LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
RASA BERSALAH WU SONG,


__ADS_3

Se Se yang sedang menunduk malu tidak berani menatap Wu Song langsung, secara tidak sengaja malah melihat hal tersebut.


Dia langsung tertawa sambil menutup mulutnya dan menunjuk kearah celana Wu Song yang bergerak-gerak seperti tikus besar sedang ngamuk didalam.


Wajah Wu Song menjadi merah, menghadapi Se Se yang nakal dan suka menggodanya.


Wu Song untuk menutupi rasa gugup dan malu di goda oleh Se Se yang nakal, Wu Song membalasnya dengan menggelitiki pinggang Se Se dengan gemas.


Se Se kaget dan menjerit kecil, lalu dia membalas Wu Song tidak mau kalah, akhirnya mereka berdua terlibat saling balas.


Tanpa sadar bergulingan di kasur, Wu Song dengan gemas menindih Se Se yang nakal ingin memberinya pelajaran.


Se Se menjerit-jerit sambil tertawa-tawa dan meminta ampun, tapi Wu Song yang terlanjur gemas terus menggelitiknya sampai nafas


Se Se terengah-engah menggap-meggap baru Wu Song menghentikan aksinya dan berbaring disebelah Se Se sambil tersenyum puas penuh kemenangan.


Setelah nafasnya sudah tenang kembali,


Se Se memiringkan tubuhnya menghadap kearah Wu Song.


Dia mendekati wajah Wu Song yang sedang tersenyum puas, kemudian dengan gemas ******* bibir Wu Song yang sedang tersenyum mengejeknya.


Wu Song sedikit terkejut, tapi sesaat kemudian insting lelaki menguasai jalan pikirannya.


Tanpa sadar dia mulai membalas ciuman Se Se dengan lembut, wangi tubuh Se Se yang sedang berada dalam dekapannya.


Memenuhi penciumannya, sehingga kesadarannya semakin kabur diganti oleh gelora nafsu seorang pria sejati.


Dengan kibasan tangan Wu Song mematikan lilin merah malam pertama kamar pengantin.


Dan menurunkan tirai kelambu, suasana kamar menjadi remang-remang hanya terdengar jerit tertahan Se Se.


Selanjutnya hanya terdengar suara desahan Se Se dan deru nafas memburu kedua insan yang sedang memadu kasih.


Ketika matahari bersinar memasuki kamar terlihat Se Se terbaring lemas dengan rambut kusut, tapi senyum kebahagiaan menghiasi wajahnya yang cantik.


Se Se masih tertidur pulas dengan nafas halus dan teratur.


Wu Song menatap Se Se sejenak, dengan segala macam perasaan bercampur aduk dalam benaknya.


Sambil tersenyum sedih Wu Song menghela nafas pelan, kemudian menyelimuti bagian atas dan bagian bawah Se Se yang sedikit tersingkap.


Wu Song dengan pelan-pelan turun dari ranjang merapikan pakaian dirinya dan Se Se yang berserakan di lantai,

__ADS_1


Menurunkan kelambu Kembali, lalu Wu Song keluar dari kamar pergi mandi setelah segar dan berganti pakaian bersih.


Wu Song berjalan menuju dapur menyiapkan sarapan untuk semua orang, Wu Song terlebih dahulu membawa sarapan ke kamar Lu Ping.


Lu Ping yang sedang duduk termenung menatap pemandangan bunga di taman obat sedikit terkejut ketika menyadari Wu Song masuk kedalam kamar nya membawa sarapan Mie dan pangsit kering kesukaan nya.


Lu Ping tersenyum pengertian menatap


Wu Song dan berkata,


"Ini masih hari bahagia buat kamu dan Se Se jangan terlalu memperdulikan aku."


"Kembalilah ke kamar pengantin kalian, aku tidak apa-apa jangan khawatirkan aku."ucap Lu Ping penuh pengertian kemudian membalikkan tubuh Wu Song mencoba mendorong punggung Wu Song keluar dari kamarnya.


