
Pimpinan para penyusup melompat mundur bukan karena takut, tapi dia melompat menjauh sambil Melesatkan ratusan cahaya energi pedang yang semuanya terarah ke Yi Yi.
Yi Yi memutar kedua tangannya didepan tubuhnya membentuk perisai es abadi yang sangat tebal dan berlapis-lapis.
Untuk menahan datangnya ratusan energi pedang yang terarah ke dirinya.
Pedang- pedang itu kini menancap di lapisan Es Abadi yang di bentuk oleh Yi Yi untuk menahan serangan.
Melihat hal itu pimpinan para penyusup mengangguk dan berkata,
"Bagus, tempo hari tidak berhasil membunuh mu. Hari ini secara kebetulan bertemu di sini."
"Tampak nya tidak sia-sia aku jauh-jauh datang kemari." selesai berucap Pimpinan penyusup menambah kekuatan energi pedang nya.
Sehingga pedangnya berputar-putar seperti mata bor berusaha menembus perisai es yang dibuat Yi Yi.
Yi Yi juga menambah lapisan perisai lagi, menjadi lebih tebal lagi.
Lapisan es pertama yang di buat Yi Yi mulai retak dan pecah, Wajah Yi Yi terlihat mulai berpeluh.
Sementara putri Nan Yang dan jendral Kam kini sedang di hadang oleh ke dua puluh penyusup, agar mereka tidak bisa pergi membantu Yi Yi.
Tiba-tiba seorang pemuda tampan berpakaian penuh tambalan muncul membantu putri Nan Yang dan jendral Kam, yang sedang terdesak oleh ke dua puluh penyusup itu.
Sambil menerjang kearah dua puluh orang itu, dia berteriak,
"Jendral Xie aku hari ini datang membayar lunas, semua makanan yang pernah kudapatkan dari mu."
Dengan bantuan pemuda bertongkat Giok Hijau, ke dua puluh orang penyusup mulai kelabakan.
Tongkat giok hijau pemuda itu yang dapat bergerak dengan sangat cepat dan datang dari berbagai arah.
Membuat ke duapuluh orang itu menjadi sibuk mempertahankan diri mereka dari serangan tongkat pengemis itu.
Nenek Yang yang berdiri di samping Jendral Sie terlihat cemas, melihat keadaan Yi Yi.
Sesaat kemudian dia menoleh kearah Jendral
Sie dan berkata,
"Tuan besar maaf tiba-tiba perut ku sakit, bolehkah aku ijin ke kamar belakang sebentar ?"
"Tolong bantu saya gendong Thian San sebentar, boleh ya tuan?"
Jendral Sie menatap kesal kearah pembantu kesayangan yang dibawa pulang oleh putrinya dari luar ini.
__ADS_1
Dia menerima Thian San dari tangan Nenek Yang dan menggendong cucunya sambil berpikir, apa nya yang bagus dari Nenek-Nenek ini, di saat situasi lagi genting dia malah mau pergi buang hajat.
Jendral Sie di dalam hati memaki-maki
kebodohan putrinya, yang selalu punya mata tapi tidak bisa melihat.
Memilih pembantu aja seperti ini, pantes saja memilih suami dapat pria brengsek.
Nenek Yang seperti tidak perduli, dia langsung terburu-buru bergegas ke kamar belakang setelah menyerahkan Thian San ke jendral Sie.
Yi Yi semakin terdesak selapis demi selapis es yang dibuatnya sebagai perisai pelindung mulai retak dan ditebus oleh energi pedang.
Kini tinggal lapisan terakhir yang masih menahan laju ratusan energi pedang yang sedang tertuju kearah nya.
Yi Yi menggigit bibir bawahnya sampai berdarah mengempos semangatnya untuk melakukan perlawanan habis-habisan.
Saat Wu Song ingin bergerak memberikan bantuan kepada Yi Yi, tiba-tiba diatas kepala Yi Yi muncul seorang pria bertopeng besi, yang terlihat sedang melayang di udara.
