LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
LU FAN MENITIPKAN LIN LIN DI LEMBAH


__ADS_3

Pemilik toko menatap Lu Fan dan Lin Lin sejenak, Kemudian dia berkata.


"Akhirnya kamu pulang juga Pendekar bertopeng, kamu kemana saja beberapa hari ini ?"


Lu Fan kini duduk bersila di depan paman Kui dan bertanya,


"Sebenarnya apa yang terjadi ?"


Paman Kui pun menceritakan semua kejadian yang menimpa kota Xiao Pei, mulai dari kedatangan pasukan Macan Hitam pimpinan Shi Ma Liang sampai datangnya Pasukan Rajawali Merah yang melakukan pengejaran.


Paman Kui kemudian menutup ceritanya dengan berkata,


"Aku tidak begitu tahu, bagaimana pertempuran berlangsung."


"Karena sejak awal aku dan keluarga ku, terus bersembunyi di dalam rumah tidak berani membuka pintu dan suara sedikitpun."


"Aku hanya tahu lewat lubang pintu, Pasukan berseragam merah melakukan pengejaran terhadap pasukan berseragam hitam dan Pasukan penjaga kota."


"Lalu terjadilah pembantaian yang berimbas dengan penduduk biasa."


Dari cerita paman Kui sudah menguatkan dugaan Lu Fan ini kerjaan Pasukan Rajawali Merah Bun Houw.


Lu Fan berusaha menahan amarahnya, agar aura monsternya tidak lepas kendali dan mencelakai orang tidak berdosa.


Tubuhnya gemetar menahan amarah, tangannya terkepal erat sepasang matanya menjadi merah.


Api saat sentuhan lembut dari Lin Lin menyentuh bahunya, perlahan-lahan Lu Fan bisa mengendalikan diri.


Sambil menghela nafas panjang, Lu Fan berkata,


"Paman Kui, sekarang kondisi sudah aman, paman tenang saja."


Paman Kui mengangguk sambil menatap kearah luar pintu dengan takut-takut.


Lu Gan menepuk bahu paman Kui dan berkata,


"Paman saat ini aku membutuhkan sebuah peti mati dan peralatan dan perlengkapan pemakaman, bisakah paman membantu saya.?"


Paman Kui mengangguk cepat dan berkata,


"Tuan Pendekar, butuh semua itu untuk siapa ?"


Lu Fan kesulitan mengucapkan nya, suaranya tertahan di tenggorokan matanya kembali meraih airmatanya kembali menetes dari sudut matanya.


Lin Lin yang berdiri di belakang Lu Fan membantu suaminya menjawab, dengan sedih.


"Untuk ayah ku paman Kui, ayah ku telah pergi."


Paman Kui terkejut dan bertanya,


"Bukankah ayah mu selama ini baik-baik saja ? jangan-jangan kematiannya ada hubungannya dengan kekacauan di kota Xiao Pei."


Lin Lin mengangguk dengan deraian airmata membasahi pipinya.

__ADS_1


"Ini salah ku, kalau aku tidak pergi tentu para keparat itu tidak bisa berbuat kekejaman di Xiao Pei."


"Demi ketenangan hidup dan keselamatan keluarga kecil ku, aku selalu bersembunyi di Xiao Pei menghindari pertentangan dan permusuhan."


"Tapi kelihatannya kebahagiaan kecil inipun mereka rengut dari ku."


ucap Lu Fan sedih dan menyesal.


Lin Lin menyentuh bahu suaminya dan berkata,


"Ini bukan salah mu, sayang.. mereka lah yang berhati binatang."


Paman Kui menghela nafas panjang dan berkata,


"Ayah mu seumur hidup selalu berbuat baik, dan penyabar, sungguh tidak di sangka dia pergi dengan cara seperti ini."


"Sungguh sangat di sayangkan.."


ucap Paman Kui mengeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih.


Lalu dia berdiri berjalan mengambil semua perlengkapan sembayang dan berbagai perlengkapan pemakaman.


Setelah itu dia berkata,


"Tuan Pendekar kemarilah ikut dengan ku, peti mati ada di ruangan belakang."


"Kini karyawan ku, tidak ada yang masuk kerja, tidak tahu masih hidup atau mati."


Lu Fan mengangguk kemudian mengikuti Paman Kui masuk keruang belakang, sementara Lin Lin berusaha menenangkan bibi Kui dan putranya yang masih kecil.


