
Bun Houw dan pasukannya masuk kedalam kota An Ding mengumpulkan semua penduduk, untuk membantunya membuat kuburan massal.
Agar mayat-mayat tidak menimbulkan wabah penyakit buat warga An Ding, mendengar penjelasan Bun Houw, rakyat dengan semangat membawa peralatan mereka, mengikuti Bun Houw.
Bun Houw membawa mereka ke lokasi pertempuran dan mulai menggali lubang untuk melakukan penguburan massal.
Bun Houw sengaja membawa mereka menjauhi lokasi pembantaian tahan perang, yang di lakukan oleh Si Ma Ong.
Bun Houw ingin tempat itu menjadi yang paling terakhir mereka datangi, sehingga penduduk An Ding tidak melihat kejadian yang mengerikan itu.
Menjelang malam Bun Houw dan rombongannya mendatangi lokasi terakhir yaitu lokasi pembantaian tawanan perang.
Tapi sampai di sana ternyata semua mayat-mayat telah di kuburkan, bun Houw menghela nafas panjang.
Untung Si Ma Ong masih ada sedikit hati nurani pikir Bun Houw di dalam hati.
Karena tidak menemukan mayat lagi, rombongan Bun Houw pun pulang untuk istirahat.
Keesokan paginya Bun Houw mendapatkan perintah dari Si Ma Ong untuk menyerang dan mengambil alih kerajaan Tar-Tar dan Bhutan.
Bun Houw sebenarnya kurang setuju tapi dia tidak bisa menantang perintah dari atasannya.
Maka berangkatlah rombongan Bun Houw dan rombongan pasukan Si Ma Ong menuju kerajaan Tar-Tar.
Tanpa perlawanan berarti berbagai kota kerajaan Tar-Tar satu persatu jatuh ke tangan Si Ma Ong.
Bahkan di kota raja Tar-Tar mereka tidak mendapatkan perlawanan, sesuai permintaan Si Ma Ong ratu bangsa Tar-Tar menandatangani surat perjanjian tahluk dan akan membayar upeti ke kerajaan Jin setahun 2 kali.
Bun Houw yang merasa kasihan melihat kehidupan rakyat Tar-Tar, akhirnya buka suara memohon keringanan kepada Si Ma Ong.
Si Ma Ong menyetujui maka surat perjanjian di ubah, ratu dan rakyat Tar-Tar sangat berterimakasih kepada Bun Houw.
Rombongan Si Ma Ong dan Bun Houw kembali melanjutkan perjalanan menuju negara Bhutan
Meski Pasukan Bhutan melakukan perlawanan, tapi mereka tidak kuat menghadapi pasukan kerajaan Jin.
Satu persatu kota mereka juga jatuh ke tangan Si Ma Ong, dan berakhir dengan putra mahkota Bhutan yang baru, harus menandatangani perjanjian membayar upeti 1 tahun 2 kali ke kerajaan Jin.
__ADS_1
Melihat kerajaan ini cukup kaya Bun Houw tidak ikut campur, bahkan Si Ma Ong membawa seorang putri Bhutan yang cantik jelita untuk menjadi selirnya.
Putra mahkota tidak berdaya sehingga dengan terpaksa membiarkan Si Ma Ong membawa adiknya meninggalkan Bhutan.
Putri Bhutan itu sangat cantik karena mewarisi darah campuran Cina Arab dan India.
Kecantikannya mirip-mirip gadis Usbekistan.
Diperjalanan gadis itu sempat mengutarakan perasaannya pada Bun Houw dan meminta Bun Houw menjadi suaminya.
Tapi Bun Houw menolaknya dengan tegas, dan memilih menjauhi dan menghindar dari putri tersebut, agar tidak terjadi salah paham dengan Si Ma Ong atasannya.
Dalam keputusasaan putri Bhutan memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kereta
Rombongan tersebut kemudian kembali ke Chang An, Kemenangan Pasukan Bun Houw dan pangeran Si Ma Ong di sambut dengan gembira.
Kaisar Si Ma Hui sendiri yang berjanji setelah pernikahan dengan adiknya Si Ma Yen berlangsung, Bun Houw akan di nobatkan sebagai panglima perang baru kerajaan Jin.
