
Lu Fan tersenyum mengejek bertanya tuan walikota yang mulia membela kebenaran dan hukum.
"Aku mau tanya padamu, 1 tael mas berapa tael perak?"
Walikota tahu Lu Fan pasti ada maksud tertentu dalam pertanyaan tersebut dan pasti ada hubungannya dengan bunga hutang yang dilepaskan anaknya.
Dia hanya menatap tajam Lu Fan tidak mau menjawab.
karena tidak mendapat jawaban Lu Fan pun berkata,
"Mungkin rumah walikota hanya ada emas gakda perak, gak apa-apa, biar saya bantu jawab 1 tael mas sama dengan 20 tael perak."
"Bagaimana tuan walikota setuju.?" ucap Lu Fan sambil tersenyum mengejek menatap walikota yang berdiri di atas mimbar.
Walikota tidak membantah, tapi juga tidak mengiyakan dia hanya terus menatap Lu Fan dengan tajam.
Lu Fan kini melihat si gendut dan bertanya,
"Berapa bunga pinjaman mu sebulan? jawab dengan jujur atau ku potong telinga mu."
Si gendut ketakutan seluruh tubuhnya basah keringat dan badannya gemetaran.
Si gendut agak ragu, dia takut salah jawab,
tapi ketika dia merasa telinganya sedikit perih.
Tanpa banyak pikir lagi dia langsung menjawab "200 persen."
Lu Fan melihat kearah walikota, dan bertanya "tuan kebenaran katakanlah sesuatu jangan diam saja."
"Menurutmu benarkah memberi pinjaman dengan bunga sampai 200 persen?"
Walikota sadar dia tidak mungkin diam terus dia harus menjawab sekali ini.
Sambil berdehem sang walikota menjawab,
"Bisa benar, bisa salah."
Lu Fan mengerutkan alis bertanya,
"Maksudnya? tolong jelaskan tuan kebenaran."
Walikota yang licik itupun berkata,
"Semua tergantung perjanjian awal, hutang piutang adalah kesepakatan kedua belah pihak.
Asal mereka sudah sepakat dan menandatangani kontrak perjanjian.
Semua menjadi sah dan benar."
Baiklah, jawab Lu Fan.
Kemudian kembali melihat si gendut dan bertanya "mana kontrak hutangnya?, sini saya mau lihat."
__ADS_1
Si gendut dengan licik berdalih, "aku tidak membawanya."
Lu Fan tersenyum dingin kemudian berkata,
"Kalau begitu tidak ada persidangan lagi aku akan langsung memenggal kepala mu sekarang.'
Lu Fan mengangkat tangannya seakan-akan ingin menebas leher si gendut.
Si gendut cepat-cepat mengeluarkan selembar surat dari sakunya dan berkata,
"Maaf aku lupa tadi, ternyata aku membawanya ini surat hutangnya.'
Lu Sun sambil tersenyum mengejek melihat sekilas surat hutang tersebut.
Memang benar ada tertulis bunga 1 bulan 200 persen dengan tulisan sangat kecil dan sedikit tersembunyi dibagian paling bawah.
Lu Sun melambaikan tangannya kearah Yao Su dan Yao Su pun maju berjalan mendekati Lu Fan.
Lu Fan menyodorkan surat perjanjian tersebut kepada Yao Su sambil bertanya,
"Benar ini surat perjanjiannya? apakah kamu sudah tahu bunganya 200 persen satu bulan.?"
Yao Su melihat sebentar kemudian berkata,
"Sewaktu menandatangani surat perjanjian saya tidak memperhatikan huruf kecil ini."
"Saya hanya mendapatkan info darinya, bunga pinjamannya 20 persen perbulan." jawab Yao Su jujur.
"Benar yang dia katakan?"
Sambil bicara Lu Fan menunjuk Yao Su.
Si gendut merasa diatas angin langsung menjawab,
"Aku tidak pernah mengatakan bunga 20 persen padanya, aku cuma bilang bayar harus tepat waktu. Kalau setuju tanda tangan lah."
Lu Fan tahu Paman Yao ditipu tapi dia tidak bisa apa-apa ini kesalahan Paman Yao yang kurang teliti.
Walikota diatas mimbar sedikit tersenyum senang merasa kali dia yang menang.
