
Pagi-pagi didepan Pondok Wu Song dan Bun Houw sudah terlihat, Lu Sun menjelaskan sambil mempraktekkan jurus 18 Tapak Penahluk Naga kepada Wu Song dan Bun Houw.
Lu Fan juga terlihat duduk di sana dengan bosan, karena Wu Song dan Bun Houw sibuk berlatih dia jadi kehilangan teman ngobrol.
Sedangkan 18 Tapak Penahluk Naga milik ayahnya, dia sudah sangat hapal dan tidak menarik minatnya lagi.
Baginya ilmu itu cuma mainan anak kecil.
Reaksi berbeda sebaliknya terjadi pada Bun Houw, dia dengan sangat serius melatih ilmu tersebut.
Lu Sun hari itu menurunkan 10 jurus pada mereka berdua, karena melihat bakat dan kecerdasan mereka berdua, Lu Sun tidak ragu menurunkan 10 jurus untuk mereka latih.
Bahkan Lu Sun melihat Bun Houw bakatnya melebihi Wu Song, kalaupun dia turunkan 18 jurus sekaligus. Dia memperkirakan Bun Houw paling sedikit bisa menyerap 80 persen.
Cuma Wu Song kelihatannya agak berat, mungkin dengan 10 jurus dia hanya bisa menyerap 80 persen, kalau 18 jurus mungkin tidak sampai 50 persen penyerapan nya.
Lu Sun kemudian berpesan pada Wu Song dan Bun Houw,
"Kalian berdua lanjutkan latihan kalian sampai bisa dan menguasai 10 jurus itu dengan lancar."
"Besok pagi saya sendiri akan mengujinya, Lu Fan tolong bantu mengawasi latihan mereka berdua, kalau ada yang kurang pas gerakan nya kamu bantu mereka." Selesai berpesan Lu Sun berjalan kembali ke Pondok Xue Yen.
Lu Fan tidak menjawab pesan dari ayahnya cuma mengangguk kecil tanda mengerti.
Sedangkan Lu Ping duduk dengan wajah cemberut sejak pagi tadi, dia merasa sangat terganggu.
Dia masih ingin menikmati kemesraan bersama Wu Song tadi pagi, melanjutkan kemesraan semalam yang sangat memuaskan, sehingga dia semalam kecapekan dan tertidur pulas.
Tapi tadi pagi baru saja dia dan Wu Song mau memulainya, suara panggilan Lu Sun didepan pondok kepada Wu Song.
Membuat Wu Song bergegas meninggalkan nya seorang diri di ranjang.
Sehingga dia sangat kesal, di dalam pikiran nya beberapa kali terlintas membalas perbuatan ayahnya yang tidak memberinya waktu berbulan madu dengan Wu Song.
Bahkan dia berpikir akan melemparkan mercon ke kamar ayahnya, saat nanti malam akan bermesraan dengan ibunya.
Tapi dia membatalkan niatnya karena takut dengan ibunya, karena bila ibunya sampai marah dia akan dengan tega menyiksanya.
Dan tidak akan ada yang berani melarang atau pun menolongnya.
Lu Ping masih ingat sewaktu kecil dia membuat ibunya marah, dia ditelanjangi lalu diikat di sebatang pohon yang penuh dengan semut merah.
Hari itu bila guru Xiang Lung dan Giok Yen tidak datang menolongnya, entah jadi apa nasibnya.
Akhirnya Lu Ping hanya bisa duduk melamun menelan kekesalan.
__ADS_1
Wu Song melihat kekesalan istrinya, tapi dia tidak berdaya pergi menghiburnya.
Dia hanya bisa lebih fokus dan menyelesaikan latihan nya, agar bisa cepat-cepat pergi menghibur Istrinya.
Tapi sungguh tidak mudah semakin dia ingin cepat-cepat malah hasilnya tidak bagus.
Karena fokus nya sedikit terbagi hasil latihan nya menjadi kacau.
Hampir setengah hari dia berlatih belum rampung juga, Sedangkan Bun Houw sudah rampung dan pergi menyiapkan makan siang.
Akhirnya dengan kesal Lu Ping masuk kedalam Pondok membanting pintu dan menangis didalam kamar sampai akhirnya tertidur.
Wu Song melewatkan makan siang nya dan terus berlatih akhirnya menjelang sore dia baru rampung.