Pernikahan Bun Houw dan Si Ma Yen sendiri akan di langsungkan 3 hari kemudian.
Bun Houw sendiri tidak menyambut gembira hal ini, dia memilih fokus merekrut Pasukan dan melatih pasukan.
Bun Houw menghabiskan seluruh waktunya di barak militer, bahkan dia tidak pulang kerumahnya sama sekali.
Baru pada hari ketiga Bun Houw pulang untuk bersiap-siap menjadi pengantin pria dan mengikuti prosesi pernikahan yang di lakukan di kediaman Si Ma Yi.
Setelah melakukan prosesi pernikahan Bun Houw dan Si Ma Yen keluar dari kediaman Si Ma Yi berdiri diatas sebuah mimbar yang di siapkan untuk mereka.
Bun Houw dan Si Ma Yen menyulangi rakyat di Chang An yang datang menghadiri pesta pernikahan mereka.
Sementara itu pada hari ketiga pagi-pagi sekali Nenek Yang sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah.
Ketika melihat Yi Yi diam-diam seorang diri pergi meninggalkan bukit tempat tinggal mereka menuju Chang An.
Nenek Yang diam-diam mengikutinya dari belakang.
Yi Yi hadir di antara kerumunan orang yang datang memberi ucapan selamat kepada Bun Houw dan Si Ma Yen.
__ADS_1
Saat Bun Houw dan Si Ma Yen menyulangi rakyat Chang An, Yi Yi sambil tersenyum manis mengangkat cawan ditangannya menyulangi Bun Houw.
Yi Yi ingin menjadikan momen ini untuk melihat dan mengenang Bun Houw untuk terakhir kalinya.
Mulai hari ini dan seterusnya Bun Houw bukan lagi miliknya, tapi dia tidak pernah menyesal dan akan memberikan dukungan sepenuhnya untuk kebahagiaan Bun Houw.
Meski cinta dan pengorbanan nya yang setulus hati hanya di tukar dengan sebuah kenangan Yi Yi tidak menyesal.
Setidaknya mereka dulu pernah bersama melewati hari-hari bahagia bersama, Yi Yi hanya berharap di dalam ingatan Bun Houw ada dirinya dia sudah merasa cukup.
Meski seluruh orang di Dunia menertawakan kebodohannya, Yi Yi tidak akan pernah menyesali cintanya bersama Bun Houw yang indah tapi singkat ini.
Bun Houw terlihat sangat tampan dalam balutan pakaian pengantinnya, tapi di bibirnya hanya terukir sebuah senyum palsu.
Dari sinar matanya jelas terlihat menyimpan kepedihan kesedihan dan penyesalan.
Di saat Yi Yi menyulanginya, entah karena ikatan batin atau perasaan Bun Houw tanpa sengaja menoleh kearah Yi Yi.
Kedua mata beradu,.ada seribu ungkapan hati yang tidak bisa mereka katakan.
Bun Houw berdiri terpaku melihat senyum manis Yi Yi, yang penuh cinta dan sedikitpun tidak menyalahkan atau pun membencinya..
Bun Houw secara reflek ingin berjalan menghampiri Yi Yi.
Tapi tangannya di tahan oleh Si Ma Yen yang menatapnya penuh permohonan sambil menggelengkan kepalanya.
Hati Bun Houw menjadi tidak tega, untuk merusak hari bahagia Si Ma Yen yang seumur hidup cuma sekali.
Bun Houw menatap Si Ma Yen yang telah banyak berjasa menolongnya, Bun Houw akhirnya mengangguk sambil membuang nafas panjang.
Saat Bun Houw menoleh kembali kearah Yi Yi, Yi Yi sudah tidak terlihat lagi.
Bun Houw menengadahkan wajahnya menatap langit menghindari airmatanya yang hendak runtuh.
Membiarkan hembusan angin musim dingin mengeringkan airmata nya.
Setelah airmatanya terbawa angin, Bun Houw kembali menurunkan wajahnya dan kembali ke ekspresi semula tersenyum penuh kepalsuan.
__ADS_1
Yi Yi berjalan' pergi meninggalkan tempat tersebut dengan bibir tersenyum sedih, airmata jatuh berderai membasahi pipinya.