Tujuh Pedang Pelangi berputar-putar mengelilingi tubuhnya, sambil tersenyum pria bertopeng besi berkata,
"Kakek brengsek anjing Si Ma Ong, kamu jangan hanya berani terhadap wanita."
"Hadapilah aku, lama kita tak berjumpa kamu tetap saja brengsek."
Dia segera melihat kearah asal suara, hatinya mencelos dingin seperti terendam oleh es.
Dia cepat menarik mundur energi pedangnya membentuk perisai energi pedang, berjaga-jaga bila si topeng besi melancarkan serangan kearahnya.
Benar saja sesuai dugaannya Si Topeng besi menyatukan tujuh pedang pelangi yang berputar-putar mengelilinginya menjadi sebuah pedang pelangi raksasa .
Menebas dengan dahsyat dari atas kebawah membelah perisai energi pedang yang di ciptakan oleh pimpinan penyusup.
Pedang pelangi raksasa menghantam lantai menimbulkan sebuah lubang.
Tapi pimpinan penyusup sudah tidak terlihat, hanya terdengar suara nya.dari dalam tanah di luar tembok berteriak,
"Angin keras...! Cepat mundur...!"
Kedua puluh orang itu memberikan serangan serentak dengan tenaga gabungan, memukul mundur pengemis tampan itu.
Lalu mereka melayang mundur, melompati pagar melarikan diri menyusul pemimpin mereka.
Si pengemis tampan memberi hormat kearah Jendral Xie dan berkata,
"Sampai jumpa Jendral, terima kasih atas makanan dan tempat tinggal gratis disini."
__ADS_1
Kemudian pengemis tampan melesat Pergi meninggalkan tempat itu.
Di tempat lain si topeng besi tersenyum lembut menatap Yi Yi dan menganggukkan kepalanya kepada Yi Yi,
"Jaga dirimu Yi Yi, sampai jumpa...!"
Setelah berkata singkat si topeng besi juga melesat pergi menaiki pedangnya meninggalkan tempat tersebut.
Yi Yi hanya berdiri mematung menatap kepergian si topeng besi hatinya menjadi galau, di dalam pikirannya muncul bayangan senyum lembut dan hangat si topeng besi.
Dia juga terbayang saat dirinya dan si topeng besi pernah berciuman hangat wajahnya menjadi merah.
Yi Yi menggeleng-gelengkan kepalanya dan memaki dirinya dalam hati, kamu jangan berpikir terlalu banyak.
Kamu tidak pantas untuknya dia siapa? kamu siapa?, kamu harus ingat itu.
Jangan tidak tahu diri, kamu wanita beranak satu yang di campakkan kekasih mu.
Kamu tidak berhak menyeretnya kedalam kehidupan mu yang kotor dan hina.
Dengan tersenyum sedih Yi Yi berjalan dengan lesu menghampiri Jenderal Sie mengambil alih menggendong Thian San.
Lalu berjalan masuk kedalam kamar, ditengah jalan Yi Yi berpapasan dengan Nenek Yang, yang baru datang dari arah kamar belakang.
Nenek Yang segera maju membantu Yi Yi menggendong Thian San dan berkata,
"Maafkan Nenek Yi Yi, nenek tadi tiba-tiba sakit perut jadi nenek terpaksa menitipkan Thian San pada kakeknya."
Yi Yi tersenyum lembut dan berkata,
"Tidak apa-apa Nek, nenek tenang saja."
"Nenek sendiri bagaimana? masih sakit perutnya? Yi Yi panggilkan tabib ya?"
ucap Yi Yi penuh perhatian.
Nenek Yang menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata,
"Tidak perlu Yi Yi nenek baik-baik saja, setelah buang air besar tadi nenek sudah tidak apa-apa kok, tenang saja."
Lalu Nenek Yang membawa Thian San pergi ke kamarnya, karena selama ini Thian San memang selalu tidur bersamanya.
Thian San malah lebih akrab dan manja dengan nenek Yang ketimbang terhadap ibunya.
Yi Yi sendiri juga masuk ke kamarnya dan berbaring di kasur, termenung memikirkan siapa si topeng besi yang selalu muncul menolongnya saat dirinya dalam bahaya.
__ADS_1