
"Bukankah kamu sangat sibuk,? urusan militer mu saja menyita waktu mu dari matahari belum terbit hingga matahari hampir terbenam baru kamu' bisa kembali ke rumah."
ucap So Soo sedikit tidak puas.
Lee Yong menyentuh tangan Istrinya yang ada di bahunya dengan lembut dan berkata,
"Aku juga sebenarnya sangat bosan, dan ingin melepaskan semuanya."
"Hidup dengan bebas tanpa ikatan, bertualang kemana pun menikmati ketenangan dan kedamaian hidup sesuka hati."
"Makanya aku ingin mengambil kesempatan ini, mengajukan cuti panjang, bermain-main dengan puas hanya bersama mu saja."
"Kita bisa menikmati kebersamaan kita berdua mengunjungi tempat-tempat indah, bukan kah itu akan sangat menyenangkan.?"
ucap Lee Yong lembut.
So Soo tersenyum senang dan berkata,
"Apa kamu rela melepaskan semua saudara-saudara seperjuangan mu itu.?"
"Apa kamu tidak khawatir, tanpa kamu latihan mereka akan menjadi kacau balau dan berantakan.?"
Lee Yong menggelengkan kepalanya dan berkata,
"So Soo apa sampai sekarang kamu belum mengerti alasan kenapa aku mengikuti pertandingan ksatria terbaik ? kenapa aku terlibat dalam urusan kemiliteran.?"
"Aku bisa melakukan semua itu hanya untuk bisa berdekatan dan bisa selalu berada di sisi mu."
"Kenapa aku bisa tidak rela melepaskan semuanya demi memberikan kebahagiaan bagi mu.?"
So Soo menunduk merangkul leher suaminya dari belakang dan mencium pipi suami dengan haru sambil berbisik,
"Terimakasih sayang, kamu adalah yang terbaik."
Lee Yong tersenyum dan berkata,
"Asalkan kamu bisa hidup dengan bahagia, apapun akan ku lakukan asal kamu bahagia."
Lee Yong diam-diam membantin sendiri,
"Apakah yang terbaik sudah cukup ? sayangnya jawabannya adalah tidak."
"Menjadi yang terbaik belum tentu menjadi pria yang bisa memiliki sepenuhnya hati perasaan dan pikiran So Soo istrinya."
Lee Yong hanya tersenyum pahit dan menghela nafas berat secara diam-diam.
Saat So Soo pergi mengambil handuk dan pakaian kering buat dirinya.
__ADS_1
Dua hari kemudian sebuah kapal mewah bergerak meninggalkan pelabuhan kerajaan Goguryeo.
Di atas kapal tersebut disebuah ruangan yang luas dan mewah, terlihat Lee Yong dan istrinya So Soo duduk di pinggir jendela yang terbuka lebar.
Sepasang muda-mudi yang tampan dan cantik terlihat duduk di sana bermandikan cahaya matahari pagi dan angin lembut yang membelai wajah dan rambut mereka.
So Soo terlihat tersenyum bahagia bersandar dalam pelukan suaminya, Lee Yong menunduk menatap wajah istrinya yang berkilauan tertimpa cahaya matahari pagi.
Kulit wajah So Soo yang putih halus kemerahan terlihat semakin cantik dan menawan.
Lee Yong tersenyum puas melihat istrinya yang terlihat sangat senang dan bahagia.
Tapi sepasang matanya yang tajam menyiratkan sedikit keresahan yang misterius.
Dan ada kepedihan hati yang tidak bisa dia ungkapkan ke siapa pun.
Setengah hari setelah kapal mewah Lee Yong dan So Soo meninggalkan dermaga Goguryeo.
Terlihat ribuan kapal besar yang menggunakan bendera hitam yang ditengahnya terlihat gambar sesosok manusia dimana sekujur tubuh nya diselimuti cahaya petir.
Itulah lambang perguruan Dewa petir dari pegunungan Halla yang misterius.
Selama ribuan tahun perguruan ini selalu tertutup dari dunia luar mereka jarang sekali bergerak.
Sekali bergerak tentu akan ada peristiwa besar yang mengejutkan yang bakal mengguncang dunia.
Tanpa membuang waktu dia segera memacu kudanya menuju dermaga untuk menyaksikan peristiwa besar tersebut.
