
Wu Song mengikuti petunjuk Utara dalam sekejap mata sudah tiba di benteng pertahanan kerajaan Wirata.
Wu Song melihat pertempuran hebat sedang berlangsung, dimana Pasukan kerajaan Wirata yang di pimpin oleh beberapa jendral nya berusaha mati-matian mempertahankan benteng pertahanan mereka dari serangan pasukan kerajaan Chedi dan Pasukan raja Angga.
Wu Song dapat menebaknya dari seragam yang mereka gunakan, Pasukan Kerajaan Chedi Wu Song sudah pernah bertemu jadi dia hapal.
Sedangkan Pasukan satunya lagi milik raja Angga berwarna merah berbeda dengan kerajaan Chedi sehingga tidak sulit bagi Wu Song menebaknya.
Wu Song terlebih menurunkan pangeran Utara, yang langsung berlarian maju membantu pertahanan dan memberi semangat kepada Pasukan kerajaan Wirata.
Wu Song sendiri mengeluarkan suling hitamnya dan terbang di atas kepala Pasukan musuh lalu mulai meniup sulingnya.
Suara irama suling nya membuat pasukan musuh terdiam tak bergerak, sedangkan Pasukan kerajaan Wirata yang tidak terpengaruh tidak menyia-nyiakan kesempatan ini mereka membantai semua pasukan musuh yang tidak bergerak dengan mudah.
Pembantaian tanpa perlawanan pun terjadi bahkan Utara memimpin pasukannya keluar dari benteng dan terus bergerak melakukan pembantaian.
Raja Angga dan Raja Sisupala yang melihat keanehan tersebut memerintahkan pasukan mereka untuk mundur lewat tiupan terompet.
Tapi hanya sebagian kecil bagian belakang Pasukan mereka yang berhasil ditarik mundur sisanya 3/4 nya berdiri mematung menunggu di bantai satu persatu.
Raja Angga yang melihat Pasukan nya di bantai satu persatu sangat marah, dia curiga manusia yang sedang terbang dan meniup suling itulah biang keroknya.
Dia pun memerintahkan kusir kereta nya untuk membawanya maju mendekat kearah Wu Song.
Tapi baru memasuki jangkauan tembak panahnya, kusir kereta nya berdiri mematung.
Raja Angga sendiri tidak terpengaruh alunan suara suling Wu Song karena di lindungi oleh sepasang anting dari dewa matahari.
Wu Song juga dapat melihat kehebatan pemuda yang berdiri gagah di atas kereta perangnya.
Wu Song sudah bisa menebaknya, inilah raja Angga yang terkenal gagah dan sangat di takuti oleh musuh-musuhnya itu.
Wu Song melihat pemuda gagah itu sepertinya tidak terpengaruh irama suling nya.
Malah kini sedang mengarahkan panahnya kearah Wu Song, Wu Song juga melihat sekilas Pasukan kerajaan Wirata yang di pimpin oleh Utara sudah mulai kelelahan membantai musuh yang sangat banyak meski hanya berdiam diri tak bergerak.
Wu Song meningkatkan suara iramanya sehingga membuat pasukan musuh yang berdiri diam kini jatuh satu persatu dengan jantung pecah.
Sementara itu Utara yang melihat Pasukan musuh kini tewas bertumbangan dengan sendirinya.
__ADS_1
Dia langsung memimpin pasukan nya, mundur masuk kedalam benteng untuk istirahat.
Pintu gerbang benteng pun kemudian ditutup kembali.
Sementara itu Raja Angga sendiri sudah menembakkan puluhan batang panah kearah Wu Song.
Tapi tidak ada panahnya yang bisa menyentuh Wu Song, semuaanaj panah sebelum mencapai Wu Song tertolak oleh aura yang halus.
Melihat hal itu raja Angga menjadi sangat marah, akhirnya dia membaca mantra berkomat-kamit baru melepaskan 3 batang panahnya kearah Wu Song.
Panah yang sudah di beri mantra mengeluarkan cahaya seperti sebuah segel berbentuk segitiga yang ada huruf-huruf mantra tulisan sansekerta kuno.
