LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
PUTRI NAN YANG SI MA LING,


__ADS_3

Sambil berbincang-bincang sepasang suami istri itu memasuki kota Xiang Yang yang sangat ramai.


Wu Song membawa kereta nya menuju sebuah restoran plus penginapan yang sangat besar.


Setelah memarkirkan kereta nya, membantu Lu Ping turun dari kereta.


Mereka berdua bergandengan tangan memasuki restoran.


Wu Song memilih tempat duduk dekat dengan jalan raya, sehingga bisa melihat orang berlalu lalang dan para pedagang yang sedang menjajakan berbagai macam barang dagangan mereka.


Wu Song kemudian memesan berbagai jenis masakan kesukaan istrinya kepada pelayan.


Wu Song mengedarkan pandangannya setelah pelayan pergi, restoran terlihat sangat ramai dan hampir penuh.


Di suatu pojok terlihat seorang gadis berpakaian hitam mengenakan cadar, duduk bersama seorang pemuda tampan dan seorang pria tinggi besar berseragam militer.


Wu Song sangat terkejut, Kenapa bisa begitu kebetulan, gadis bercadar sudah melihat Wu Song. Wu Song tidak dapat menghindar lagi.


Mereka berdua bertatapan sejenak, gadis bercadar menganggukkan kepalanya kearah Wu Song sambil tersenyum manis.


Meski tertutup cadar, tapi karena cadar itu begitu tipis.


Bibir gadis itu yang sedang tersenyum tetap terlihat bayangan nya.


Wu Song dengan sangat kikuk mengangguk kecil lalu menoleh kearah istrinya, saat menoleh Wu Song baru sadar ternyata Lu Ping sedang menatapnya dengan alis berkerut.


"Kamu seperti punya hutang dengan nya, lihat dia mengejar mu sampai kemari." ucap Lu Ping sinis sambil mencibir.


Wu Song tersenyum canggung dan berkata, "semua cuma kebetulan saja, jangan terlalu di anggap serius."


"Ayo di makan sayang.." ucap Wu Song menyumpitkan daging ikan ke mangkok Lu Ping.


Lu Ping tidak makan dia memegang perutnya dan berkata dengan nada sedih,


"Anak malang kedatangan mu sangat tidak tepat, kamu datang cuma untuk menyaksikan ayah mu pergi."


Wu Song tersentak mendengar ucapan istrinya, belum sempat dia berkata-kata Lu Ping sudah berdiri dari kursi.


Berjalan meninggalkan restoran, menuju kamar penginapan yang terletak di halaman belakang restoran.


Setelah melewati sebuah kebun bambu yang rindang dan berudara sejuk.


Wu Song buru-buru memanggil pelayan dan berpesan,


"Tolong semua makanan ini kirimkan saja ke kamarku."

__ADS_1


Setelah berpesan, Wu Song buru-buru berlari mengejar kearah Lu Ping pergi tadi.


"Bibi pria yang kamu suka itu, sepertinya sudah menjadi suami nona yang marah tadi deh.?"


"Dan dia menjadi marah,


Karena bibi dan suaminya saling bermain mata dan tersenyum." ucap Pemuda itu halus sambil tersenyum.


"Kamu anak kecil kenapa begitu cerewet, sana makan cepat.


Setelah ini kita harus Pergi menemui jendral Sie Jin Kui." ucap gadis bercadar menegur dengan lembut pada ponakannya.


Pria bertubuh tinggi besar menoleh kearah gadis bercadar dan berkata,


"Putri ucapan pangeran Yan meski sedikit bercanda kelewatan, tapi semua bukan tanpa dasar."


"Kini istana dalam keadaan kritis, setiap saat bisa terjadi kudeta berdarah, harap putri lebih mengutamakan urusan masa depan negara.


Ketimbang urusan pribadi yang kecil."


Ucap Jendral berbadan tinggi besar itu mengingat kan.


"Jendral Kam jangan khawatir aku tahu apa yang harus kulakukan, aku bukan anak kecil lagi.' jawab gadis bercadar sedikit kurang senang.


Tapi jendral itu tidak memperdulikan ketidaksenangan sang putri, dia tetap melanjutkan kata-katanya.


