
Ketua perguruan bangau putih Che Yu yang mendapat kabar dari muridnya, bahwa ada seorang pria muda datang bersama 4 orang wanita.
Ingin menemuinya terkait cucunya Che Mian Mian, yang telah pergi dari rumah tanpa ijin seminggu lebih tidak ada kabar beritanya.
Che Yu dengan tergesa-gesa berjalan pergi ke gerbang diikuti dua orang muridnya yang masuk memberikan laporan.
Setelah sampai di gerbang Che Yu memberi hormat ke arah Wu Song, dan mengundangnya untuk masuk berbicara di dalam.
Wu Song membalas memberi hormat kemudian berkata,
"Senior kedatangan ku tidak bisa lama, karena masih banyak hal yang. harus ku urus. "
"Kedatangan ku hari ini terkait cucu anda dan masalah yang menimpanya terkait Penjahat Pemetik Bunga Kim Song Ji."
"Wu Song menceritakan semua kejadian kemudian menunjukkan mayat Kim Song Ji dan mayat Che Mian Mian cucu kakek itu."
Kakek itu sangat terpukul, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.
Setelah melihat mayat cucunya yang terbujur kaku.
Kakek itu kemudian melihat mayat Kim Song Ji, dari bekas Lukanya kakek Che Yu paham penjahat ini telah mati dibunuh Mian Mian cucu nya kemudian Mian Mian memilih mati bunuh diri menebus aib yang menimpa dirinya.
Sesaat kakek Che Yu menghela nafas panjang, tapi ketika melihat senjata yang digunakan Kim Song Ji.
Kakek itu mengerutkan alisnya dan bertanya kepada Wu Song,
"Anak muda senjata apa yang digunakan oleh penjahat ini?"
Wu Song berkata dan menunjuk pedang di samping mayat itu, "Dia menggunakan pedang berganggang unik itu."
Kakek Che Yu bertanya curiga,
"Menurut cerita Mian Mian dulu, penjahat Pemetik Bunga itu selalu membawa suling, kenapa mayat ini malah membawa pedang.?"
Li Se Se dengan berani maju, sedikit mengangkat mayat itu menyamping, lalu dari punggungnya menarik keluar sebatang suling panjang.
Li Se Se hapal karena saat Kim Song Ji mau menodainya, dia ada melihat Kim Song Ji membawa sebatang suling yang di sisipkan di balik baju bagian punggungnya.
Wu Song menghela nafas lega, dia lupa memperhatikan hal ini.
Hampir saja pikir Wu Song menjadi masalah baru buatnya, seandainya tidak ada Li Se Se.
Wu Song menatap Li Se Se penuh rasa terimakasih, tapi gadis itu membalasnya dengan menjulurkan lidahnya kemudian mengandeng tangan Lu Ping tidak menghiraukan dirinya.
Wu Song pura-pura tidak melihat setelah berpamit dengan kakek Che Yu dia kembali naik ke kereta ingin pergi ke kota An Qing yang kabarnya penjahat ini banyak beraksi di sana.
__ADS_1
Ketika kereta Wu Song hampir pergi kakek Che Yu tiba-tiba berteriak,
"Anak muda siapa namamu,?." beritahu padaku agar yang tua ini tahu siapa yang melepaskan Budi pada kami."
Wu Song sambil tersenyum menoleh berkata,
"Nama ku Wu Song dari Lembah Alam Penebus Dosa Dewa Buangan."
Ucapan Wu Song membuat kakek itu mematung, kakek Che Yu merasa tidak enak hati.
Dia telah menuduh Wu Song tanpa bukti jelas.
Kini yang menolongnya dan cucunya justru, adalah Wu Song yang namanya telah mereka cemarkan.
Kakek Che Yu berpikiran sama dengan Mian Mian seandainya Wu Song pelakunya, Kakek Che Yu akan dengan senang hati memintanya bertanggung jawab menikahi cucunya.
Tapi semua itu cuma mimpi, Pemuda sebaik Wu Song mana mungkin melakukan perbuatan rendah seperti ini.
