LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
MENDATANGI KUIL SHAOLIN,


__ADS_3

"Tolong jaga keselamatan nya, dosa seperti ini bila sampai bocah tak berguna ini mampus hanya akan merusak nama Tuan Pendekar Besar yang mulia." ucap Lo Ih hati-hati.


Wu Song tersenyum menanggapi kata-kata Lo Ih dia kemudian berkata,


"Anda tidak perlu khawatir aku pasti akan menjaganya dengan baik, tanpa dia aku tidak akan bisa menemukan biksu itu."


Wu Song menatap kearah Cun Ming dan berkata,


"Ayo sekarang antar kami kembali ke Jiang Ling segera temukan biksu itu, bila kamu ingin cepat bebas."


Cun Ming langsung berdiri bergegas menuju perahunya bersiap-siap mengantar Wu Song dan Lu Ping kembali ke dermaga Cin.


Cun Ming ternyata sangat mahir membawa perahu hanya butuh 1 hari 1 malam melewati jalan pintas melalui sungai-sungai kecil.


Perahu mereka bertiga pun kembali ke dermaga Cin,


Wu Song ingin mampir mencari pemuda berkulit hitam yang mengantarkannya ke pulau karang merah kemarin.


Mengabarinya tidak perlu pergi menjemput dia dan Lu Ping.


Wu Song melihat kearah Lu Ping dan berkata,


"Sayang kamu dan Cun Ming tunggu aku di restoran terbesar di pelabuhan ini."


"Saya ada urusan sebentar, nanti saya akan menyusul kalian."


Lu Ping mengangguk tanpa banyak bicara, karena dia tahu Wu Song pasti ingin mengabari nelayan yang mengantar mereka kemarin.


Tapi tidak ingin di ketahui oleh Cun Ming, agar tidak mencari gara-gara dengan nelayan tersebut setelah mereka pergi nanti.


Wu Song kembali berkata,


"Sayang apa kira-kira hukuman yang dapat kamu berikan bila dia berani melarikan diri ?"


Wu Song sengaja berkata begitu agar Lu Ping menunjukkan sedikit kesaktiannya menakuti Cun Ming agar jangan berani macam-macam.


Lu Ping mengerti maksud Wu Song dengan santai dia menyarangkan lima jarinya kearah sebuah batu besar di pinggir sungai.


Batu itu seperti agar-agar bagi cakar Lu Ping, yang degan mudah terbenam kedalam batu keras tersenut.


Cun Ming yang melihatnya langsung menelan ludah wajahnya menjadi pucat pasi.


Cun Ming membayangkan bila yang di cengkram adalah anggota tubuhnya, maka tubuhnya pasti akan buyar cerai berai.


Wu Song hanya tersenyum reaksi Cun Ming, Wu Song memutar tubuhnya berjalan menyusuri pantai menuju kumpulan kapal para nelayan.

__ADS_1


Sedangkan Lu Ping langsung berjalan menuju salah satu restoran terbesar di sana, Cun Ming mengikuti dari belakangnya dengan patuh.


Wu Song menghampiri deretan perahu mencari-cari, akhirnya dia melihat kakek pemilik perahu.


Wu Song berjalan menghampirinya dan berkata,


"Lo Pek apa kabar ? kita bertemu lagi dimana Xiao Hei putra mu ? gimana kabarnya ?"


Kakek yang sedang membersihkan jaring penangkap ikan, sedikit terkejut mendengar ada yang menegurnya dari belakang.


Dia segera menoleh ke belakang melihat siap yang sedang berbicara dengannya,.saat melihat yang bicara adalah Wu Song dia sangat terkejut dan berkata,


"Anda-anda sudah kembali secepat ini ?"


"Xiao Hei lagi pulang kerumahnya, istrinya baru saja melahirkan.' ucap Kakek itu memberi penjelasan.


Wu Song tersenyum senang dan berkata,


"Lo Pek selamat ya, dan tolong sampaikan pada Xiao Hei, aku sudah kembali dia tidak perlu pergi menjemput ku lagi."


