
Wu Song mendarat ringan di jalan kecil itu, Jalan kecil itu ditutupi formasi ilusi hutan bambu.
Setelah melewati formasi itu, Wu Song menemukan formasi jebakan berbahaya yang bernama Formasi Tombak langit.
Siapapun yang masuk kedalam formasi ini, akan terus menerus di hujani serangan tombak dari langit tanpa jeda.
Formasi ini masuk nya mudah tapi keluarnya hampir mustahil.
Setelah melakukan pemeriksaan Wu Song pun terbang kembali ke Han Gu Kuan untuk menemui gurunya sekaligus mertuanya Lu Sun.
Wu Song yakin Bun Houw bila bertemu formasi tadi dia pasti akan kembali mundur, tidak akan mengambil resiko menggunakan jalan kecil itu.
Wu Song mendarat ringan di depan perkemahan utama mertuanya.
Melihat kedatangan Wu Song yang tiba-tiba , Pasukan Naga Hitam langsung mengepungnya dengan ketat.
"Siapa nama mu cepat laporkan ? apa tujuan mu kemari..?"
tanya seorang komandan pengawal sambil menatap Wu Song dengan tajam..
Wu Song memberi hormat dengan sopan kemudian berkata,
"Nama ku Wu Song,. kedatangan ku ingin menghadap Guru ku Lu Sun.."
Mendengar penjelasan Wu Song kepungan pun mengendor, kepala komandan menyuruh anak buahnya melaporkan ke dalam kemah.
Tapi sebelum pengawal masuk kedalam kemah melapor, di situ telah hadir Lu Sun Xue Yen bahkan Lu Fan dan Sonia juga terlihat hadir di sana.
Di belakang mereka berbaris rapi 7 orang jendral kepercayaan Lu Sun.
Melihat kehadiran Lu Sun, Wu Song langsung menjatuhkan diri berlutut di depan Lu Sun dan berkata,
"Song er memberi salam hormat kepada guru dan Ibu guru.."
"Bangunlah Song Er, kamu semakin hebat saja sekarang, aku sudah tidak cocok jadi guru mu.."
ucap Lu Sun sambil tertawa.
Wu Song bangun berdiri dan berkata,
"Ayah bicara apa, sekali menjadi murid mu selamanya Song er tetap adalah murid mu."
"Kakak Song sudahlah jangan terlalu banyak basa-basi dengan ayah ayo masuk ke dalam untuk membahas bagaimana menghadapi musuh didepan mata.."
Lu Sun melirik kearah Lu Fan dan berkata,
"Masih berani banyak omong lagi, masalah kamu meninggalkan tugas pergi ke Xiao Pei saja belum selesai.."
Lu Fan meleletkan lidahnya lalu mundur kebelakang Xue Yen mencari perlindungan.
Xue Yen menepuk tangan Lu Fan menenangkan anaknya, dan berkata.
"Fan er masih mudah emosional itu biasa apa yang perlu diributkan."
"Lagipula dia sangat berbakti dengan makam ayah mertuanya yang di ganggu orang apa salahnya..?"
Melihat Xue Yen sudah ikut maju bicara, Lu Sun yang sangat hapal sifat istrinya yang sangat dia manja ini.
__ADS_1
Dia pun tidak berani menjawabnya, hanya tersenyum canggung dan berkata,
"Ya...ya..kamu benar.."
"Ayo semua mari kita masuk kedalam meneruskan pembahasan kita tadi.."
Lu Sun buru-buru masuk kedalam kemah tanpa banyak membantah.
Melihat hal ini, ke 7 jendral bawahan Lu Sun saling pandang menutup mulut mereka menahan tawa.
Lu Fan Tersenyum penuh kemenangan tapi saat melihat tatapan Wu Song yang penuh teguran.
Lu Fan langsung menunduk kan Kepalanya buru-buru masuk kedalam kemah diikuti oleh Sonia di belakangnya.
Setelah semuanya berkumpul di dalam kemah Lu Sun pun mulai bicara.
"Saat ini menurut kalian kemana Pasukan Rajawali Merah akan bergerak..?"
Jendral Wu dan Jendral Kam dengan Kompak menunjuk kearah Meng Jin.
Yang lain kelihatannya setuju dengan pendapat itu.
