
Di sebuah menara pagoda yang terdiri dari 5 lantai yang letaknya berada di belakang barisan Pasukan Rajawali Merah dan Shi Ma Ong.
Terlihat Yi Dao membawa dua orang tawanan dengan tangan terikat kebelakang, kaki terborgol rantai besi.
Kedua tawanan itu adalah Yi Yi dan putranya Thian San, melihat kemunculan mereka berdua dalam kondisi seperti itu hati Si Topeng Besi bagai diremas-remas.
Dia berdiri mematung seluruh tubuhnya memancarkan nafsu membunuh.
Otomatis 14 Pedang warna-warni berputar-putar di sekeliling tubuhnya.
Akibat kecemasan kesedihan dan kemarahan yang mencapai titik puncak, tanpa sadar kultivasi energi pedang pelangi, yang sedikit lagi menembus level 2 kini telah menerobos naik satu level.
Kekuatan yang dipancarkan oleh tubuhnya memaksa Pasukan Rajawali Merah kembali melangkah mundur.
Bahkan Shi Ma Ong dan Koai Lau Jen pun dipaksa mundur 1 tindak kebelakang.
Si Topeng Besi dengan tatapan tajam berkata,
"Apa kalian pikir kalian sanggup menahan ku menolong mereka.?"
"Sebelum aku membuka pantangan membunuh kalian semua tanpa sisa, ku anjurkan pada mu, lepaskan Yi Yi dan anaknya."
"Mereka tidak ada hubungannya dengan permasalahan diantara kita."
Shi Ma Ong tertawa, untuk menutupi rasa jeri yang menyelimuti hatinya, kemudian berkata.
"Kamu yang harus pikirkan baik-baik sebelum bertindak."
"Sebelum kamu sampai kesana, mereka berdua tentu sudah kehilangan nyawa."
"Jadi..."
Belum selesai Shi Ma Ong menyelesaikan kalimatnya, memanfaatkan Shi Ma Ong yang sedang berbicara.
Dengan cerdik Si Topeng Besi melesat menghilang dari tempatnya, kini tiba-tiba sudah muncul didekat menara, menyerang Yi Dao dengan tebasan energi pedang pelangi nya.
Tapi Tebasan itu terhalang oleh sebuah jaring yang mirip tirai menutupi menara tersebut.
Tebasan pedang pelangi yang sangat tajam membentur jaring tersebut, menimbulkan suara benturan logam yang nyaring dan memekakkan telinga.
Bunga api berpikar-pijar di saat Pedang dan jaring berbenturan.
Di saat bersamaan Shi Ma Ong dan Koai Lau Jen telah muncul di sisi kiri kanan Si Topeng Besi.
Shi Ma Ong melepaskan pukulan Tapak Buddha nya yang didukung tenaga Im Yang Sen Kung.
Sedangkan Koai Lau Jen melepaskan energi lautan pedang berbentuk tirai memaksa Si Topeng Besi mundur menjauh.
Benturan keras lawan keras kembali terjadi, kali ini Si Topeng Besi yang sedang melayang di udara dan tidak siap.
__ADS_1
Terpaksa harus membuang diri dengan bersalto di udara mematahkan daya dorong kedua serangan dari Shi Ma Ong dan Koai Lau Jen.
Si Topeng Besi Kembali mendarat di posisi di mana dia tadi berdiri dengan ringan.
Shi Ma Ong sambil tertawa gembira berkata,
"Kamu jangan mencoba mengulanginya lagi, selain percuma kamu hanya akan menemukan mayat ibu dan anak itu."
"Jaring itu sengaja ditempa khusus dengan bahan logam langka dari langit, jadi jangan harap kamu bisa menembusnya."
Selesai Shi Ma Ong berkata, terdengar teriakan Yi Yi dari puncak menara,
"Jangan lakukan itu bajingan biadab...!"
"Jangan lukai dia..!"
Ibu...! aahh...! Sakit...!"
terdengar teriakan Thian San menyusul teriakan Yi Yi.
Yi Yi juga mengigit bibirnya sendiri menahan rasa nyeri di telinga kirinya.
Rupanya akibat serangan tiba-tiba yang di lancarkan oleh Si Topeng Besi, Yi Dao langsung mengiris telinga Thian San sampai berdarah, kemudian dia juga mengiris daun telinga Yi Yi.