Tak lama kemudian terlihat Lu Fan keluar dari ruang belakang membawa sebuah peti mati seorang diri dengan menggendongnya dipundak.


Paman Kui menenangkan istri dan anaknya, kemudian dia bersama Lin Lin membawa perlengkapan sembayang berjalan mengikuti langkah Lu Fan dari belakang.


Sampai di rumah Lu Fan tidak banyak bicara,


Dia langsung menggunakan jarum dan benang yang di siapkan Lin Lin.


Dengan hati-hati dia menjahit luka menganga di leher Ayah mertuanya.


Kemudian Lu Fan menggendong mayat ayah mertuanya ke kamar mandi memandikan dan membersihkan tubuhnya dari noda darah.


Setelah itu dia menggantikannya dengan pakaian baru, tubuh ayah mertuanya mulai kaku.


Tapi Lu Fan dengan hati-hati berhasil menyelesaikan semuanya baru memasukkan nya kedalam peti.


Setelah itu Lu Fan dengan berurai air mata berkata,


"Ayah istirahatlah dengan tenang, aku akan menjaga Lin Lin dengan baik."


Setelah itu Lu Fan menggunakan telapak tangannya menutup sepasang mata Yao Su yang terbuka, hingga menutup.


Yao Su setelah dirawat mayatnya oleh Lu Fan, kini terlihat seperti sedang tidur dengan tenang.

__ADS_1


Setelah melakukan upacara sembahyang penghormatan terakhir, diiringi Isak tangis Lin Lin, akhirnya peti pun ditutup.


Lu Fan menggali sebuah lubang di samping makam Ibu Lin Lin, kemudian dengan perasaan sedih dan marah dia memakamkan ayah mertuanya.


Lalu Lu Fan dan Lin Lin berlutut didepan makam Yao Su, melakukan penghormatan terakhir.


Selesai acara pemakaman Lu Fan memberikan sejumlah uang kepada Paman Kui dan mengucapkan terimakasih.


Warga yang selamat mulai berani bermunculan saling membantu membersikan sisa kekacauan, terutama mayat-mayat yang malang melintang di mana-mana.


Setelah membantu warga membereskan semua nya, Lu Fan langsung membawa Lin Lin kembali ke lembah.


"Sayang demi keamanan mu, terpaksa aku membawa mu kemari."


"Untuk sementara kamu tinggal dulu di sini, Setelah aku membereskan semuanya aku akan kembali kesini."


ucap Lu Fan sambil membelai kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.


Lin Lin menatap suaminya dan berkata,


"Kamu mau kemana ? aku kini hanya punya kamu saja, kamu tidak boleh pergi menempuh bahaya."


"Ayah sudah pergi, meski kamu membalaskan dendam nya juga tidak akan membuat nya hidup kembali."


"Lebih baik kamu lupakan saja, biar kita hidup dengan tenang berdua di sini."


Lu Fan menggelengkan kepalanya dan berkata dengan tegas,


"Maaf sayang aku tidak bisa, jaga diri mu.."


Lu Fan langsung melesat menghilang dari hadapan Lin Lin.


"Lu Fan...!! Lu Fan...!! Sayang...! kamu jangan pergi...!"


teriak Lin Lin berulang kali.


Lu Fan memejamkan matanya, kemudian melesat lebih cepat meninggalkan lembah.


Terlihat Siau Ching dan Xue Yen melesat keluar dari pondok dan berdiri di sebelah Lin Lin dan bertanya dengan khawatir.


"Lin er kalian kenapa ? kalian bertengkar ?"


Lin Lin menubruk kedalam pelukan Siau Ching sambil menangis dia menceritakan semuanya.


Mendengar cerita Lin Lin Xue Yen langsung melesat pergi mencari Wu Song, yang sedang bersiap-siap berangkat ke Chang An bersama Shi Ma Ling.


Wu Song yang sudah bersiap berangkat, dan terlihat sedang menciumi perut Lu Ping dan Se Se secara bergantian sedikit terkejut.


Saat mendengar suara Ibu Xue Yen yang seperti sedang cemas.


Wu Song langsung membalikkan badannya melihat kearah ibu Xue Yen dan berkata,


"Ada apa ibu ? kenapa ibu terlihat cemas ?"

__ADS_1


__ADS_2