
Kini Wu Song, Lu Ping, Bun Houw, Yi Yi, dan Lu Fan, berdiri didepan dua pondok yang mereka bangun bersama-sama ini.
Mereka berlima menatap bangga, hasil karya kerjasama mereka berlima.
Wu Song, Lu Fan, dan Bun Houw saling pandang kemudian mereka bertiga tertawa bersama penuh kepuasan.
Wu Song menatap Bun Houw dan berkata,
"Adik Bun kamu pilih pondok yang mana..?"
Bun Houw sambil tersenyum berkata,
"Tidakkah terbalik, harusnya aku yang bertanya padamu, karena mulai besok dan seterusnya pondok yang kalian pilih hari ini.
Akan menjadi pondok kalian berdua dan anak-anak kalian kelak."
Wu Song dan Lu Ping saling menatap sejenak, Lu Ping mengerti Wu Song ingin dia yang memilih.
Lu Ping kemudian memasuki kedua pondok satu persatu dan berkeliling di sekitar pondok seperti orang yang mau membeli rumah.
"Semua sama saja kak, gakda bedanya.
Mau bertelur aja susah amat .!" teriak Lu Fan menggoda kakaknya
Lu Ping menoleh dan langsung memelototi Lu Fan. Tapi cuma sesaat saja, dia kembali melihat kedua pondok lagi dan berkata,
"Aku pilih rumah yang sebelah kanan ini, bagaimana Song ke ke..?"
Wu Song mengangguk "asal kamu suka, aku ikut saja."
Lu Sun dan kedua Istrinya berjalan menghampiri mereka berlima, Lu Sun kemudian bertanya.
"Jadi yang mana rumah Wu Song yang mana rumah Bun Houw? apa kalian sudah memutuskannya?"
Mereka berempat maju memberi hormat kepada Lu Sun hanya Lu Fan yang terlihat santai, pura-pura tidak tahu sambil ngupil.
Wu Song yang menjawab, "sudah ayah aku dan Lu Ping pilih Pondok yang kanan ini."
"Kamu panggil dia apa? acaranya masih besok, kakak Song kenapa jadi begitu tidak sabaran.
Tertular kakak ku ya?" goda Lu Fan sambil tertawa.
Wu Song wajahnya menjadi merah, dia tidak ingin menanggapi candaan Lu Fan.
Tapi Lu Sun terpancing, dan langsung membela Wu Song sambil berkata,
__ADS_1
"Wu Song berbeda dengan mu, dia sangat sopan dan tahu menghargai yang lebih tua.
Tidak seperti dirimu yang kurang ajar dan nakal dasar anak monyet."
Sambil tersenyum nakal Lu Fan berkata,
"Kalau .Aku anak monyet kamu bapaknya monyet, dan guru mu kan seekor monyet."
Sehabis berkata, Lu Fan melompat keatas menggunakan Jin Tou Yun melarikan diri sebelum di amuk ayahnya.
Lu Sun ingin marah tapi Lu Fan sudah pergi jadi dia hanya bisa menelannya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Setelah menghela nafas panjang menenangkan hati, Lu Sun melanjutkan kata-katanya,
"Pondok Wu Song sebelah kanan, berarti pondok Bun Houw yang sebelah kiri."
"Bun Houw kamu sekarang adalah muridku, karena kamu memiliki alasan tersendiri belum siap berkeluarga saat ini." ucap Lu Sun mengingatkan.
"Kamu tidak boleh membawa Yi Yi tinggal satu pondok dengan mu, biarlah Yi Yi tinggal di pondok Siau Ching saja." sambung Lu Sun tegas.
Bun Houw menunduk menjawab dengan hormat,
Murid mengikuti saran Guru, murid mengucapkan terima kasih atas perhatian guru. Yang bermaksud menjaga nama baik kami berdua.
Lu Sun menatap Wu Song dan Bun Houw secara bergantian kemudian berkata,
"Aku tidak tahu perkembangan ilmu silat kalian berdua saat ini jadi aku tidak tahu memulainya dari mana."
"Bun Houw coba kamu perlihatkan semua kemampuan mu padaku saat ini." perintah Lu Sun kemudian melangkah mundur bersama kedua Istrinya memberi ruang kepada Bun Houw.
Bun Houw mulai memainkan beberapa jurus Feng Yun Wen Hua ajaran Wu Song dengan disertai Im Yang Sen Kung miliknya.