Kemudian menutup pintu kamar mengganjal dengan tubuhnya memunggungi pintu dan sedikit berteriak,


"Kembalilah kekamar pengantin mu


Song ke ke berikan seluruh perhatian mu pada Se Se. "


"Buatlah dia sebanyak mungkin merasakan cinta, kasih sayang dan kebahagiaan dari mu, gadis malang itu tidak memiliki waktu yang banyak lagi " ucap Lu Ping dengan tubuh gemetar dan airmata berlinang membasahi pipinya.


Lain di mulut lain dihari, itulah yang dirasakan oleh Lu Ping saat ini.


Adalah kata-kata membohongi diri sendiri, bila mengatakan rela berbagi.


Yang terjadi adalah mulut tersenyum hati menangis, apapun alasannya tidak akan ada yang rela.


Begitu juga sebaliknya bila posisi di balik, maukah si pria tentu tidak.


Semua hanya lah alasan egois pria saja,


apa itu akan adil dan lain-lain.


itu hanya lah alasan klise munafik mencari alasan untuk pembenaran diri.


Menutupi keegoisan mengurangi sedikit rasa bersalah di dalam hati kecilnya agar hati kecilnya bisa lebih tenang dan nyaman.


Wu Song berdiri termenung di depan kamar Lu Ping, tidak tahu mau berkata apa yang jelas dia tahu dengan jelas.


Dia telah menyakiti hati Istrinya dengan sangat mendalam, apapun alasannya dalam hal ini Wu Song sadar sepenuhnya dia telah mengecewakan dan membuat wanita yang sangat di cintai nya bersedih.


Kini Wu Song sedikit dapat memahami perasaan ayah mertuanya, mengapa selalu penurut dan mengalah pada kedua ibu mertuanya.

__ADS_1


Rupanya seperti ini lah, yang di rasakan hati kecil nya pikir Wu Song dengan tatapan kosong dan diliputi penyesalan mendalam.


Tanpa berkata apa-apa Wu Song yang memiliki pendengaran tajam jelas dapat mendengar Isak tangis tertahan dari Lu Ping.


Setelah menghela nafas beberapa kali,


Wu Song berjalan meninggalkan tempat itu dengan perasaan hampa dan penuh penyesalan.


Wu Song bukan tidak mau mengeluarkan kata-kata menghibur Lu Ping, tapi dia tahu dengan jelas.


Kata-kata tidak akan berguna


Mengobati hati Lu Ping yang terlanjur di lukai nya dengan sangat dalam.


Wu Song kembali ke dapur mengambil sarapan buat Se Se, sekalian menenangkan gejolak di dalam hatinya agar tidak terlihat sedih di depan Se Se.


Yang hanya akan membawa kesedihan penyesalan dan rasa bersalah serta kembali melukai perasaan wanita yang lainnya.


Yang juga sangat tulus mencintai nya, bahkan rela mengorbankan nyawa nya untuk ditukar dengan sedikit perhatian yang singkat dari dirinya.


Setelah menghela nafas berulang kali, sambil memasang wajah tersenyum bahagia, Wu Song baru melangkah membawa sarapan buat Se Se.


Semua gerak-gerik Wu Song terlihat oleh Tabib Hua secara diam-diam.


Tabib Hua hanya menggelengkan kepalanya dan bergumam kecil,


"Bila dari awal sudah tahu akan begini jadinya, buat apa hari itu berbuat begitu."


"Sejak dahulu kala derita cinta tiada akhirnya." ucap Tabib Hua kembali bergumam.


Wu Song membawa sarapan masuk kedalam kamar, dia melihat Se Se sudah bangun dan sedang menyisir rambut.


Wu Song meletakkan sarapan di atas meja kemudian membantu Se Se menyisir rambut.


Se Se dari cermin menatap Wu Song sambil berkata,


"Terimakasih Song ke ke, kamu adalah suami yang paling istimewa' di dunia, tahu kah kamu aku sangat bahagia bisa menjadi istri mu."


Wu Song tersenyum lembut kemudian menunduk mencium pipi Se Se dan berkata,


"Kamu juga adalah gadis yang sangat baik."


Se Se tersenyum nakal dan berkata,

__ADS_1


"Mulai sekarang aku bukan gadis lagi, aku adalah wanita mu."


__ADS_2