"Dan ini buat Xiao Hei sebagai ucapan selamat atas kelahiran putranya."


ucap Wu Song sambil memberikan sekantung uang perak.


"Terimakasih anak muda, bagaimana bila anda ikut saya mampir kerumah kami sebentar biar kami bisa menjamu anda."


Wu Song menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Sekarang belum bisa Lo Pek, tapi mungkin lain waktu saja, saya dan istri saya masih ada urusan yang harus segera kami selesaikan."


Kakek itu tersenyum dan berkata,


"Baiklah lain kali saja, bila ada waktu mampirlah kemari."


Wu Song mengangguk dan berkata,


"Baiklah Lo Pek, Lo Pek saya pamit dulu istri ku menunggu ku di restoran pelabuhan."


Kakek nelayan itu mengangguk dan menatap punggung Wu Song yang berjalan menjauh.


Wu Song tak lama kemudian sudah kembali ke Restoran di mana terlihat Cun Ming dan Lu Ping sedang makan udang kepiting dan ikan dengan serunya.


Wu Song sudah terbiasa dengan gaya makan Lu Ping yang akhir-akhir ini semakin banyak dan sehari bisa makan sampai 5 atau 6 kali.


Wu Song berpikir ini wajar karena Lu Ping sedang mengandung sekarang.

__ADS_1


Wu Song ikut duduk dan menikmati hidangan yang disajikan diatas meja.


Lu Ping melirik Wu Song sambil makan dan bertanya,


"Gimana sudah beres.?"


Wu Song hanya menjawab dengan anggukan sambil sibuk makan kepiting.


Selesai makan mereka kembali ke kota Jiang Ling, Wu Song dan Cun Ming berkeliling mencari biksu yang memberikan Cun Ming uang untuk menjebak Lu Ping.


Sedangkan Lu Ping karena sedang mengandung Wu Song memintanya beristirahat di penginapan.


Setelah berkeliling hampir seharian dan Cun Ming pun sudah terlihat sangat lelah, Wu Song memutuskan.


Pencarian di lanjutkan besok pagi saja, lalu mereka berdua pun kembali ke penginapan untuk istirahat.


Keesokan paginya, pagi-pagi Wu Song dan Cun Ming mulai bergerak, kini mereka mencari ke semua biara Buddha mencari biksu itu.


Sungguh tidak mudah mencari seorang biksu yang hanya di kenali lewat wajahnya saja.


Bahkan namanya Cun Ming tidak tahu.


Setelah mencari seluruh biara di Jiang Ling dan sempat beberapa kali bentrok dengan pengurus biara, biksu itu tetap tidak di temukan.kan.


Akhirnya Wu Song dan Lu Ping memutuskan meninggalkan kota Jiang Ling, mencari biara-biara yang terletak tidak jauh dari Jiang Ling.


Tapi hasilnya tetap nihil, sebagai harapan terakhir Wu Song dan Lu Ping membawa Cun Ming menuju Siong San.


Markas Pusat Siaw Lim Si ( kuil Shaolin ) untuk mempersingkat waktu Wu Song dan Lu Ping membawa Cun Ming melakukan perjalanan dengan terbang.


Cun Ming terkejut setengah mati, dia tidak berani bergerak sedikitpun dalam cekalan Wu Song.


Dia takut sedikit kesalahan saja tubuhnya terjatuh kebawah tentu akan hancur lebur, dan dia bisa tewas tanpa jasad


Karena menempuh perjalanan dengan terbang dalam dua hari mereka sudah dapat melihat dari kaki gunung Siong .


Sebuah biara yang sangat megah dan indah berdiri di puncak gunung Siong dengan gagah.


Baru saja melakukan pendakian, perjalanan mereka di hadang oleh 4 orang biksu muda yang bertubuh tegap dan gagah.


Mereka ber 4 memberikan hormat kepada rombongan Wu Song dengan telapak tangan terbuka miring didepan dada dan berkata,


"San Chai...San Chai... San Chai...!


"Tolong berhenti Si Cu bertiga , kalian telah memasuki Wilayah Kuil kami." ucap salah satu dari 4 biksu itu dengan sopan.

__ADS_1


__ADS_2