak menyenangkan tersebut.
Tapi karena dia terus menyerang ku, aku terpaksa membalasnya, akhirnya terjadilah pertempuran dahsyat di atas danau Lembah Selaksa Obat.
Akibat ingin melerai dan menghentikan pertempuran kami Mei Ling terkena pukulan nyasar Ling Bao.
Mei Ling tewas dalam pelukan ku, aku sangat sedih dan marah
Sangat ingin mengadu nyawa dan membunuh Ling Bao.
Tapi aku menahan diri teringat pesan Mei Ling agar aku menjaga Hua Ci dengan baik.
Tapi Ling Bao yang seperti kehilangan akal sehatnya, memaksa ingin merebut jasad Mei Ling dari ku.
Karena tidak dapat menahan emosi lagi,
aku dan Ling Bao kembali terlibat pertempuran yang lebih dahsyat.
Tapi karena aku hanya menggunakan satu tangan Sedangkan tangan lainnya digunakan merangkul tubuh istriku.
Aku menjadi terdesak hebat, sampai mati sekalipun aku sudah bersumpah dalam hati. Tidak akan melepaskan Mei Ling dari pelukan ku.
Di saat paling kritis terjadi gempa dahsyat, di lembah Selaksa Obat danau tempat kami bertempur bergolak hebat.
Dalam satu kesempatan Ling Bao berhasil memukul ku sampai terjatuh kedalam danau.
Tiba-tiba danau muncul pusaran air yang besar, aku yang terjatuh kedalam danau sambil memeluk tubuh Mei Ling langsung terseret oleh pusaran air danau.
Kemudian aku pun terlempar ke tempat ini, dan hidup sampai sekarang hanya di temani oleh makam Mei Ling yang aku kuburkan ditempat ini.
Sejak saat itu, aku tidak tahu lagi kabar anakku Hua Ci apakah masih hidup atau mati.
Aku benar-benar terputus hubungan dengan dunia luar.
Aku sudah melakukan berbagai upaya mencari jalan, agar bisa menemukan jalan meninggalkan tempat ini.
Tapi semua sia-sia, aku tetap tidak pernah bisa meninggalkan tempat ini.
Aku bahkan pernah mencoba mengarungi lautan luas ini mencari jalan meninggalkan tempat ini.
Setelah puluhan tahun akhirnya aku tetap saja kembali ketempat ini tanpa hasil.
Tutup Hua Thian mengakhiri kisahnya dengan kecewa.
"Aku bukan hanya tidak dapat memenuhi janjiku pada istriku, bahkan kabar hidup atau mati Hua Ci pun aku tidak tahu sama sekali."
ucap Hua Thian penuh penyesalan.
Hua Thian tidak tahu bahwa, Hua Ci anaknya telah di selamatkan gurunya yang datang terlambat.
__ADS_1
Ling Bao di hukum berat dilempar ke jurang di gunung Hua San tempat Wu Song menemukan 4 kitab pusaka milik Ling Bao.