"Tugas kita yang paling utama selain menghubungi jendral Xie, adalah pergi meminta bala bantuan dan dukungan dari pasukan Naga Hitam."


"Bila tuan putri membuat gadis itu marah, bahkan bila Song Chin dan ke 6 saudaranya setuju membantu kita."


"Satu kata dari ayahnya akan membuat seluruh Pasukan Naga Hitam dari atas sampai bawah akan menarik diri."


" Maka semua rencana kakek kaisar akan rusak semuanya, mohon dipertimbangkan lagi." ucap Jendral Kam yang terkenal jujur setia tidak mengenal takut itu berusaha mengingatkan tuan putri Nan Yang.


"Aku mengerti jendral Kam, sejak terlahir di istana kerajaan.


Aku juga paham bahwa aku telah kehilangan kebebasan mengejar kebahagiaan pribadi ku."


"Baiklah, mari kita fokus saja pada tugas utama kita." ucap Si Ma Ling kemudian berdiri dari tempat duduknya berjalan meninggalkan restoran.


Diam-diam Si Ma Ling menghapus dua butir air mata yang menetes ke pipi di balik cadarnya.


Di tempat lain Wu Song berdiri di depan pintu kamar mengetuk pintu dan berkata,


"Sayang.. maafkan aku, tapi semua sungguh tidak seperti yang kamu kira, sayang...!"

__ADS_1


Wu Song mencoba mendorong pintu masuk kedalam kamar, Wu Song melihat Lu Ping menangis tertelungkup diatas kasur.


Wu Song cepat-cepat menghampiri Lu Ping, membangunkannya dan merangkul Lu Ping dan berkata,


"Maafkan aku sayang, telah membuat mu bersedih."


Lu Ping sambil menangis berkata,


"Kamu tidak bersalah sayang, aku lah yang akhir-akhir ini selalu mencari gara-gara untuk ribut tanpa sebab."


"Aku juga tidak mau seperti ini, aku ingin menjadi istri yang penurut dan pengertian bagi mu."


"Tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku sulit mengontrol emosi ku, curiga berlebihan tanpa dasar."


"Aku harap kamu tidak kecewa dan kapok dengan sikap ku, jangan pernah meninggalkan ku sayang, aku takut..aku benar-benar takut,...suatu hari kamu akan meninggalkan ku."


"Sama seperti saudara mu itu, meninggalkan Yi Yi, aku tidak sekuat Yi Yi, aku pasti tidak sanggup menghadapi nya bila itu terjadi, hu...hu...hu...!'


Wu Song sebenarnya sangat banyak kata yang ingin dia ucapkan dan membantah kata-kata Lu Ping.


Tapi kenyataan nya dia memilih diam mendengarkan semua keluh kesah istrinya dengan penuh kesabaran.


Setelah Lu Ping selesai mengeluarkan isi perasaan yang membebaninya.


Wu Song baru berkata,


"Sayang kamu lupa ya,? aku mencintaimu bukan satu dua hari ini."


"Aku sudah jatuh cinta padamu sejak kita kecil, percayalah padaku apapun sikap dan tingkah laku mu.


Aku akan sanggup menerimanya dan tidak akan pernah menyalahkan mu."


"Di dunia ini selain Ceng Ceng tidak ada lagi wanita lain yang bisa menarik perhatian ku selain kamu seorang."


"Kamu sendiri juga sudah melihat sendiri wajah Ceng Ceng, dan kamu tentu mengerti kenapa dulu aku bersedia menerima Ceng Ceng."


Lu Ping melingkarkan sepasang tangan di belakang leher Wu Song, menatap Wu Song kemudian menganggukkan kepalanya.


Lalu membenamkan bibirnya yang lembut mencium Wu Song dengan lembut dan mesra.


Perlahan-lahan Lu Ping sambil mencium Wu Song dengan penuh nafsu, melepaskan pakaiannya sendiri dan pakaian suaminya.


Kemudian Lu Ping melepaskan ciumannya dan berbisik pada Wu Song,


"Sayang aku ingin..."

__ADS_1


Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar terdengar suara pelayan berkata,


"Tuan saya datang mengantarkan makanan..!"


__ADS_2