
Wu Song menatap Lu Ping dengan perasaan canggung dan rasa bersalah, untuk menghilangkan perasaan canggungnya.
Wu Song berkata, sambil melihat kearah Si Ma Jian,
"Kakek ini kakak seperguruan ku Lu Ping."
Si Ma Jian sebenarnya sedikit terkejut melihat wajah Lu Ping yang sangat mirip cucunya Ceng Ceng.
Meski ada beberapa bagian dari mereka sedikit berbeda, seperti senyuman Ceng Ceng sangat ramah dan lembut.
Sedangkan gadis didepannya ini senyuman nya agak dingin.
Tatapan mereka berdua pun berbeda, Ceng Ceng lebih lembut dan penuh pengertian.
Sedangkan gadis didepannya ini sangat tajam dan cenderung keras wataknya.
Di dalam hati Si Ma Jian sangat terkejut dia mulai ingat siapa gadis di depannya ini.
Setelah Wu Song menyebutnya sebagai kakak seperguruan nya.
Si Ma Jian sekarang ingat gadis ini pernah datang bersama Lu Sun sang Legenda mengunjungi kediaman nya mencari informasi Wu Song.
Si Ma Jian memberi hormat sambil sambil berkata,
"Maaf tidak bisa memberikan sambutan yang layak karena kami semua sedang sibuk menyambut proses kelahiran anak Song Er dan Cucuku Ceng Ceng."
Lu Ping membalas memberikan hormat sambil berkata,
"Kakek jangan sungkan saya jadi tidak enak, justru kehadiran Ku yang tidak diundang ini yang menganggu harap maafkan saya."
"Saya hanya ingin menghibur Wu Song adik seperguruan ku sekaligus menjenguknya," ucap Lu Ping beralasan.
Tiba-tiba terdengar suara Ceng Ceng yang berteriak melengking kesakitan.
Kemudian terdengar suara tangisan bayi.
Wu Song yang sangat khawatir kondisi Ceng Ceng dia cepat menerobos masuk kedalam kamar tanpa menunggu bidan tua keluar.
Wu Song langsung berkelebat ke sisi Ceng Ceng dan berkata,
"Kalian kerjakan saja tugas kalian dengan sebaik-baiknya jangan pedulikan aku."
Wu Song duduk bersila disebelah Ceng Ceng dia terlihat mengenggam tangan Ceng Ceng dengan khawatir dan menyalurkan Chi miliknya untuk mencoba menyembuhkan Ceng Ceng..
Sekilas lihat tadi Wu Song menyadari Ceng Ceng terluka parah bagian rahimnya.
Kini dia sedang berusaha menyembuhkan dan menghentikan pendarahan Ceng Ceng.
Bidan tua itu menggelengkan kepalanya melihat kondisi Ceng Ceng dan dia tersenyum sedih dan merasa kasihan dengan Wu Song yang terlihat sangat menyayangi Ceng Ceng.
__ADS_1
Bidan tua tidak tahu Wu Song sedang menyalurkan Chi berusaha menyelamatkan Ceng Ceng.
Dia berpikir Wu Song sedang duduk berdoa sambil menggenggam tangan istrinya penuh kasi sayang.
Wu Song sudah tidak perduli dengan keadaan sekitarnya dia sedang fokus menyelamatkan nyawa Ceng Ceng.
Tak lama kemudian Si Ma Jian memasuki ruangan itu diikuti Lu Ping dibelakangnya.
Dengan khawatir Si Ma Jian bertanya,
"Bagaimana kondisi cucuku dan cicit ku Cui Mama ( panggilan untuk bidan tua itu)
Cui Mama menggelengkan kepalanya sambil menjawab,
Kondisi cicit mu baik-baik saja, selamat kamu mendapatkan cicit laki-laki, tapi Ceng Ceng cucu mu aku sudah berusaha maximal.
Kemudian Cui Mama memberi kode kepada asistennya agar membawa cicit Si Ma Jian dan menyerahkan nya pada Si Ma Jian.
Si Ma Jian menggendong cicitnya dengan tubuh gemetar dia orang tua saat ini diliputi kesedihan mendalam.
Harusnya kehadiran cicit laki-laki ini membawa kebahagiaan tak terkira baginya, tapi disaat bersamaan dia harus kehilangan cucu kesayangan nya.
Ini benar-benar pukulan yang berat baginya, kakek itu meneteskan airmata saat mengendong cicitnya yang sedang tertidur lelap didalam gendongannya.
Lu Ping yang melihat Si Ma Jian berjalan mendekati kearah Wu Song segera berbisik pada Si Ma Jian.
