LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
PHOENIX API,


__ADS_3

"Tapi baru saja prosesi sembahyang selesai gadis baju merah itu kembali lagi bersama seorang kakek berambut merah."


"Kakek itu datang-datang langsung menyerang sepasang pengantin dengan ganas."


"Tapi beberapa tamu agung yang hadir tidak tinggal diam melihat peristiwa itu, ketua Bu Tong Pai dan ketua Shaolin turun tangan mencegah."


"Sehingga terjadilah pertempuran yang awalnya satu lawan satu, akhirnya menjadi satu lawan puluhan orang."


"Setelah mengalami pengeroyokan dari tamu undangan orang dunia persilatan, di bawah pimpinan ketua Bu Tong Pai dan ketua Shaolin akhirnya kakek rambut merah tewas mengenaskan."


"Gadis baju merah kemudian menggendong pergi mayat kakek berambut merah yang ternyata adalah kakeknya."


"Sebulan setelah pristiwa menghebohkan tersebut, Ong Su Kiat dan Istrinya di temukan mati dalam kondisi mengenaskan."


"Mereka berdua di gantung di gapura pintu masuk menuju Nan Yang dalam kondisi telanjang dengan bagian bawah perut di rusak."


"Kejadian membuat para pendekar dunia persilatan sangat marah, di pimpin oleh ketua Bu Tong Pai mereka berusaha mencari si pelaku."


"Tapi satu persatu mereka mengalami keadaan sama dengan sepasang pengantin yang telah meninggal duluan."


"Orang terakhir yang di gantung adalah ketua Bu Tong Pai, untungnya ketua Shaolin tidak ikut hadir di Nan Yang sehingga dia luput dari peristiwa itu."


"Tapi keadaan ketua Shaolin juga tidak berlangsung lama, seminggu setelah kejadian di sini."


"Ketua Shaolin juga di serang di kuil nya, bila bukan karena kemunculan 3 orang sesepuh yang telah lama mengundurkan diri."


"Nasib ketua Shaolin tentu tidak akan beda jauh dari ketua Bu Tong Pai."


"Sejak saat itu Nan Yang tidak pernah tenang lagi, di mulai dari kediaman hartawan Ong."


"Di mana tembok di rumahnya di beri tanda tapak cat berwarna hijau."


"Keesokan paginya semua pria yang ada di kediaman hartawan Ong semua mati dalam kondisi bawah perut di rusak."


"Bahkan semua hewan ternak berjenis kelamin jantan juga mengalami nasib yang sama dengan majikan pria nya."


"Selanjutnya setiap rumah di Nan Yang setiap malam pasti ada yang di tandai tapak bercat hijau dan semua mahluk jantan di rumah itu akan mati mengenaskan."


"Dan itu terus berlangsung sampai sekarang, puluhan keluarga yang mencoba meninggalkan kota Nan Yang semuanya ditemukan mati mengenaskan." ucap Paman Peng menutup penjelasannya.


Usai bercerita paman Peng mohon pamit, dan mempersilahkan Wu Song dan Lu Ping menikmati menu pesanan mereka.


Wu Song mengambilkan lauk buat Lu Ping dan berkata,


"Makanlah jangan banyak berpikir, kalau dia muncul pasti aku akan membantu penduduk Nan Yang membereskan masalah ini."

__ADS_1


Lu Ping mengangguk dan berkata,


"Untungnya Se Se tidak seperti gadis itu, bila tidak kamu pasti tahu rasa."


Wu Song tersenyum canggung dan berkata,


"Aku dan Se Se berbeda kasus."


Kemudian cepat-cepat makan tidak mau membahas soal Se Se, karena membahasnya Wu Song merasa bersalah pada Se Se.


Selesai makan Wu Song mengajak Lu Ping melihat-lihat kamar penginapan yang Lu Ping suka.


Setelah menemukan kamar yang cocok, Wu Song menemani istrinya tidur siang, karena sejak kehamilannya Lu Ping menjadi lebih cepat lelah dan suka tiduran.


Setelah menemani Lu Ping seharian malamnya Wu Song keluar dari penginapan melayang di udara.


Melakukan pengamatan keadaan kota Nan Yang saat malam hari.


Wu Song menanti pembunuh misterius yang selama ini meneror kota Nan Yang.


