
Rombongan itu baru sampai depan rumah, Wu Song dan Lu Ping udah sampai di halaman depan berdiri santai menunggu mereka.
Melihat ketua mereka sudah keluar para bandit yang mengepung Lu Ping dan Wu Song segera menyingkir.
Memberikan jalan kepada rombongan Lo Ih, Lo Ih berjalan di samping kedua tamu undangannya diikuti oleh kedua adiknya Lo Que dan Lo Kai dibelakang nya.
Sementara ke 4 orang pelapor sudah tidak terlihat, mereka sudah kembali bergabung dengan teman-teman bandit sungai yang lainnya.
Lo Ih sebagai tuan rumah maju kedepan, diikuti oleh kedua adiknya, dia berkata.
"Siapa kalian berdua? berani datang mengacau di sini, apa tujuan kalian? cepat katakan..!"
Wu Song tersenyum santai dan berkata,
"Namaku Wu Song dan dia istri ku Lu Ping.
"Kami sebenarnya hanya membutuhkan Cun Ming, bila kalian menyerahkannya pada kami, kami akan segera pergi dari sini."
Lo Ih sedikit terkejut di dalam hati, apa yang di lakukan anak angkatnya sampai mengundang kedua tamu tak di undang ini kemari.
Tapi di wajahnya tetap biasa, dia segera berkata,
"Kalian salah alamat tidak ada orang yang bernama Cun Ming disini."
"Tapi karena kalian berdua telah berbuat keonaran di sini, dan melukai banyak anggota ku, maka kamu harus ganti rugi."
"Tinggal kan dia di sini, dan kamu bisa pergi sekarang..!" ucap Lo Ih sambil tertawa mesum.
Lu Ping sangat marah, tapi dia masih menahannya , menyerahkan semuanya pada Wu Song untuk di selesaikan.
Wu Song menatap tajam kearah Lo Ih, Wu Song agak marah mereka berani bersikap kurang ajar terhadap istrinya.
"Wu Song mengeluarkan suling hitamnya dan berkata,
"Jaga ucapan mu, lekas keluarkan Cun Ming.!"
"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa." ucap Lo Ih tertawa mengejek.
"Maka bersiaplah jadi Cucut mati." ucap Wu Song singkat.
__ADS_1
"Keparat bermulut besar, rasakan ini." ucap Lo Kai mengayunkan sebuah dayung berujung baja hitam Kearah kepala Wu Song.
Wu Song sedikit menunduk bergeser maju dengan langkah ajaib tanpa bayangan memberikan 8 totokan dan 3 buah tebasan membentuk huruf bahagia.
Yang kontan membuat Lo Kai terlempar ke belakang jatuh terlentang tidak bisa menggerakkan badannya.
Senior Zhou yang melihat hal itu sedikit mengerutkan alisnya, lalu mengibaskan tangannya kearah Lo Kai.
Lo Kai pun seketika bisa kembali berdiri, dan menatap Wu Song dengan mata mendelik marah.
Saat Lo Kai ingin kembali maju, Lo Ih berteriak,
"Kai te ( adik Kami ) tahan, kita hadapi dengan formasi Cucut Hitam saja musuh terlalu kuat."
Lo Ih Kemudian berdiri paling depan mengeluarkan sebuah pedang berwarna hitam, di susul oleh Lo Que yang mengeluarkan sepasang pedang kembar yang juga berwarna hitam, paling akhir Lo Kai bersiaga dengan dayung nya.
Lo Ih mulai bergerak menyerang Wu Song, dan di ikuti oleh kedua saudaranya di belakang.
Kedua saudaranya hanya mengikutinya tidak menyerang.
Wu Song menghindari serangan tusukan pedang Lo Ih ke beberapa bagian tubuhnya dan membalas menyerang dengan menuliskan huruf sabar.
Kemudian Lo Kai melepaskan pukulan dayungnya yang berat dengan angin menderu-deru.
Lo Ih juga tidak tinggal diam, dia kembali memberikan tusukan mematikan saat Wu Song sedang menghindari pukulan dayung Lo Kai.
Wu Song terpaksa menghilang dan mundur menjauh.
