
Shi Ma Ong melihat kearah Im Yang Cin Jin yang diam saja, dia pun berkata,
"Biksu Hong Sin perlu kembali ke Shaolin mengumpulkan kekuatan untuk pertempuran berikutnya, sedangkan Pai Hu lau Jen juga sama."
"Mereka berdua harus secepatnya menguatkan posisi mereka di kedua perguruan mereka."
"Senior Im Yang Cin Jin, apakah anda sudah memiliki rencana, coba kemukakan kalau ada.?"
Im Yang Cin Jin mengerti, dia tidak bisa menghindar lagi semua orang sudah memiliki tugas kini hanya tinggal dirinya yang belum punya ide dan tugas.
Im Yang Cin Jin memberi hormat ke Shi Ma Ong dan berkata,
"Hamba akan berangkat ke daerah Utara mohon petunjuk dari biksu Hong Sin, mengenai tempat tinggal Raja Tinju Bintang Utara."
Biksu Hong Sin menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Saya juga tidak tahu, saya hanya mendengar kesaktian dan namanya saja, sedangkan mengenai posisi pastinya beliau berada, saya juga tidak tahu dengan jelas."
"Mohon Maag saudara Im Yang Cin Jin."
ucap Biksu Hong Sin sambil merangkapkan sepasang tangannya didepan dada dan memberi hormat kepada Im Yang Cin Jin.
Im Yang Cin Jin mengumpat dalam hati,
"Anj*Ng benar kamu, kamu berani meyebut nama tanpa tahu tempat tinggalnya, bukankah ini kamu sengaja mengerjai ku."
"Ini sama saja menyuruhku mencari jarum di dalam lautan."
Shi Ma Ong mengetahui hal itu, tapi dia pura-pura tidak melihat dan tidak tahu urusan.
"Ada lagi yang punya ide lain ?"
tanya Shi Ma Ong kemudian.
Setelah melihat beberapa yang hadir tidak ada respon, Shi Ma Ong pun berkata,
"Baiklah kalau begitu kita putuskan begitu saja.
Mereka masing-masing langsung bergerak, kecuali Koai Lau Jen yang masih menunggu kedatangan Yi Dao membawa saudaranya.
Shi Ma Ong dan Koai Lau Jen terlibat pembicaraan serius dengan Shi Ma Ong menceritakan detil yang akan dia lakukan untuk mendapatkan kedua bala bantuan dari Xu San.
Shi Ma Ong hanya mendengarkan sambil mengangguk-angguk.
Tak lama kemudian Yi Dao pun kembali dengan seorang pemuda yang cukup tampan terselip sebatang rumput di ujung bibirnya.
pakaian yang dikenakannya sangat sederhana, tapi sepasang matanya menunjukkan kecerdikan dan kenakalan.
__ADS_1
Melihat kedatangan pemuda tersebut Shi Ma Ong pun mempersilahkan nya untuk duduk dan berkata,
"Silahkan duduk anak muda, nama mu Yi Han bukan ?"
"Adik Yi Dao memberi hormat dulu kepada Shi Ma Ong dan berkata,
"Benar nama ku Yi Han, kalau yang mulia punya tugas untuk ku ceritakan saja, Yi Han akan berusaha melaksanakan nya."
Pangeran Shi Ma Ong sangat menyukai sikap dat perbawaan Yi Han yang pintar membawa diri.
Shi Ma Ong yakin misi sekali ini akan berhasil dan berjalan dengan lancar.
Shi Ma Ong sambil tersenyum ramah berkata,
"Misi kali ini adalah kamu akan mengikuti senior ini ke Xu San, menemui kakak seperguruannya Fu San ."
"Kamu harus menyamar menjadi anaknya yang bernama Fu Lang dan ibu mu bernama Ling Mei."
"Kamu harus mendekati Fu San mendapatkan kepercayaannya untuk membantu misi kita."
"Bila misi berakhir dan semua berjalan lancar, aku akan memberikan mu jabatan dan harta bagi mu."
"Selanjutnya untuk mensukseskan misi ini, Yi Han ikut saja dengan senior ini, dan belajar untuk selalu patuh padanya."
ucap Shi Ma Ong serius.
