
Lu Ping memegang pipi Wu Song menariknya menghadap kearahnya kemudian tersenyum manis kepada Wu Song.
Senyum ini sedari dulu selalu berhasil membuat Wu Song melongo seperti orang terkena hipnotis.
Saat ini pun tidak terkecuali, Wu Song melongo dengan mulut sedikit terbuka.
Meski Lu Ping sekarang adalah Istrinya, dan Wu Song sudah melihat dan memiliki Lu Ping seutuhnya.
Tapi senyuman memukau ini, mungkin selamanya akan tetap membuat Wu Song melongo tanpa dapat mengendalikan diri.
Lu Ping menyadari hal itu, sejak menginjak usia 12 tahun. Terkadang kalau lagi timbul iseng dia suka menggoda Wu Song dengan cara ini.
Saat ini dia lagi ingin mengerjai Wu Song, makanya dia sengaja tersenyum manis kearah Wu Song, sambil berkata dengan suara mesra.
"Itu basah bukan karena ngompol tapi terkena cairan mimpi basah ku, ketika bermimpi bermesraan dengan mu."
Ucapan lembut dan mesra dari Lu Ping, sontak membuat mulut Wu Song semakin terbuka lebar. Sepasang matanya terbelalak menatap percaya kearah Istrinya.
Lu Ping menyuapkan mie kemulut Wu Song yang terbuka sambil tertawa,
"Dasar,... aku membohongi mu, begitu juga percaya,... di sini selalu dipenuhi pikiran kotor." ucap Lu Ping sambil menunjuk kening suaminya
"Pantes Ilmu 18 Tapak Penahluk Naga harus menghabiskan waktu seharian baru bisa rampung." ucap Lu Ping menggoda Wu Song.
Wu Song mengunyah mie yang disuapi istrinya setelah menelannya Wu Song menyuap mie dan pangsit kemulut Istrinya.
Sambil tersenyum pahit dia berkata,
"Aku tidak bisa berkonsentrasi bukan karena pikiran seperti itu, tapi hati ku tidak tenang, melihat mu yang kesal dan kecewa tadi pagi."
"Di satu sisi aku ingin datang menghibur mu, di sisi lain aku harus fokus berlatih. Akhirnya karena terburu-buru bukan nya cepat malah semakin lambat."
"Apalagi ketika kamu marah dan membanting pintu masuk kedalam pondok, aku tahu kamu pasti menangis kesal. Aku semakin ingin menghiburmu tapi tidak bisa meninggalkan latihan ku."
"Hasilnya latihan ku semakin kacau dan semakin tidak fokus, membutuhkan waktu cukup lama untuk mengumpulkan fokus ku."
Mendengar cerita Wu Song, Lu Ping sedikit termenung dan menyadari sikap kekanak-kanakannya tadi pagi ternyata mengganggu proses latihan Wu Song.
Lu Ping menyentuh tangan Wu Song sambil berkata,
"Maafkan sifat konyol ku hari ini ya, aku janji tidak akan terulang lagi."
Wu Song menyentuh lembut tangan Istrinya sambil berkata,
__ADS_1
"Sudah lupakan saja, yang penting saat ini kamu bahagia, bagi ku itu sudah lebih dari cukup.
"Ooh Ya kamu belum jawab, bagaimana kamu bisa tahu aku juga belum makan?"
Lu Ping tersenyum tapi matanya berkaca-kaca berkata, itu mudah sejak kecil Song ke ke tidak akan berselera makan, bila melihat aku kesal, kecewa, sedih apalagi sampai menangis.
Wu Song cepat-cepat mencium sepasang mata istrinya dan berkata,
"Sudah-sudah jangan dibahas lagi, ayo kita selesaikan makan kita."
"Setelah itu kita manfaatkan waktu yang singkat ini untuk bersenang-senang saja ok..?"
Tak lama kemudian dari dalam kamar Wu Song terdengar suara cekikikan Lu Ping, kemudian disusul dengan suara desahan halus dan suara nafas memburu bercampur menjadi satu.
Di dalam Pondok sebelah Wu Song terlihat Bun Houw tubuhnya melayang dengan posisi terbalik dan dikelilingi oleh 11 matahari.
Tubuh nya terlihat di penuhi keringat dan gemetaran, sedangkan kedua alisnya bertaut.
Wajahnya sampai keleher terlihat merah padam.