Dia bisa menangkap Lu Fan secara terang-terangan dengan tuduhan membuat keributan dan keonaran.
Lu Fan tiba-tiba melihat kearah walikota, berkata,
"200 persen adalah bunga yang sangat tidak masuk akal, perjanjian bunga juga tidak jelas. Huruf dikontrak juga sengaja dibuat kecil-kecil dan samar-samar ini jelas ingin menjebak orang dan melakukan penipuan."
"Tuan kebenaran bagaimana menurutmu?"
Walikota sambil tersenyum berkata,
"Seperti yang aku katakan tadi di awal, asal mereka sepakat ada bukti jelas hitam diatas putih. Itu sudah benar dan kuat sebagai hukum."
Kita tidak bicara masuk atau tidak masuk akal. Masuk atau tidak masuk akal itu adalah hal relatif yang tidak bisa diukur dan dijadikan patokan.
__ADS_1
Lu Fan tahu perdebatan yang ini dilanjutkan juga percuma, tapi dia masih punya satu kunci yang belum dia keluarkan.
Lu Fan menghela nafas pura-pura berat, kemudian berkata,
" baiklah, kita sepakati 200 persen, sesuai hukum dan kebenaran yang disetujui bapak walikota terhormat."
"200 persen dari 500 tael perak adalah 1500 tael perak bila ditukar ke mas hanya 50 tael mas kenapa total hutang mencapai 500 tael mas ini jelas penipuan dan kejahatan melanggar hukum."
"Saya ingin tahu hukuman seperti apa yang akan tuan kebenaran jatuhkan pada orang ini ?"
Walikota licik itu berkilah, "itu hanya angka salah sebut tidak perlu dibesar-besarkan.
Yang penting Yao Su bisa membayar 1500 tael perak tepat waktu urusan ini selesai sampai di sini."
"Tetapi dia menyuruh pegawainya memukuli pihak penuntut dan putrinya membebaskan pegawainya yang memukuli orang."
"Ditambah lagi sekarang melawan saat di tangkap petugas dan kamu berulang kali melukai orang dan petugas."
"Kamu, Yao Su, dan gadis itu akan ditangkap dan diadili sekarang juga."
Lu Fan kini sadar melawan orang pintar politik. Tidak bisa di ajak bicara baik-baik, mereka terlalu pintar memutar balikkan fakta.
Lu Fan tersenyum sinis dan berkata,
"Kamu yang memulai duluan ingin bermain kasar baiklah aku akan melayani mu sampai puas."
"Paman Yao bawa Lin Lin mundur sejauh mungkin" bisik Lu Fan,
Yao Su seperti mengenal suara ini tapi dimana dia pernah mendengarnya dia tidak ingat.
Lagipula saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal ini.
Yao Su cepat-cepat mundur menjauh sambil menarik Lin Lin, yang masih ingin melihat aksi pemuda yang sangat menarik hatinya.
Melihat Paman Yao dan Lin Lin sudah mundur menjauh Lu Fan mengerahkan Wu Xiang Cien Fa menebas kearah bawah perut si gendut sambil berkata,
"Aku dengar gendut ini memiliki tulang punggung di ibukota yang tidak memiliki burung, aku sekarang membantunya agar bisa lebih cepat pergi menyusul ketempat tulang punggungnya berada."
Si gendut langsung menjerit kesakitan matanya melotot, mulutnya terbuka, urat-urat di dahinya bermunculan.
Tangannya menutupi bagian bawah perutnya yang berlumuran darah.
Si gendut berteriak-teriak sambil bergulingan kesana-kemari.
Walikota sangat marah melihat kondisi putra tunggalnya yang kini menjadi orang cacat seumur hidup.
"Dia langsung berteriak tangkap dan kuliti bocah sialan itu cepat...!!"
Pasukan panah langsung melepaskan panah mereka kearah Lu Fan, Lu Fan mengibaskan kedua tangannya yang terisi tenaga sakti 9 matahari.
Panah-panah terpental balik dan menancap ditubuh para pasukan pemanah, mereka bertumbangan satu persatu.
Melihat hal itu pasukan Perisai Tombak bergerak mendekati Lu Fan mengepungnya
__ADS_1