
"Silahkan senior saya siap menerima pelajaran dari anda." ucap Wu Song sopan.
Tanpa sungkan lagi Ouwyang Thian bergerak menyerang Wu Song dengan pukulan dan sodokan tongkat kepala ular miliknya.
Wu Song tiba-tiba seperti hilang dan tiba-tiba muncul kembali dibelakang Ouwyang Thian, lalu menulis huruf Thian diudara.
Tapi anehnya setiap tarikan garis mendatar adalah tebasan suling setiap tarikan kebawah adalah serangan membelah dari atas kebawah.
Serangannya Wu Song yang aneh dan cepat membuat kakek itu sangat terkejut, dia cepat-cepat memutar tubuhnya menangkis setiap serangan Wu Song.
Karena jurus Wu Song adalah tulisan kaligrafi, jadi setiap jurusnya sulit ditebak dan sangat banyak macam variasi.
Itu membuat lawannya menjadi bingung dalam mengantisipasi nya.
Belum lagi suara seruling nya yang melengking seperti membentuk irama yang mengacaukan pikiran dan konsentrasi setiap dia memainkan jurusnya mengukir satu huruf.
Tenaga serangan nya yang menimbulkan perubahan cuaca kadang panas kadang dingin juga membuat lawan semakin bingung menghadapinya.
Kakek tua itu harus bertahan mati-matian untuk menghindari dan menangkis serangan Wu Song yang selalu datang dan hilang secara mendadak.
Setelah berjalan puluhan jurus kakek itu tiba-tiba menancapkan tongkatnya di atas tanah.
Lalu mengeluarkan jurus simpanannya, yang selalu mengawali setiap serangan nya dengan tubuh yang mendekam diatas tanah dengan tangan dan kaki terbuka dan menempel diatas tanah.
Seperti seekor kodok, kemudian mengeluarkan bunyi, " "KWOK..KWOK..KWOKK..!!"
Baru terbang melakukan serangan dengan tenaga yang sangat dahsyat dan berbau amis karena mengandung racun berbahaya.
Kalau diserang dia akan menghindar dengan melompat kesana-kesini kalau sangat terdesak baru dia akan memberikan tangkisan.
Pertarungan sudah berlangsung dari siang sampai malam bahkan dinyalakan obor dimana-mana sebagai penerangan tapi belum terlihat siapa menang siapa kalah.
Tapi bila diperhatikan dengan teliti sebenarnya si kakek lah yang lebih terdesak.
Karena dia lebih banyak menunggu dan menghindar ketimbang menyerang.
Wu Song mulai meningkat kan kecepatan serangan dan tenaganya.
Kini terlihat kakek itu sangat kerepotan.
Wu Song menulis hurup cinta yang sedikit komplek ada banyak gerakan tebasan mendatar miring membelah dari atas kebawah serta beberapa totokan dengan ujung suling.
Ouwyang Thian menjadi sibuk dengan jurus serangan kata cinta, Wu Song.
Wu Song kembali menambah kekuatan serangannya sampai 60 persen, suara lengkingan sulungnya mulai membuat telinga sakit dan jantung berdegup kencang.
__ADS_1
Wu Song melakukan serangan penutup dengan menulis kata bumi.
Ouwyang Thian terpental keluar arena dan harus mengakui keunggulan Wu Song.
Dia segera mengulurkan tangannya kearah tongkatnya, tongkatnya terlihat bergoyang-goyang lalu melayang kedalam tangannya.
Kakek itu memberi hormat sambil berkata,
"Suatu hari kita akan kembali lagi bertemu sampai jumpa anak muda."
Setelah berkata dia langsung melesat meninggalkan tempat tersebut.
Kini Wu Song dengan terpaksa berdiri ditengah arena menunggu penantang berikutnya.
Beberapa saat kemudian seorang pemuda yang mengenakan penutup muka berdiri di hadapan Wu Song.
Pemuda itu mengendong sepasang pedang yang ganggang pedang menyembul di kanan kiri belakang bahunya.
Pemuda itu perlahan-lahan mencabut sepasang pedangnya yang mengeluarkan cahaya merah darah.
Aura kegelapan yang terkandung dalam sepasang pedang ini sangat pekat.
Pemuda ini berjuluk Sepasang pedang iblis, Dia menatap tajam Wu Song sebelum mulai menyerang.
Seakan-akan sedang mengamati dan menafsir kekuatan Wu Song.
Sampai lawan mati kehabisan darah dengan demikian kekuatan dan ketajaman sepasang pedang itu akan meningkat 5x lipat.
