
Bahkan bila ditangkis sekalipun percikan dari ledakan pertemuan kedua tenaga tetap akan menimbulkan kebakaran dan pembekuan dimana-mana.
Pai Mei Lau Jen yang melihat jurusnya masih kurang efektif dan ruangan nya mulai terjadi kebakaran.
Pai Mei Lau Jen menarik jurusnya menggantinya dengan jurus lain, dimana tarian dan sabetan pedang nya membawa serangkum angin kencang yang langsung memadamkan sebagian api dan mencairkan gumpalan es yang membeku.
Kemudian air dari es membeku dan api yang terbawa oleh sabetan pedang tertarik bergulung-gulung mengikuti pedang Pai Mei Lau Jen.
Lalu di sabetkan kearah perisai yang dibuat oleh orang berpakaian hitam itu.
Pai Mei Lau Jen juga melepaskan pedangnya yang kemudian membelah diri menjadi ribuan pedang mengikuti arah jari Pai Mei Lau Jen melesat menyerang kubah perisai lawannya.
Ribuan pedang menghujam dengan deras kearah perisai pelindung lawannya, saat perisai menahan dan mementalkan kembali ribuan pedang.
Pai Mei Lau Jen meningkatkan kekuatan energi Chi pedangnya, sehingga ribuan pedang kembali menghujam lebih deras.
Berulang kali Pai Mei Lau Jen meningkatkan kekuatan hujaman pedang kearah perisai hingga perisai mulai retak.
Hantaman energi bulan dan matahari juga semakin jarang di lakukan lagi, karena setiap hantaman malah akan ditarik oleh Pai Mei Lau Jen untuk menghantam membalik kearah perisai lawannya.
Tinggal satu kali hantaman lagi perisai tersebut tentu akan meledak, lawannya mungkin akan tewas atau minimal terluka parah.
Di saat kritis itu Tetua kedua terlempar kearah Pai Mei Lau Jen sehingga menabrak Pai Mei Lau Jen yang sedang konsentrasi menghancurkan perisai lawannya.
Pai Mei Lau Jen tidak menyadari karena sedang berkonsentrasi penuh berusaha mengakhiri perlawanan musuhnya.
Saat menyadarinya tubuh tetua kedua sudah berada sangat dekat dengannya, dia tidak sempat lagi menghindar.
Pilihan nya hanya menepis nya, tapi itu tidak mungkin terjadi, karena yang terlempar kearahnya bukan musuh yang datang menyerang.
Sehingga Pai Mei Lau Jen terpaksa menghentikan serangannya, lalu menerima tubuh adik seperguruan nya.
beberapa detik peluang itu cukup bagi orang yang berada dalam perisai melesat keluar dari pelindungnya.
Berubah menjadi sebuah cahaya menyilaukan melesat sangat cepat kearah Pai Mei Lau Jen dengan sepasang cakar.
Pai Mei Lau Jen setelah meletakkan tetua kedua langsung membalik badannya menangkis serangan dari depan dengan sabetan pedang nya yang mengeluarkan cahaya merah.
Sedangkan serangan dari arah samping yang dilakukan oleh musuh tetua kedua, Pai Mei Lau Jen menggunakan tangan kirinya memberikan serangan jarak jauh untuk mengantisipasi nya.
Sehingga orang berpakaian hitam yang menyerang dari samping terpaksa membatalkan niatnya, membuang diri kesamping dengan tubuh melayang berputaran kesamping.
__ADS_1
Saat Pai Mei Lau Jen ingin meneruskan jurus penutup menghajar orang di depan nya.
Dia merasa sedikit perih di bagian perutnya.
Saat dia melirik ke bawah, ternyata perutnya sudah tertembus sebatang pedang dari belakang tembus hingga kedepan.
Darah mengalir deras dari luka diperutnya yang tertembus sebilah pedang, Pai Mei Lau Jen lalu menoleh menatap tak percaya kearah adik ke-dua nya.
"Maaf kakak pertama.." ucap tetua ke 2 melompat mundur menjauh, sambil menarik pedangnya.
Darah menyembur seperti keran bocor saat pedang tercabut dari lukanya.