Melesat menembus perisai suara Wu Song dan terus meluncur mendekati Wu Song, Wu Song terbang tinggi ke angkasa tapi ketiga anak panah bersegel terus mengejarnya.
Wu Song sedikit kagum dan terkejut, ternyata pemuda itu memiliki kemampuan pantas saja sangat di takuti dan disegani.
Wu Song mengerahkan Im Yang Sen Kung kedalam sulingnya lalu menebaskan sebuah energi biru merah kearah Ketiga anak panah yang mengejarnya.
Terjadi ledakan diudara saat kedua kekuatan bertemu, diawali dengan retaknya segel mantra Kemudian pecah berkeping-keping, disusul dengan patahnya Ketiga anak panah jatuh keatas tanah.
Raja Angga yang melihat jatuhnya ketiga anak panah didepan nya.
"Wahai manusia berkulit kuning, kamu cukup hebat."
"Aku memandang kemampuan mu, ikutlah denganku aku tidak akan menyulitkan mu.
Harta dan kekuasaan berlimpah menunggu mu di masa depan."
Wu Song tertawa keras sambil melayang berkata,
"Harta aku banyak, kekuasaan aku tidak butuh."
"Ku sarankan bawalah Pasukan mu kembali atau ini akan menjadi kekalahan pertama mu."
Raja Angga menatap tajam kearah Wu Song dan berkata,
"Sebutkan nama mu agar aku bisa menulisnya di pusara mu."
Wu Song tersenyum dingin dan berkata,
__ADS_1
"Tak perlu menipu ku, katakan saja terus terang kamu ingin menulis nama ku di mantra segel mu agar panah mu tidak meleset, betul ?"
"Tapi aku tidak takut, nama ku Wu Song tulislah sebesar-besarnya agar lebih akurat."
ucap Wu Song sinis.
Wu Song bukannya sombong tapi dia sudah membaca orang didepan nya ini sangat tinggi hati dan percaya diri.
Wu Song harus membuatnya panas agar mengeluarkan semua kesaktian nya, karena Wu Song sedikit penasaran dengan ilmu baru ini.
Raja Angga tidak memperdulikan ejekan Wu Song dia segera fokus membaca mantra.
Kemudian keluar seberkas cahaya merah sihir mantra di depan anak panah nya yang direntangkan.
Begitu anak panah dilesatkan terjadi perubahan cuaca langit menjadi gelap, petir tertarik mengikuti anak panah menyambar kearah Wu Song.
Wu Song mengerahkan kekuatan kekekalan Semesta, tubuhnya duduk terbang di udara di selimuti cahaya keemasan yang lembut.
Perlahan-lahan Wu Song mengangkat sulingnya menggambar sebentuk gambar Swastika lalu mendorongnya kearah anak panah yang di lindungi segel mantra.
Kedua kekuatan kembali bertemu dan meledak di udara lagi-lagi segel mantra hancur berkeping-keping dan anak panah patah dan terjatuh didepan raja Angga.
Raja Angga tidak puas dia terus mencoba dan terus mencoba berbagai macam anak panah nya tapi selalu berakhir kekalahannya.
Raja Angga Kemudian memejamkan matanya mulutnya berkomat-kamit membaca mantra memasang kuda-kuda setengah berjongkok kini anak panahnya tidak diarahkan ke Wu Song tapi ke atas langit.
Begitu anak panah dilepaskan, kearah langit panah tersebut meluncur dahsyat menembus awan dan langit sampai di angkasa raya.
Panah baru kembali meluncur turun dengan membawa kekuatan alam semesta seperti bintang jatuh membawa kekuatan penghancur yang sangat dahsyat terarah ke Wu Song.
Wu Song kembali menggambar cahaya Swastika dengan pengerahan kekuatan kekekalan Semesta dan kekuatan Im Yang Sen Kung.
Dua kekuatan yang lebih dahsyat kembali bertemu diudara cahaya kuning keemasan bertemu cahaya hitam dari kegelapan semesta.
Terjadi ledakan dahsyat yang menggetarkan bumi dan langit.
Langit kembali cerah seperti biasa setelah kedua kekuatan dahsyat meledak di udara..
Keadaan kembali menjadi tenang, Wu Song masih duduk melayang diudara dengan tenang sambil tersenyum.
__ADS_1