Wu Song menanti hampir semalam suntuk, menjelang pagi, Wu Song melihat sebuah bayangan tubuh melesat dengan ringan dan cepat menuju ke sebuah kediaman.


Dia melemparkan sebuah kantong kecil kearah tembok, begitu kantung kecil meledak memunculkan sebuah gambar berbentuk telapak tangan berwarna hijau.


Wu Song mengawasi semua gerak-geriknya dari tempat tinggi tanpa di sadari oleh pelakunya.


Pelaku tersebut kini berjalan kearah rumah kediaman keluarga yang akan menjadi korbannya.


Dia menerjang masuk kedalam sebuah kamar, membuat suami istri yang sedang tidur terkejut dan terbangun.


Pelaku menotok jalan darah istrinya korban, kemudian dia menyeret suaminya yang juga dalam keadaan tertotok ke halaman depan rumahnya.


Saat pelaku ingin mendaratkan cakarnya ke selangkang*n pria tersebut yang hanya bisa terbelalak pucat melihatnya.


Cakar si pelaku tertahan oleh sebuah suling hitam yang tiba-tiba muncul dan menghalangi niat nya.


Pelaku mengangkat wajahnya menatap kearah orang yang menghalanginya dengan tatapan tajam.


Wu Song tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya sambil berkata,


"Cukup nona hentikan perbuatan mu, bukankah Ong Su Kiat yang telah menghianati dirimu sudah mati menerima akibat perbuatannya pada mu? mengapa kamu masih mengincar orang yang tidak punya masalah dengan mu?"


Terdengar suara dingin gadis itu,


"Kamu siapa?"

__ADS_1


Wu Song tersenyum dan berkata,


"Aku Wu Song.."


"Semua pria di Nan Yang pantas mati, termasuk kamu." ucap gadis itu dingin.


Dia kemudian mengganti serangan cakar menjadi sebuah tapak berwarna merah kehitaman.


Menyerang bertubi-tubi kearah Wu Song, Wu Song sebentar hilang sebentar muncul.


Tapak itu tidak ada yang mengenainya sama sekali.


Setelah menghindar puluhan jurus, Wu Song menangkap kedua tapak tersebut menguncinya.


Gadis itu tidak kehilangan akal kakinya naik menghantam dagu Wu Song.


Tapi kakinya menemui tempat kosong karena Wu Song sudah menghindarinya, dan mengait kaki gadis itu sambil mendorong dan melepaskan tangan yang dia cengkram.


Dengan sedikit dorongan membuat gadis itu terjengkang kebelakang.


Tapi gadis itu cukup lihai, dia mendorong Tapaknya kelantai untuk menahan tubuhnya.


Kemudian dia melentingkan tubuhnya untuk kembali berdiri di hadapan Wu Song.


Kini dia sadar Wu Song bukan lawan sembarangan dia segera memainkan jurus rahasianya menyerang Wu Song.


Serangannya kini selalu di dahulu dengan api yang mencoba menghantam tubuh Wu Song.


Tapi Wu Song tetap bisa menghindarinya, tapi api itu seperti memiliki mata terus mengejarnya dengan ganas.


Wu Song akhirnya harus menangkisnya dengan Im Yang Sen Kung, kedua tenaga dahsyat beradu di udara.


Menimbulkan suara ledakan dahsyat yang membuat tembok di sekitar halaman itu runtuh.


Gadis itu tetap menyerang Wu Song dengan sangat ganas seakan- akan tenaga kekuatannya tidak habis-habisnya.


Kini dia merentangkan kedua tangannya, lalu melayang ke arah udara, lalu menekan kedua tangannya ke atas.


Hujan api mengepung Wu Song, Wu Song dengan santai membentuk pelindung berwarna biru terang.


Saat api yang turun dari langit mengenai perisai Wu Song mengeluarkan bunyi seperti api bertemu es.


Api segera padam tak berbekas, melihat jurusnya bisa di antisipasi Wu Song.


Tubuh gadis itu melayang keatas udara, mengeluarkan sepasang sayap berwarna merah dengan api menjilat-jilat di belakang tubuhnya.

__ADS_1


Perlahan-lahan tubuh gadis itu berubah menjadi seekor Phoenix api.


__ADS_2