Sedangkan Bun Houw sudah melanjutkan merampungkan 8 jurus tersisa dibawah petunjuk Lu Fan.
Bun Houw dengan cerdik memanas--manasi Lu Fan dengan membandingkan kemampuannya dengan Lu Sun.
Sambil memberi sogokan arak Hang Zhou yang dia beli, sewaktu pergi ke kota terdekat untuk berbelanja bumbu dapur.
Alhasil selain mendapatkan 8 jurus sisa dari 18 Tapak Penahluk Naga yang akan diturunkan Lu Sun esok hari, Bun Houw juga mendapatkan rapalan 9 Matahari sampai level 15.
Tapi karena struktur tubuhnya masih struktur tubuh manusia biasa, dia hanya bisa berlatih sampai level 10.
Wu Song setelah merampungkan latihannya, menjadi khawatir. Karena dia sepanjang hari tidak melihat Lu Ping keluar dari Pondok mereka.
Dia cepat-cepat pergi ke dapur memasak pangsit dan mie goreng kesukaan Lu Ping.
Berbeda dengan Ceng Ceng, Lu Ping lebih suka pangsit kering.
Selesai masak Wu Song tidak perduli dirinya yang juga lapar dan belum makan siang
langsung membawa masakannya menuju Pondok, dan Wu Song langsung membawa masakannya kekamar. Sampai dikamar Wu Song melihat Lu Ping masih tertidur.
Wu Song menaruh masakannya dimeja, kemudian duduk disisi ranjang. Tubuhnya membungkuk menempelkan bibirnya didekat telinga Lu Ping, sambil berbisik.
"Sayang bangunlah...sayang...sayang bangunlah... yuk makan aku sudah masak pangsit dan mie goreng kesukaan mu dulu."
Lu Ping sedikit menggeliat kemudian perlahan-lahan membuka matanya.
Melihat Wu Song yang berada disisinya, menatapnya dengan lembut dan mesra.
Lu Ping mengulurkan tangannya membelai wajah Wu Song, kemudian dia meraih leher Wu Song dengan sepasang tangannya dan menarik Wu Song kebawah untuk berciuman mesra.
Wu Song melayani Lu Ping sejenak, dia tahu istrinya sedang ingin bermesraan.
__ADS_1
Ketika Wu Song merasa gerakan Istrinya mulai tidak beraturan dan sedikit mendesah-desah.
Wu Song menghentikan ciuman dan cumbuannya, dia berbisik lembut ditelinga Lu Ping.
"Sayang ingat makan dulu... aku sudah masakkan pangsit dan mie goreng kesukaan mu di meja...kamu dari pagi tadi kan, belum sempat makan.."
Lu Ping mendesah manja berkata,
"Iihh... sebel deh Song ke ke... ini.
Merusak suasana saja.."
Lu Ping memukul dada Wu Song dengan ringan berkata, dengan manja.
"Aku mau di suapin Song ke ke."
Wu Song tersenyum kemudian dia bangun membawa masakannya ke ranjang menaruhnya di sisi Lu Ping, kemudian dengan sabar menyuapi istrinya.
Makan sesuap Lu Ping bertanya,
"Song Ke ke ada bawa sumpit lebih satu lagi?"
Wu Song meletakkan mangkuk dan sumpit di sisi ranjang untuk mengambil sumpit yang di letakkan di meja sambil bertanya balik,
"ada ,"
"kenapa sayang ?"
Setelah bertanya Wu Song kembali duduk disisi ranjang dan memberikan sumpit kepada istrinya.
Lu Ping menerima sumpit dari Wu Song sambil tersenyum mesra, kemudian dia mengambil mangkuk yang berisi mie goreng dan berkata,
"Aku tahu kamu juga pasti belum makan siang kan ?"
Wu Song tersenyum, kemudian bertanya,
"Bagaimana kamu tahu, bukan kah kamu tadi siang kesal. Lalu kembali kekamar menangis dan tertidur sampai sekarang?"
Lu Ping menyuapi Wu Song sambil bertanya heran,
"Bagaimana kamu tahu aku menangis? bukankah kamu terlalu sibuk berlatih sampai melupakan aku."
Wu Song sambil mengunyah dan menelan mie yang disuapkan istrinya dia menunjuk kearah selimut dan kasur yang masih sedikit basah.
"Jangan bilang kalau itu bekas ngompol mu."
__ADS_1