Kaisar Kim Douk sebelum pergi juga berpesan agar pengawal pribadinya segera pergi mengundang Panglima tua Lee Kong datang menemuinya di dermaga.
Tiba di dermaga Kaisar Kim Douk meremang seluruh bulu kuduknya, melihat sebuah kapal paling besar berkibar 4 bendera kebesaran berwarna kuning Biru Hitam dan putih berkilauan.
Bendera itu menunjukkan bahwa tetua Feng Yi Lei Dian yang legendaris ikut di dalam kapal tersebut.
Ribuan kapal itu bergerak rapi day teratur dalam formasi barisan seperti sedang melakukan parade.
Sesaat kemudian Panglima Tua Lee Kong datang menghadap dan berlutut di depan Kaisar Kim Douk.
"Hidup Yang Mulia semoga panjang umur dan sehat selalu."
ucap Lee Kong sambil memberi hormat.
Mendengar suara itu, Kaisar Kim langsung melompat dari atas kudanya, lalu membantu Panglima Lee Kong yang sangat di hormati nya.
Panglima Lee Kong sudah mengabdi kepada kerajaan nya selama 3 generasi, hal ini membuat kaisar Kim Douk sangat segan dan hormat dengan nya.
Setelah membantu Panglima Lee Kong berdiri, kaisar Kim baru bertanya,
__ADS_1
"Kakek Lee apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba perguruan Dewa petir bergerak.?"
"Kemana mereka akan pergi dengan kekuatan sebesar itu ?"
Lee Kong menghela nafas panjang dan berkata,
"Mereka bergerak atas perintah ketua baru mereka, menantu Yang Mulia Lee Yong."
"Mereka bergerak menuju China daratan, hanya saja aku juga tidak paham kenapa Yong er ingin pergi ketempat yang berbahaya dan hampir merenggut nyawanya itu."
Mendengar hal itu, kaisar Kim Douk meninju tangannya sendiri dengan geram berkata,
"Ahh celaka...! ini pasti ulah putri ku yang bodoh itu, mengapa dia tidak pernah belajar dari kesalahan dan melepaskan nya."
"Dia sekali ini benar-benar telah membuat masalah besar.."
"Aku mewakili putri ku yang terlalu ku manja itu minta maaf pada mu kakek Lee.."
ucap kaisar membungkukkan badannya dan mengangkat kedua tangannya keatas sebagai permintaan maaf.
Kakek Lee menahan tangan dan pundak Kaisar Kim membangunkannya dan berkata,
"Tidak perlu seperti itu, kita doakan saja semoga mereka kembali dengan selamat."
"Tidak..! aku harus menyuruh orang secepatnya menyusul mereka..!"
ucap kaisar Kim cemas.
"Percuma Yang Mulia, aku sangat mengenal sifat Lee Yong dia setiap bertindak selalu mempertimbangkan semua hal dengan sangat rapi."
"Dia juga sangat keras, apapun yang sudah di putuskan olehnya tidak akan ada yang sanggup merubahnya."
"Sebelum utusan Yang mulia sampai menyusul mereka, utusan yang mulia pasti akan di habisi oleh Feng Yi Lei Dian."
"Ahh anak bodoh itu..! aku sungguh bisa mati kesal di buatnya..! benar-benar tidak mensyukuri apa yang sudah dia dapatkan.."
ucap Kaisar Kim Douk kesal marah cemas tapi tidak berdaya.
"Yang mulia lebih baik pulang saja mengurusi hal-hal yang lain yang lebih penting.
Terutama militer yang di tinggal pergi oleh Lee Yong, yang mulia harus mencari penggantinya.
Kaisar Kim menghela nafas tak berdaya mengangguk kemudian berjalan dengan lesu kembali ke istana.
Di iringi oleh panglima tua Lee Kong yang menggunakan kereta kuda.
Di Hu Lao Kuan terlihat sedang terjadi kesibukan persiapan dalam rangka menghadapi serangan Pasukan rajawali merah yang kini sudah berkemah 10 kilometer dari gerbang Hu Lao Kuan.
__ADS_1
Pasukan gelombang pertama itu di pimpin oleh Yue Fei dan Sin Yi Istrinya.