Kakek Che Yu menatap bayangan kereta Wu Song yang telah pergi jauh.
Kemudian dia memberi perintah pada kedua muridnya agar mengabari keluarga korban pemerkosaan di kota Zhang Zhou.
Bahwa pelakunya sudah tewas bernama Kim Song Ji bukan Wu Song.
Setelah kedua muridnya pergi, Che Yu memanggil muridnya yang lain untuk membantunya mengurus pemakaman Mian Mian cucunya.
dari dalam kereta.
"Hari ini untung ada adik Se Se bila tidak, entah akan terjadi masalah baru seperti apa."
"Suamiku, apa rencana mu untuk membalas Budi Se Se hari ini?!" tanya Lu Ping dari dalam kereta.
Wu Song kesulitan menjawabnya akhirnya setelah diam cukup lama akhirnya berkata,
"Terimakasih adik Se Se."
Tiba-tiba terdengar suara Se Se berkata,
"Hanya ucapan itu, pelit amat simpan saja."
"Dasar kayu."
Yang lainnya langsung tertawa mendengar Omelan Se Se.
Wu Song wajahnya memerah sampai ke telinga.
__ADS_1
Untungnya ke 4 wanita itu tidak melihatnya karena berada di dalam kereta.
Wu Song hanya bisa mengumpat dalam hati dan memperingatkan dirinya agar lebih sabar menanggapinya ini baru awal.
Masih panjang penderitaan nya bila gadis kecil itu terus nempel dengan Lu Ping.
Tidak butuh waktu lama Wu Song dan rombongannya tiba di kota An Qing, Wu Song langsung pergi menemui Walikota An Qing menyerahkan mayat Kim Song Ji.
Selanjutnya Jiang Nan San Ni Sia yang menjadi saksinya menceritakan semuanya kepada Walikota tersebut.
Setelah itu mereka berempat meninggalkan kota An Qing membiarkan Walikota tersebut yang menyampaikan semuanya kepada keluarga korban.
Dengan demikian mereka bisa banyak menghemat waktu, Wu Song memutuskan untuk pulang ke lembah setelah semua masalah tersebut selesai.
Di persimpangan jalan menuju lembah dan Jiang Nan.
Li San San dan Yi Sian Sian berpamit dan berpisah dengan Wu Song.
Li Se Se sudah memutuskan tidak akan ikut dengan kedua kakak seperguruan nya.
Dia pamit sambil berpelukan dengan kedua kakaknya.
Mereka mengiringi perpisahan mereka dengan linangan air mata, karena sejak kecil sampai besar mereka tidak pernah berpisah.
Li Se Se kemudian ikut dengan Lu Ping dan Wu Song menuju lembah.
Dengan adanya Li Se Se, Wu Song kehilangan kesempatan untuk bermanja-manja dan berkasih-kasihan dengan Lu Ping.
Dengan sedikit tidak puas dia hanya bisa Mendumel dalam hati saja.
Sikap Wu Song bukan tidak di ketahui oleh Lu Ping, tapi ini semua demi kebaikan Wu Song nanti pikirnya.
Jadi Lu Ping pura-pura tidak sadar akan keinginan Wu Song.
Sebenarnya hati dan perasaan nya sama dengan Wu Song, hanya dia memendamnya.
Sampai di lembah Wu Song Lu Ping dan
Li Se Se langsung pergi menghadap Lu Sun dan menceritakan semuanya.
Lu Sun bisa menghela nafas lega setelah mendengar semua cerita Lu Ping.
Li Se Se sebagai saksi korban ikut menguatkan cerita Lu Ping.
Wu Song sambil berlutut didepan ayah mertua nya dengan kepala tertunduk berkata,
__ADS_1
"Selanjutnya agar bisa memenuhi harapan ayah dan ibu ,.
Saya berencana membawa Lu Ping besok meninggalkan lembah pergi mencari Tabib Dewa pewaris Tabib Hua To yang termasyur itu."