Hal ini dia lakukan untuk memberi pelajaran kepada Si Topeng Besi agar tidak sembarangan bergerak dan mengulangi perbuatannya tadi.
"Kakak Tampan tolong aku dan Ibu...!"
Si Topeng Besi berdiri mematung semua kekuatan yang terpancar dari tubuhnya lenyap seketika.
Hatinya menjadi dingin, dengan tatapan tak berdaya dia berkata,
"San er anak baik...! "
"Jangan takut...! "
"Kakak ada di sini..! "
"Kakak pasti akan membebaskan kalian..!"
Perlahan-lahan Si Topeng Besi menoleh kearah Shi Ma Ong dan menatapnya dengan tajam lalu bertanya,
"Cepat katakan apa mau mu..?"
Shi Ma Ong baru mau mengucapkan sesuatu, terdengar teriakan dari arah kepungan Pasukan Rajawali Merah yang langsung menyibak dan berlutut dengan kaki sebelah,
"Panglima Xie tiba..!"
Terlihat Xie Bun Houw memacu kudanya melewati barisan pasukan Rajawali Merah, setelah berada di hadapan Shi Ma Ong, dia baru melompat turun dari atas kudanya.
__ADS_1
Memberi hormat kearah Shi Ma Ong, lalu dia membangunkan Yue Fei dan Sin Yi yang terlihat berlutut di sampingnya.
"Bangunlah saudara ku jangan banyak peradatan.."
ucap Bun Houw sambil membangunkan Yue Fei dan istrinya.
"Kalian semua berdirilah..!"
ucap Bun Houw sambil menoleh kearah Pasukannya.
Bun Houw sekilas melirik keatas menara, dia melihat Yi Yi dan seorang anak kecil yang sedang terikat kedua tangannya ke belakang.
Lalu dia menoleh kearah Shi Ma Ong dan berkata,
"Yang Mulia apa yang terjadi,? kenapa anda menahan Yi Yi dan siapa anak itu.?"
Shi Ma Ong langsung berjalan mendekati Bun Houw dan merangkul bahunya, sambil berbisik dia berkata,
"Saudaraku wanita itu bukan lah Yi Yi mu yang dulu lagi, dia sekarang adalah musuh kita."
"Dia kini berada di sisi ayahnya Panglima Sie yang ditugaskan oleh kaisar untuk melawan kita."
"Kalau kamu tidak percaya boleh tanyakan kepada Yue Fei."
"Berapa banyak saudara seperjuangan mu, yang mati karena pukulan es abadi yang dia lepaskan."
"Aku bisa saja melepaskan mereka dengan memandang muka mu, saudara ku."
"Tapi apa kamu tidak mempertimbangkan perasaan saudara-saudara mu, yang mempercayakan nyawa mereka mengikuti mu."
Bun Houw terlihat sedikit meragu mendengar penjelasan Shi Ma Ong, dia melirik kearah Yue Fei, meminta penjelasan.
Yue Fei tidak berkata apa-apa, dia hanya menganggukkan kepalanya.
Melihat tanggapan Yue Fei, Bun Houw terlihat semakin ragu, dan berada dalam posisi serba salah.
Dia harus memilih antara saudara seperjuangan atau mantan kekasih.
Melihat hal ini Shi Ma Ong ini kembali meneruskan kata-katanya,
"Saudaraku sejak kamu menikah dengan almarhum bibi kecil ku, mantan mu itu sudah lama bersama pria bertopeng itu."
"Hal ini Koai Lau Jen pernah melihatnya dan melaporkan pada ku, hanya saja demi menjaga perasaan mu selama ini aku menyembunyikan nya dari mu."
"Ada kemungkinan anak itu adalah anak di luar nikahnya bersama pria bertopeng itu."
Mendengar ucapan Shi Ma Ong, wajah Bun Houw mengeras dan tersenyum dingin.
Sementara itu Yi Yi yang berada dipuncak menara begitu melihat kedatangan Bun Houw, hatinya di liputi rasa haru dan bahagia yang sulit di ungkapkan.
__ADS_1
Yi Yi berpikir Bun Houw ternyata masih begitu memikirkan dia dan putranya, sehingga jauh-jauh dari Jiang Xia menyusul kemari, hanya untuk membebaskannya.