Dari kekuatan lawan yang darahnya dia sedot.
Setelah mengamati Wu Song sejenak dia langsung melesat kearah Wu Song memberikan dua tebasan mematikan. Yang diawali dengan dua sinar merah yang bergerak kearah Wu Song.
Wu Song tiba-tiba menghilang dan muncul disebelah Sepasang Pedang Iblis, lalu memberikan serangan tulisan kaligrafi.
Semakin sulit huruf itu dibuat, semakin banyak serangan-serangan yang tersembunyi di dalamnya.
Pemuda bertopeng itu juga mengenakan baju merah sehingga gerakannya membuat dirinya seperti sekumpulan asap merah.
Yang terus berkelebatan tiada henti mengepung Wu Song.
Tiba-tiba tubuh Wu Song berubah menjadi 8 lalu dengan gencar menggunakan serangan huruf kaligrafi yang berbeda-beda, tapi memiliki kekuatan yang sama.
Pemuda bertopeng kini terlihat sangat repot melayani jurus serangan suling Wu Song.
Dia berusaha menebas kedelapan tubuh Wu Song yang dapat bergerak lincah dan memberikan serangan balasan yang tidak kalah kuat.
__ADS_1
Sepasang pedang iblis setelah menangkis dan menghindari serangan Wu Song, dia merubah dirinya menjadi sebuah gasing yang berputar-putar dengan bagian kiri kanannya mengeluarkan sinar tajam berwarna merah.
Dia beberapa kali maju membentur suling Wu Song, tapi belum bisa menembus pertahanan Wu Song.
Malah dia diserang dari 8 arah oleh Wu Song, yang membuatnya Akhirnya tidak dapat melanjutkan serangan jurus gasingnya.
Perlahan tapi pasti gulungan sinar merah mulai tertekan oleh sinar biru dan merah.
Irama yang dikeluarkan oleh suling Wu Song Ketika sedang bertarung menekan aura merah sepasang pedang itu yang perlahan-lahan warnanya mulai memudar.
Dan ketika 8 tubuh Wu Song menulis satu huruf sabar secara bersamaan.
Tubuh Sepasang Pedang Iblis terpental keluar arena, dengan sepasang pedang terlepas dari tangannya dan menancap menyilangkan didepan kaki Wu Song.
Wu Song menendangnya pedang itu satu persatu, sehingga pedang itu meluncur cepat kearah pemiliknya.
Sepasang Pedang Iblis menangkap dan menyarungkannya kembali, sambil memberi hormat kepada Wu Song dia melesat meninggalkan tempat tersebut.
Karena hari sudah malam pertandingan dihentikan sementara oleh panitia pembawa acara.
Para penonton dan peserta pertandingan dipersilahkan memasuki tenda yang sudah di siapkan oleh panitia.
Wu Song dan Lu Fan menempati tenda yang sama.
Sedangkan Lu Ping mendapatkan tenda disebelah mereka.
Malam itu setelah makan malam Wu Song Lu Ping dan Lu Fan berkumpul sebentar ngobrol-ngobrol tentang pengalaman Wu Song setelah meninggalkan lembah.
Setelah itu mereka kembali ke tenda untuk istirahat, Wu Song dan Lu Fan beristirahat dengan cara bersila.
Ketika mulai terdengar suara kicau burung diluar tenda yang menandakan matahari sebentar lagi akan terbit.
Wu Song dan Lu Fan membuka mata mereka secara bersamaan, lalu mereka berdua pergi mandi ke pemandian umum yang disediakan panitia.
Setelah sarapan, semua peserta kembali lagi ke arena pertandingan.
Wu Song sendiri setelah namanya dipanggil segera berjalan ketengah arena menanti penantang berikutnya.
Seorang pria berusia 50an melayang ketengah arena dari tempat duduk yang sama dengan tempat duduk Lu Ping dan Lu Fan.
Dari tempat duduk tersebut karena jaraknya cukup jauh pria itu dapat dengan ringan melayang dan kemudian mendarat di arena tanpa meninggalkan suara kakinya ketika mendarat.
Ini menunjukkan kemampuan ringan tubuhnya cukup tinggi.
Sambil memberi hormat dia memperkenalkan dirinya sebagai Si Tangan Geledek Lian Hui
__ADS_1
Nama Si Tangan Geledek cukup terkenal didunia persilatan, hanya saja dia suka bergerak bebas berpetualang seorang diri.
Jadi jarang ada yang mengenal wajahnya langsung ataupun mengetahui asal usul dan tempat tinggalnya.