Wu Song berpikir jurus unik, kerja sama yang baik, dia harus menggunakan ilmu Kekosongan dan tidak memiliki kemampuan untuk mencari titik lemahnya.
Pada pertemuan kedua gerakan Wu Song berubah dia selalu berhasil mematahkan setiap serangan Lo Ih, seakan-akan dia sudah mengetahui arah serangan yang akan Lo Ih lakukan.
Dan Wu Song kini sering lenyap dan muncul di tubuh samping mengincar Lo Que, bahkan kadangkala Wu Song berterbangan mengincar Lo Que dari tengah.
Karena perbedaan kekuatan dan kecepatan yang berselisih jauh, sedangkan jurus unik mereka seakan-akan telah terbaca.
Akhirnya sepasang pedang Lo Que terlepas dari pegangannya, perutnya terkena tendangan menyamping Wu Song.
Hingga dia terpental keluar barisan formasi, dengan keluarnya Lo Que dari barisan tengah maka formasi ikan Cucut Hitam menjadi terpecahkan.
__ADS_1
Bagian tengah yang menjadi pusat pertahanan bagian depan dan belakang terputus.
Tak butuh waktu lama sebuah tendangan putar dari Wu Song mendarat di pipi Lo Kai membuat Lo Kai mendaratkan wajahnya mencium tanah.
Sebelum Lo Kai bangun, Lo Ih juga ikut merasakannya, pedangnya terbawa berputar-putar oleh tarikan suling Wu Song.
Akhirnya pedangnya terlepas dari pegangannya, Wu Song melepaskan sebuah tendangan keras ke dadanya.
Membuat Lo Ih terpental menabrak Lo Kai yang baru mau berdiri.
Saat Wu Song ingin mendekati Lo Ih memaksanya mengeluarkan Cun Ming, di depan Wu Song berdiri, seorang kakek berusia 60 tahun
"Anak muda perlahan, biar saya mencoba beberapa jurus dari mu." ucap Kakek itu sambil tersenyum.
Dia adalah Wen Pu yang oleh Lo Ih dipanggil Senior Wen, di dunia persilatan 40 tahun yang lalu namanya sangat terkenal.
Karena senjatanya adalah roda baja, maka orang-orang Dunia persilatan memberinya julukan Si Roda Maut.
Melihat kakek itu hanya bertangan kosong, Wu Song menyimpan sulingnya, di ikat pinggang.
Kemudian memainkan 18 Tapak Penahluk Naga untuk menghadapi serangan tapak kakek itu yang sangat lembut halus dan ringan.
Tapi memiliki daya dorong yang sangat kuat, pukulan ini di kenal dengan Mien Hua Cang ( Telapak Bunga Kapas ).
Pertarungan berjalan dengan seru ternyata kakek itu mampu menghadapi serangan Wu Song yang bertenaga dahsyat dan meledak-ledak itu.
Dengan tehnik tapak bunga kapas, kakek itu selalu berhasil meredam kekuatan pukulan 18 Tapak Penahluk Naga dengan baik.
Wu Song kemudian merubah cara bersilat nya menggunakan It Yang Ci dan Liu Mai Sen Cien untuk merontokkan pukulan kapas yang ringan.
Kini kakek itu mulai kerepotan berlompatan menghindar, dia tidak bisa menyambut pukulan Wu Song yang berbentuk selarik sinar merah yang tajam dan mengandung hawa panas membakar.
Akhirnya kakek itu mengeluarkan senjata andalannya dua buah roda bertepi tajam dan rongga di tengahnya pun memiliki gerigi tajam.
Rongga ditengah roda yang berukuran sebesar kepala manusia, bisa di gunakan untuk masuk ke kepala, kemudian gerigi ditengah rongga akan memotong leher dan mencabut kepala orang.
Melihat lawan mulai mengeluarkan senjata nya, Wu Song juga kembali mengeluarkan sulingnya.
Kakek itu mulai melontarkan rodanya menyerang Wu Song dari jarak jauh, Wu Song menggunakan sulungnya menangkis dan mencoba menebas jatuh roda tersebut
__ADS_1