Bun Houw tidak memiliki perubahan dan gerakan sehalus Wu Song, karena bagaimanapun dia bukan seorang sastrawan.
Tapi beberapa huruf yang dikuasainya dapat dia praktekkan dengan cukup sempurna, ditunjang dengan tenaga sakti miliknya gerakan nya terlihat mantap.
Lu Sun mengangukkan kepalanya setelah Bun Houw mempraktekkan semua kemampuannya.
Lu Sun menatap Bun Houw yang berdiri menundukkan kepala dihadapannya
"Bun Houw kamu sudah melatih tehnik pengolahan dan penggunaan tenaga sakti, aku tidak akan menurunkan Ilmu 9 matahari ku padamu karena itu adalah tehnik pengolahan pernapasan."
"Aku akan langsung menurunkan Ilmu Xiang Lung se pa Cang (18 tapak Penahluk Naga) padamu."
"Aku akan jelaskan pelan-pelan padamu dan berusaha memberi contoh padamu, aku tidak bisa memberi contoh lewat gerakan secara sempurna karena tanganku tinggal satu."
__ADS_1
"Tapi aku akan menutupi kekurangan-kekurangan ini dengan penjelasan kata-kata."
"Kalian juga boleh minta petunjuk pada Lu Fan dia sudah berhasil melatihnya dengan sempurna."
"Wu Song sekarang giliran mu menunjukkan kemampuan mu." ucap Lu Sun menatap kearah Wu Song.
Wu Song mulai memainkan Feng Yun Wen Hua yang dipadu dengan Im Yang Sen Kung dan 72 langkah tanpa bayangan (Wu Ying 72 Pian PU)
Cuaca sekitar mulai berubah kadang dingin kadang panas, dari ayunan sulit hitam Wu Song mengeluarkan suara merdu yang dapat mempengaruhi jalan pikiran orang.
Wu Song juga dapat muncul dan hilang tiba-tiba dan berubah menjadi 8 orang.
Wu Song setiap melakukan serangan selalu seperti orang sedang menulis indah, gerakan Wu Song lebih halus dan perubahan variasi serangannya tidak terbatas. Karena penguasaan sastra nya yang tinggi.
Lu Sun mengangguk, kemudian berkata "cukup Song Er, kamu akan ikut bersama Bun Houw mempelajari ilmu ku, kecuali ilmu meringankan tubuh aku hanya akan ajarkan pada Bun Houw saja.
Saat ini kalian bersantai saja, dan Bun Houw jangan lupa menyiapkan makan malam.
Setelah pernikahan Wu Song besok selesai, aku akan mulai melatih kalian berdua.
Setelah memberi pesan Lu Sun kembali ke Pondok Xue Yen bersama kedua Istrinya.
Bun Houw tadi melihat ilmu silat Wu Song tidak sama dengan yang dimainkannya tadi.
Tapi dia tidak mau bertanya, karena Wu Song tentu memiliki pertimbangan sendiri dalam menurunkan ilmu padanya.
Setelah Lu Sun pergi mereka ber 4 mengobrol santai biasa, tanpa membahas topik ilmu silat.
Mereka malah membahas ilmu memasak dengan antusias, Bun Houw hanya menjawab sekedarnya kemudian dia pamit kembali ke pondoknya sendiri dengan alasan sudah ngantuk. Sampai dikamar dia duduk berlatih Im Yang Sen Kung.
Lu Ping dan Yi Yi kembali ke pondok Siau Ching, sedangkan Wu Song setelah masuk kedalam pondok sejenak, dia keluar lagi kemudian berbaring di halaman depan pondok menatap bintang.
Wu Song suka menatap bintang, karena dengan menatap bintang dia seolah-olah dapat melihat orang-orang yang disayangi dan dicintainya sedang menatap dirinya.
Dia seperti dapat melihat wajah ibunya ayahnya dan wajah Ceng Ceng.
Wu Song sampai saat ini belum dapat melupakan perasaannya terhadap Ceng Ceng sepenuhnya.
Besok dia sudah akan menikah dengan Lu Ping, tapi bagaimana pun dia berusaha.
Dia tetap tidak bisa melupakan semua kenangan dirinya bersama Ceng Ceng.
Saat ini dia hanya dapat menyimpan semua kenangan bersama Ceng Ceng di relung hatinya yang terdalam.
Saat sedang seorang diri seperti ini, adalah waktu paling tepat untuk mengenang semua kenangan indah bersama Ceng Ceng dulu.
__ADS_1