LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
ROMBONGAN WU SONG DIHADANG DI JALAN,


__ADS_3

Wu Song dan Lu Ping duduk di bangku depan berangkulan mesra sambil melihat pemandangan kota Hang Zhou lewat jalur sungai.


Sedangkan Bun Houw dan Yi Yi duduk di bangku bagian belakang, Bun Houw masih terlihat duduk memejamkan matanya.


Yi Yi tiba-tiba berteriak panik dari bagian belakang,


"Sayang kamu kenapa?...jangan menakuti ku...


Song Ke ke cepat lihat Bun Houw kenapa?"


Seluruh tubuh Bun Houw bergetar hebat, tubuhnya sebentar biru sebentar merah.


Ekspresinya menunjukkan dia sedang kesakitan, badan dan wajahnya basah keringat.


Wu Song dengan sigap menotok beberapa jalan darah ditubuh Bun Houw, dan meletakkan tangannya di ubun-ubun kepala Bun Houw.


Terlihat asap tipis membumbung dari kepala Bun Houw, sesaat kemudian tubuh dan wajah Bun Houw mulai tenang kembali.


Bertepatan dengan Wu Song menarik tangannya, Bun Houw juga membuka matanya.


Yi Yi masih terlihat khawatir dia meraba-raba dada Bun Houw sambil bertanya,


"Sayang kamu tidak apa-apa, kamu tadi membuatku ku ketakutan setengah mati."


"Untung ada Song ke ke yang menolong mu bila tidak gak tahu apa jadinya, aku sungguh tidak berani membayangkan nya."


Bun Houw tersenyum lembut menatap Ceng Ceng dia berkata,


"Jangan khawatir aku tidak apa-apa kamu tenang saja."


Kemudian dia mengelus rambut Yi Yi dengan lembut lalu melihat kearah Wu Song sambil berkata,


'Terima kasih kakak Song maaf merepotkan kamu jadinya."


Wu Song tersenyum menggoyang kan tangannya berkata,


"Masalah kecil, kita adalah saudara tak perlu banyak peradatan."


"Hanya latihan jangan terlalu memaksakan diri dan tidak boleh buru-buru bila tidak kamu bisa salah jalan."


"Ringan cacat berat bahkan bisa kehilangan nyawa, jadi berhati-hatilah dalam berlatih." ucap Wu Song memberi nasehat.


Bun Houw termenung mendengar nasehat yang diberikan oleh Wu Song, apa yang dia pikirkan tidak ada yang tahu.


Wu Song kembali menghadap ke depan, meneruskan menemani Lu Ping melihat pesona kota Hang Zhou.


Lu Ping menanggapinya biasa saja karena adiknya Lu Fan juga pernah mengalami hal itu beberapa kali karena gila berlatih dan terlalu bersemangat.


Lu Ping kembali menyandarkan kepalanya di dada Wu Song.


Bun Houw masih sedikit lemas, untuk sementara dia menemani Yi Yi menikmati wisata air sambil melihat pemandangan kota Hang Zhou.

__ADS_1


Perahu yang dikendalikan tukang perahu Akhirnya menepi kembali ketempat asal mereka naik tadi.


Wu Song membayar ongkos sewa perahu, setelah itu mengajak rombongan kecilnya meninggalkan kota Hang Zhou.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju Lembah tempat tinggal Wu Song dan Lu Ping.


Pada hari ketiga mereka tiba diperbatasan RU NAN, mereka harus menghentikan perjalanan mereka karena didepan mereka ada yang menghalangi perjalan mereka.


Yang menghadang paling depan adalah 7 Pendekar Thian San dan ketua partai Thian San.


Dibelakang mereka terlihat seorang pemuda berusia 25 tahun yang tampan dan gagah tatapan matanya sangat lembut, ramah dan bersahabat tidak terlihat ada niat jahat sama sekali.


Disampingnya ada jendral Xie dan ajudannya , dibelakang mereka ada pasukan berkuda diperkirakan mencapai 5000 orang.


Xie Jin Kui melangkah kedepan kemudian menunjuk Yi Yi yang berdiri ketakutan dibelakang Wu Song dan Lu Ping.


Jendral Xie Jin Kui menunjuk Yi Yi berkata,


"Anak durhaka kamu berani meninggalkan rumah tanpa pamit, ikut dengan pria bangsat tidak tahu balas Budi itu...!!"