"Tapi di Meng Jin cuma dermaga kecil tidak bisa menampung Pasukan Rajawali Merah yang berjumlah besar."
"Di Meng Jin juga tidak tersedia kapal pengangkut dan perahu... bagaimana mereka akan bisa kabur dari sana..?"
Tanya He Siong heran.
Jendral Kam pun berbicara,
"Kalian tentu tidak lupa bagaimana Pasukan Rajawali Merah dulu mengangkat dan memperbaiki kapal-kapal yang mereka tenggelam kan di Xiang Ping."
"Pasukan Rajawali Merah mengenakan baju pelindung yang bukan terbuat dari bahan besi ataupun logam.."
"Mereka mengenakan pelindung dari karet dan kulit, sehingga saat berada di atas air mereka akan mengapung.."
"Tapi bukannya di Meng Jin sudah dipasangi formasi bahkan di sungai pun juga di pasangi formasi."
ucap He Siong belum mau kalah.
Wu Song sambil tersenyum tenang berkata,
"Adik Siong, Bun Houw itu adalah adik seperguruan ku, dia adalah seorang yang sangat cerdik dan berbakat.."
"Semua yang di kuasai guru Lu dan saya dia pun bisa."
"Masalah formasi bukan hal sulit bagi dia untuk memecahkannya."
Mendengar hal itu, He Siong pun terdiam.
Beberapa saat kemudian suasana menjadi hening.
"Apakah kalian ada yang tahu ribuan kapal sedang bergerak menuju kemari...?"
tanya Wu Song hati-hati.
Semua orang agak terkejut mendengar ucapan Wu Song, mereka menoleh menatap Wu Song dengan heran.
__ADS_1
Melihat reaksi mereka Wu Song pun berkata,
"Aku melihat Ribuan kapal besar datang kemari saat melakukan patroli udara.."
"Dari bendera kebesaran yang mereka gunakan berlambang seorang manusia di kelilingi oleh petir."
"Aku menebak mereka juga berasal dari perguruan persilatan, hanya saja kelihatannya mereka bukan berasal dari persilatan daratan tengah."
"Tapi dari pantauan ku, kekuatan mereka tidak bisa di remehkan, bahkan Shaolin saat ini bukan lawannya.."
Mendengar ucapan Wu Song semua orang sangat kaget.
Hanya Lu Sun Xue Yen dan Lu Fan yang terlihat tetap bersikap tenang dan percaya diri.
Lu Sun akhirnya angkat bicara kalau begitu kita harus bertindak cepat menghancurkan musuh utama.
Baru nanti kita pikirkan cara untuk menghadapi bala bantuan musuh yang datang.
Jendral Wu kamu segera hubungi panglima Sie, besok pagi-pagi kita semua akan bergerak menyerang Luo Yang.
"Song Chin Lin Cong Yuda paman Hao, Chin Yang Chin Hao dan Sui San dengar perintah.!"
Ke 7 orang itu maju berlutut di depan Lu Sun dengan tertib, menundukkan kepalanya mengangkat kedua tangan yang di kepalkan keatas kepala mendengar perintah dari Lu Sun.
"Kalian bertujuh persiapkan seluruh pasukan Naga Hitam, besok pagi kalian akan menjadi Pasukan garis depan sebagai pendobrak benteng kota Luo Yang.!"
"Siap jendral...!"
Jawab mereka kompak...
"He Siong Ma Yan Lung dengar perintah.!"
"Kedua orang itu maju memberi hormat sambil membungkukkan badannya."
"Siap jendral..."
jawab mereka serempak.
"Kalian akan membawa pasukan kalian sebagai Pasukan pendukung Pasukan Naga Hitam."
"Jendral Wu Jendral Kam dengar perintah.!"
Kedua jendral itu juga maju memberi penghormatan dengan membungkukkan tubuh mereka memberi hormat.
"Siap jendral..!"
ucap mereka kompak.
kalian ditugaskan melakukan penjagaan Han Gu Kuan dengan taruhan nyawa."
"Sampai mati pun tidak boleh mundur meninggalkan Han Gu Kuan..."
Kedua orang itu mengangguk dan berkata,
"Kami terima perintah..!"
Di hati kedua orang itu sebenarnya kurang puas mereka hanya mendapat tugas berjaga di Han Gu Kuan.
__ADS_1
.