Yi Han tidak membantah dia langsung menjawab dengan anggukan cepat.
Koai Lau Jen pun berkata,
"Pangeran tolong undang ahli membuat tato di kulit kemari."
Tanpa banyak bertanya, Shi Ma Ong bertepuk tangan dua kali, seorang pelayan pun muncul dengan kepala tertunduk di hadapan pangeran Shi Ma Ong.
Shi Ma Ong langsung berpesan,
"Tolong kamu pergi mencari Kam Lopek si ahli tato itu kemari, secepatnya ya..!"
Pelayan tersebut mengangguk dan buru-buru pergi melaksanakan tugas dari tuannya.
Tak lama kemudian Pelayan tersebut telah kembali membawa seorang kakek yang membawa sebuah kotak kayu yang di gantung di pinggang nya.
Setelah memberi hormat Kakek tersebut bertanya,
"Ada urusan apa yang bisa saya bantu pangeran Shi Ma Ong..?"
Pangeran Shi Ma Ong melirik kearah Koai Lau Jen, Koai Lau Jen yang mengerti maksud tuan nya dia pun berkata,
__ADS_1
"Yi Han tolong buka baju mu ..!"
Yi Han tanpa banyak membantah membuka bajunya menampilkan sebentuk badan yang bidang dan atletis.
Koai Lau Jen melanjutkan berkata
"tunjukkan punggung mu, Yi Han...!"
Yi Han membalik badan terlihat sebuah punggung yang putih dan berkulit halus dan sedikit berotot.
Koai Lau Jen menunjuk bagian bawah pinggang Yi Han sambil berkata,
"Tolong bantu berikan tato tanda lahir berwarna merah di sini."
Kam Lopek mengangguk tanpa banyak bicara dia segera meletakkan peti kayunya di atas meja.
Membuka penutupnya memilih sebuah botol kecil dan sebatang pensil yang berujung besi lancip dan sangat tajam.
Kam Lopek memasukkan pensil kecil kedalam botol, sesaat kemudian dia mulai mengukir sebuah tanda merah di bawah pinggang Yi Han tidak jauh dari belahan pantatnya.
Yi Han mengigit bibir bawahnya menahan nyeri, keringat menetes-netes di keningnya.
Tidak membutuhkan waktu lama pekerjaan tersebut pun selesai.
Koai Lau Jen memeriksanya dan tersenyum puas.
Kemudian dia menatap kearah pangeran Shi Ma Ong dan mengangguk.
Shi Ma Ong menyuruh Kam Lopek pergi mengambil upahnya di bagian keuangan.
di antar oleh pelayan yang tadi menjemputnya datang.
Yi Han sudah mengenakan kembali bajunya dan berdiri diam menunggu perintah selanjutnya.
Koai Lau Jen memberi hormat kearah Shi Ma Ong dan berkata,
"Pangeran sekarang juga aku akan kembali ke Xu San menjalankan misi ku bersama Yi Han, sampai bertemu lagi."
Shi Ma Ong mengangguk dan memberi kode agar Koai Lau Jen bisa segera pergi menjalankan tugas nya.
Koai Lau Jen pun kemudian berkelebat pergi sambil menenteng kerah baju Yi Han seperti menenteng seekor anak kucing.
Setelah Koai Lau Jen pergi, Shi Ma Ong dan Yi Dao pun menyusul pergi meninggalkan kediaman mereka menuju Jiang Ling yang terletak tidak jauh dari kota Xiang Yang.
Wilayah selatan untuk menemui Si Dewa Pedang Zhou Wei Si dan Wen Pu si Roda Maut yang tinggalnya tidak jauh dari rumah Si Dewa Pedang.
Koai Lau Jen melakukan perjalanan dengan sangat cepat tanpa henti sehingga dalam waktu 3 hari mereka pun tiba di kaki gunung Xu San.
__ADS_1
Saat ingin naik keatas gunung Xu, Koai Lau Jen di hadang sekelompok murid Xu San dengan pedang di tangan kanan dan menunjuk ke wajah Koai Lau Jen.
.