Yi Yi terlihat pucat dan gemetaran tidak tahu mau menjawab apa, menghadapi kemarahan Ayahnya.


Bun Houw merangkul bahu Yi Yi untuk menenangkannya.


Melihat hal itu Xie Jin Kui semakin marah, dia langsung kembali berteriak dengan emosi.


"Lepaskan tangan kotor mu dari bahu anak ku, Bajingannn tidak tahu balas Budi !!"


Jendral Xie ingin menerjang kedepan, tapi dihalangi oleh Ketua Thian San yang memberinya kode agar bersabar, serahkan urusan ini padanya.


Jendral Xie pun mundur dan menatap Bun Houw dengan penuh kemarahan dan kebencian.


Perlahan-lahan ketua Thian San maju, kemudian berkata,


"Anak muda di sini tidak ada urusan mu , cepatlah pergi jangan suka mencampuri urusan orang lain."


Wu Song tersenyum dan berkata,


"Bun Houw adalah saudara ku tentu dalam hal ini aku akan ikut campur."


"Lagipula kulihat Xie Yi Yi, putri Jendral Xie ikut dengannya tanpa paksaan. Mereka berdua terlihat saling mencintai apa salahnya mereka bersama..?"


"Anak muda mungkin kamu tidak tahu putri Jendral Xie ini sudah dipertunang kan dengan putra ku sejak kecil."


"Bila kamu masih tetap membelanya, kamu akan menyandang nama jelek, membantu menculik putri orang dan merebut tunangan orang lain." ucap Ketua Thian San mencoba menjelaskan dan membujuk Wu Song tidak ikut terlibat.


Wu Song melihat kearah Xie Yi Yi dan bertanya,


"Yi Yi apakah kamu ingin ikut pulang dengan ayahmu..?"


Yi Yi langsung menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Wu Song kembali bertanya,


"Yi Yi apakah saudara Bun Houw menculikmu untuk ikut dengannya atau mengancam dirimu..?"


Yi Yi kembali menggelengkan kepalanya..


"Yi Yi apakah kamu mencintai dan ingin menikah dengan putra ketua Thian San..?" tanya Wu Song sambil menunjuk ke arah Yang Jian.


Yi Yi kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata,


"Maafkan aku Yang Ta Ke ( kakak Yang), aku hanya mencintai Bun Houw ke ke selain dia aku tidak ingin menikah dengan siapa pun."


Yang Jian hanya tersenyum sedih dan mengangguk sambil bergumam,


"Ya aku mengerti."


Wu Song kini menatap tajam kearah ketua Thian San sambil berkata,


"Tuduhan mu tadi tidak berdasar, kamu lihat sendiri kan jawaban Yi Yi barusan."


Ketua Thian San masih tidak menyerah dia melanjutkan kata-katanya,


"Anak muda Yi Yi masih kecil tidak mengerti masalah, dia telah dikelabui mulut manis dan rayuan gombal bajingan itu."


"Aku harap kamu tidak ikut campur masalah ini agar tidak ikut merusak masa depan gadis itu." ucap Yang Su kembali mencoba membujuk Wu Song.


Wu Song tersenyum sinis kemudian berkata,


"Ketua Yang anda seperti paranormal saja bisa meramal nasib dan masa depan orang."


"Menurut ku nasib dan masa depan mereka ada ditangan mereka, mereka sudah memilihnya. "


"Maka konsekwensinya ada pada mereka, mereka yang akan menanggungnya sendiri.


Tidak ada hubungannya dengan orang lain."


Orang terakhir Pendekar Thian San tampak tidak sabar, diapun berkata,


"Ketua tidak perlu banyak bicara lagi percuma,


Nanti dia semakin kurang ajar dan berpikir kita takut dengannya."


Ketua Thian San menghela nafas panjang dan berkata,


"Anak muda kamu tidak memberiku pilihan, Formasi 8 Mata angin..!" teriaknya memberi aba-aba.


Pedang mereka mulai berterbangan mengejar kearah Wu Song, Wu Song pernah menghadapi ke 7 Pendekar Thian San dipuncak gunung Hua San.


Jadi dia bersikap hati-hati dan segera mengeluarkan suling hitamnya.


Membentuk sebuah kubah pelindung, yang tercipta dari tiupan suling ditangan Wu Song.

__ADS_1


__ADS_2