Pai Mei Lau Jen tidak sempat memperhatikan lukanya, dia harus kembali fokus menghadapi serangan sepasang cakar yang terus melaju kencang kearah kepala dan lehernya.
Dia menggunakan seluruh tenaga terakhirnya menebas kearah kedua cakar tersebut.
Tapi pedangnya tidak membuat musuhnya menarik serangan nya, malah musuhnya mencengkram pedangnya dari samping.
Sedangkan tangannya yang lain dari cakar berubah menjadi tapak yang menimbulkan angin bercuitan tajam dan cahaya merah kehitaman menyelimuti tapak yang bergerak aneh dan cepat.
Tapak itu saat menyentuh dada kiri Pai Mei Lau Jen, tapak sedikit diputar.
Sehingga dada yang melesak kedalam seperti diulir.
Nyawanya langsung melayang dengan jantung pecah.
Tidak cukup sampai di sana, orang berpakaian hitam tersebut.
Menusuk dibagian perut yang tertembus pedang dengan serulingnya, sampai tembus ke punggung.
Dan menghadiahkan sebuah pukulan cakar kearah kepala Pai Mei Lau Jen sampai menembus tengkorak kepala nya.
Lalu mereka bertiga memasuki jalan rahasia di pimpin oleh tetua kedua, tapi saat tiba didepan pintu tembus.
Tetua kedua memberi tanda kearah dua orang berpakaian hitam agar menghentikan langkah mereka.
Lalu dia sendiri memasuki taman rahasia menuju gua Terlarang, sambil membawa buah persik dan dua piring bebek panggang dan sepiring ayam kukus, serta sebotol arak Hang Zhou simpanan yang sangat wangi.
Berdiri didepan gua yang paling tengah Tetua kedua berteriak,
"Supek Couw murid Pai Hu Lao Jen datang menghadap membawakan sedikit makanan buat Susiok Couw."
__ADS_1
Tak lama kemudian dari dalam gua terdengar suara halus dan sabar.
"Di mana Pai Mei ? kenapa kamu yang datang bukan dia ?"
Lalu sesosok tubuh tiba-tiba muncul didepan Tetua kedua saat asap putih yang menyelimutinya hilang.
Sambil berlutut dengan kepala tertunduk, tetua kedua menjawab,
"Kakak pertama sedang melakukan meditasi tertutup, dan menyerahkan posisi dan semua tanggung jawab sebagai ketua kepadaku."
Kakek yang muncul dari kabut putih tertawa dan berkata,
"Ya... memang sudah seharusnya Pai Mei beristirahat dari jabatan yang melelahkan itu."
"Pantes saja tadi dia membawa mu kemari dan menurunkan ilmu penutup pedang Xu San pada mu."
Tetua kedua sangat terkejut ternyata pendengaran dan penglihatan Supek Couw nya begitu tajam.
Untungnya dia tadi memilih datang sendirian, tidak membawa kedua teman kerja samanya itu.
Bila tidak, dia dan teman-temannya akan berada dalam masalah besar.
Karena kesaktian Supek Couw nya ini mungkin 10x lipat di atas kakak tertuanya itu.
Tanpa banyak basa-basi lagi, Supek Couw langsung duduk bersila dan berkata,
"Kamu kelihatannya jauh lebih cerdik dari Pai Mei yang selalu datang membawa buah persik untuk ku ."
"Dari mana kamu tahu semua makanan kesukaan ku ini ?" tanya Supek Couw Fu Su kepada tetua kedua, sambil mulai menyambar botol arak dan langsung minum dari botol tersebut.
Tetua kedua sambil menunduk menjawab,
"Aku mengetahuinya dari koki Fei Mao."
"Fei... marga Fei apa hubungannya dengan Fei Yi."?"
"Murid tidak begitu tahu, mungkin itu leluhurnya, tapi murid juga tidak yakin." jawab tetua ke dua jujur.
Fu Su mengangguk dan mulai makan minum dengan lahap.
Fu Su adalah kakak seperguruan dewa Fu Si, dia sebenarnya bisa menjadi dewa lebih duluan ketimbang Fu Si.
__ADS_1
Tapi demi makan enak dia melepaskan kesempatan menjadi dewa, dan lebih memilih menjadi manusia saja.