Mulutnya terlihat mendesis-desis menahan sakit, kelihatannya dia telah berlatih melampaui batas kemampuan nya, Dia mengalami salah jalan dalam latihan karena terlalu memaksakan diri.
Yi Yi yang kebetulan datang mencarinya, berdiri terpaku di depan pintu.
Untuk sesaat Yi Yi sedikit shock melihat kondisi kekasihnya.
Selalu mendorongnya mundur, Yi Yi terpaksa mengerahkan ilmu 9 bulannya, dia akhirnya dapat mendekati Bun Houw.
Yi Yi meletakkan tangannya di punggung Bun Houw menyalurkan tenaga sakti 9 bulan, perlahan-lahan kondisi Bun Houw berangsur-angsur pulih dan kembali normal lagi..
Bun Houw kembali duduk bersila, perlahan-lahan membuka matanya, dia sangat terkejut orang yang menolongnya ternyata adalah Yi Yi.
Bagaimana bisa pikir Bun Houw, bukan kah Yi Yi selama ini tidak bisa ilmu silat sedikitpun.
Sambil tersenyum Bun Houw bertanya,
"Yi Yi kamukah yang menolongku barusan ini?"
Yi Yi tersenyum lembut sambil memegang tangan kekasihnya menjawab,
"Tidak usah dipikirkan, yang penting saat ini Bun Houw Ke ke dalam keadaan selamat."
Bun Houw menatap heran kemudian bertanya,
__ADS_1
"Bagaimana bisa bukannya kamu tidak pernah berlatih. ilmu silat sama sekali..?"
Yi Yi terlihat termenung seperti sedang memikirkan sesuatu, kemudian perlahan-lahan bercerita,
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Yi Yi mengapa tiba-tiba dia mampu menolong Bun Houw yang sedang mengalami salah jalan dalam berlatih.
Beberapa hari yang lalu ketika semua orang sedang sibuk, Yi Yi duduk termenung di halaman belakang dapur.
Dia duduk melamun seorang diri, Xue Yen yang kebetulan lewat melihat nya.
Kemudian dia menghampiri Yi Yi dan duduk disebelah nya.
Yi Yi tersadar dari lamunannya ketika menyadari ada orang yang duduk disebelah nya.
Begitu menoleh Yi Yi sangat terkejut, ketika menyadari yang duduk disebelah nya adalah Ibu Guru Xue Yen.
Yi Yi cepat-cepat memberi hormat sambil berkata,
Maaf, Yi Yi telah berlaku tidak sopan karena terlambat menyadari kehadiran Tante...Eh bibi...eh kakak..." ucap Xue Yen bingung.
Xue Yen tersenyum, begitu tersenyum wajahnya terlihat sangat cantik, bahkan sebagai wanita pun Yi Yi terpesona di buatnya.
Didalam hati Xue Yen mengakui istri guru Lu Sun ini adalah wanita yang sangat cantik susah dicari tandingannya.
Xue Yen sambil tersenyum berkata,
"Santai saja kenapa kamu begitu panik dan terbengong-bengong begitu melihatku? apakah ada yang salah dengan wajahku."
Dengan malu-malu Yi Yi berkata,
"Aku bingung mau memanggil apa kepada mu, panggil Tante..bibi.. rasanya kurang cocok karena kamu masih begitu awet muda dan cantik.
"Tapi bila memanggil mu kakak rasanya tidak sopan."ucap Yi Yi polos.
"Kamu ini bocah... mulut mu manis sekali, begini saja bagaimana bila kamu panggil saya guru saja..?"
Yi Yi sangat terkejut cepat-cepat berlutut, dan berkata.
"Terimakasih banyak, guru bersedia menerima aku yang tidak bisa apa-apa ini menjadi murid mu."
"Nah sekarang ceritakan lah pada guru kenapa kamu duduk sendirian termenung di sini ?" tanya Xue Yen sambil menatap Yi Yi.
Yi Yi pun bercerita dengan terus terang, "sebenarnya dia sangat iri dengan kakak Lu Ping yang memiliki Wu Song yang sangat mencintainya.
__ADS_1
Sebentar lagi mereka juga akan menikah."
Di bandingkan dirinya yang kini sangat kesepian, situasi dan kondisinya seperti bumi dan langit, Bun Houw akhir-akhir selalu sibuk berlatih mengejar cita-cita dan masa depannya.