"Jangan mengganggu nya, dia sedang berusaha menolong Ceng Ceng."
Lu Ping memberi kode agar mereka keluar dari ruangan tersebut.
Si Ma Jian segera membawa cicitnya ke kamarnya, dia meminta bantuan Lu Ping agar memanggil kepala pelayannya datang ke kamarnya.
Karena cuaca sedang dingin diluar, Si Ma Jian terburu-buru membawa cicitnya masuk kedalam kamarnya agar tidak kedinginan.
Sementara itu Wu Song wajahnya terlihat mulai pucat dia terlalu memaksakan diri mengalirkan seluruh kekuatannya untuk menyembuhkan Ceng Ceng.
Ceng Ceng perlahan-lahan wajahnya mulai merah dan tidak se pucat ketika Wu Song masuk kedalam kamar tadi.
Matanya perlahan-lahan mulai terbuka, Wu Song wajahnya terlihat pucat dan dia memuntahkan darah segar beberapa kali.
Organ penting di dalam tubuhnya mengalami guncangan hebat akibat terlalu memaksakan diri dalam pengerahan Chi dan tenaga dalam.
Untuk menyelamatkan nyawa Ceng Ceng, setelah melihat Ceng mulai sadar Wu Song tersenyum senang.
Tanpa memperdulikan luka dalam nya, Wu Song langsung mendekati Ceng Ceng.
Kemudian berkata,
"Sayang kamu sudah sadar syukur lah, pil ini kamu telan dulu."
__ADS_1
Wu Song mengeluarkan sebutir pil Nirwana dari botol porselen kemudian memberikan pada Istrinya.
Dia juga menuang segelas air hangat dari atas meja dan membantu Ceng Ceng bangun untuk minum obat.
Kemudian dia kembali membaringkan Ceng Ceng di kasurnya.
Ceng Ceng meraba wajah Wu Song sambil berkata,
Song ke ke wajahmu pucat sekali, kamu jangan membuang tenaga sia-sia."
Airmata mulai berlinang membasahi wajahnya tapi dia tetap berkata,
"Tubuhku sendiri aku sangat paham, hidupku tidak akan lama lagi, bila suatu hari aku...."
Wu Song menutup mulut istrinya, dia tidak mau mendengar kata-kata yang akan diucapkan istrinya selanjutnya.
Dia dapat menebak apa yang akan dikatakan istrinya selanjutnya, tapi dia menolak mendengarnya karena dia belum bisa menerima kenyataan yang kejam ini.
Wu Song berusaha tersenyum, tapi senyumnya menjadi aneh.
Wu Song berkata dengan suara serak menahan kepedihan dihatinya.
"Sayang kamu jangan... bicara sembarangan... kamu... pasti akan pulih kembali."
Ceng Ceng tersenyum sedih menatap Wu Song, kemudian dia bertanya.
"Song ke ke bagaimana dengan anak kita, dimana dia saat ini..? apa jenis kelaminnya ? siapa yang sedang merawat nya saat ini ? Aku ingin melihat dan menggendongnya.'
Wu Song mengangguk dengan airmata yang terus berlinang dia menjawab,
"Anak kita baik-baik saja, anak kita laki laki, saat ini dia dijaga kakek kamu tenang saja jangan terlalu banyak berpikir, kamu istirahat dulu, sebentar lagi aku akan menjemput nya kemari."
Sambil melihat Wu Song Ceng Ceng menggelengkan kepalanya sambil berkata, "tidak Song ke ke waktuku tidak banyak lagi, aku takut bila aku tidur aku tidak akan pernah bangun lagi."
"Sehingga aku tidak bisa melihat mu dan anak kita lagi."
Airmata kembali menetes membasahi pipi Ceng Ceng, Wu Song tersenyum tidak berdaya.
Hatinya seperti teriris ribuan pisau, semua perasaan sedih menyesaki dada nya.
Tapi dia tetap berusaha berbicara.
Setelah menghela nafas panjang beberapa kali, Wu Song pun berkata,
"Baiklah Sayang aku akan segera membawanya kemari, kamu istirahat lah dengan tenang."
"Kamu harus percaya dengan ku, kamu akan baik-baik saja dan segera pulih kembali. ucap Wu Song memberikan semangat sambil membelai kepala Ceng Ceng dengan penuh kasih sayang.
Lalu iapun berdiri meninggalkan kamar pergi untuk menjemput Si Ma Jian dan bayinya datang menemui Ceng Ceng yang kini kondisinya sudah lebih stabil.
__ADS_1
Wu Song berpesan pada para pelayan agar menjaga Ceng Ceng dengan hati-hati sebelum menutup pintu kamarnya.