LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
TAK BERDAYA,


__ADS_3

Sementara mereka asyik bercerita seorang anak muda dan Seorang gadis muda yang duduk tidak jauh dari meja mereka.


Terlihat makan dan minum dengan santai, sesekali saat nama Wu Song disebut-sebut dalam pembicaraan, antara kedua pendeta Tao dan seorang biksu.


Kedua muda-mudi itu mengangkat kepala mereka saling pandang.


Meski terlihat makan dan minum dengan santai.


Kedua muda-mudi itu sebenarnya memasang telinga mereka mendengarkan dengan seksama, semua pembicaraan kedua orang tersebut.


Sesaat kemudian terlihat si pemuda mendekatkan bibirnya ke telinga si gadis, dan berbisik-bisik di telinga gadis tersebut.


Si gadis hanya mengangguk-angguk kan Kepalanya.


Tidak lama kemudian terlihat si pria berdiri berjalan kearah kasir melakukan pembayaran, saat hendak keluar dari restoran si pria secara tidak sengaja bertabrakan dengan seorang pelayan, yang sedang membawa senampan penuh makanan pesanan pelanggan.


Tabrakan tersebut menyebabkan pakaian si pria itu ketumpahan makanan, selain itu nampan yang berisi makanan juga terjatuh kelantai.


Piring dan mangkok yang berisi berbagai macam masakan, jatuh pecah berserakan dilantai bersama isinya.


Keributan yang menghebohkan tersebut membuat tamu seisi restoran menatap kearah mereka berdua dengan heran.


Dan di penuhi rasa ingin tahu, termasuk kedua pendeta Tao dan biksu juga ikut teralihkan perhatian mereka, dan menghentikan pembicaraan mereka sejenak ikut menatap kearah lokasi kejadian.


Kesempatan ini di gunakan si pemudi dengan gerakan yang sangat cepat, menjentikkan sesuatu dari kuku jarinya, kearah cawan kedua petinggi Xu San dan seorang petinggi kuil Siauw Lim Si.


Lalu gadis itu dengan santai berjalan kearah si pemuda, dan mengajaknya meninggalkan restoran, setelah membayar uang ganti rugi di kasir.


Mereka berdua keluar dari restoran seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Kedua muda-mudi itu saling pandang dan tersenyum penuh arti.


Mereka berdua sempat melirik kearah meja di mana kedua pendeta Tao dan biksu itu. Yang kembali melanjutkan obrolan mereka sambil makan dan minum.


Mereka berdua tersenyum dan saling menganggukkan kepalanya, lalu berjalan menghilang kedalam sebuah gang tidak jauh dari restoran.


Mereka dari dalam gang diam-diam terus mengamati kearah pintu keluar restoran.


Saat melihat ke 3 orang itu berjalan keluar dari restoran, si pria langsung berjalan keluar dari dalam gang, menghampiri kearah mereka bertiga.

__ADS_1


Pemuda itu kemudian dari arah belakang mereka, berlari menabrak mereka.


Disaat bersamaan juga menjambret kantung uang ketiga orang tersebut, dan melarikan diri dengan sangat cepat.


Ketiga orang tersebut sedikit terkejut, tapi saat mereka sadar, mereka bertiga melesat begitu cepat mengejar kearah pemuda itu.


Tapi pemuda tersebut juga berlari secara Zig-zag dengan sangat cepat, sebentar timbul sebentar hilang, dalam keramaian orang yang berjalan berlalu-lalang.


Pemuda itu tiba-tiba mengambil jalan membelok ke kiri, ketiga orang pengejarnya yang melihat hal itu ikut berbelok.


Tapi mereka kehilangan jejak, tidak jauh dari tempat mereka bertiga, terlihat sebuah kelenteng kuno yang sudah rusak dan kosong.


Mereka bertiga saling pandang dan menganggukkan kepala, lalu mereka berlari memasuki halaman kuil kosong tersebut.


Setelah memasuki halaman dalam kuil, mereka bertiga terkejut melihat sepasang muda-mudi berdiri santai sedang menatap mereka bertiga dengan senyum simpul.


"Siapa kamu anak muda ? kenapa kamu memancing kami kemari ?"


Tanya Biksu Hong Ti sambil menatap tajam kearah pasangan muda-mudi tersebut.


Si gadis diam saja, hanya melihat kearah si pemuda, si pemuda sambil tersenyum menjawab,


Biksu Hong Ti mengerutkan alisnya dan menoleh kearah kedua rekannya, dari tatapan mata mereka bertiga mengandung kesepakatan.


Mereka akan maju serentak, mengepung dari 3 arah menangkap kedua muda-mudi yang mencurigakan ini.


Dan akan mengorek rahasia dari mereka berdua yang terlihat sangat mencurigakan.


Tapi begitu mereka bertiga melesat maju mengerahkan tenaga dalam mereka, mereka bertiga langsung jatuh ambruk ke lantai. Kehilangan keseimbangan dan tenaga mereka.


Mereka bertiga saling pandang dengan wajah cemas sambil memegang dada mereka, masing-masing berusaha mengerahkan tenaga mereka.


Tapi mereka tidak berhasil, tenaga dalam mereka terkunci di dalam Dan Tian, setiap mereka menyerap tenaga dari luar, begitu terkumpul dan akan digunakan tenaga dalam mereka buyar.


Dan kembali merembes keluar dari tubuh mereka.


Biksu Hong Ti sambil menatap dengan cemas Kearah kedua rekannya berkata,


"Kita terkena racun Hua Kung San."

__ADS_1


Kedua pendeta Tao mengangguk setuju, mereka bertiga hanya bisa menggertakkan gigi mereka, dan mempelototi kedua muda-mudi itu dengan marah.


Mereka berdua hanya menanggapinya dengan senyum simpul, lalu perlahan-lahan berjalan mendekati mereka bertiga.


Satu persatu ketiga senior dari dua perguruan besar di totok beberapa jalan darahnya, dan di ikat dengan erat kaki dan tangan mereka.


Mulut mereka juga di sumbat dengan robekan baju mereka sendiri.


Satu persatu mereka bertiga di panggul masuk kedalam kuil di dudukkan di belakang 3 buah patung dewa yang ada dalam kuil.


Mereka tidak bisa bergerak sama sekali juga tidak bisa bersuara sedikit pun.


Mereka hanya bisa melihat kearah ruangan tengah, lewat celah patung yang berlubang karena rusak termakan usia dan tidak terawat.


Kondisi seperti ini berjalan selama 3 hari, setiap hari 3 kali sekali kedua pemuda-pemudi akan datang memberikan mereka makan bakpao dan minum dengan cara di suapi.


Setelah itu mereka akan mencekokoki mereka bertiga dengan sebungkus bubuk putih, yang dituangkan ke dalam mulut mereka.


Lalu di dorong dengan air sehingga masuk kedalam perut mereka.


Mereka bertiga tidak bisa melawan sama sekali, juga tidak tahu apa maksud dan tujuan kedua muda-mudi yang repot-repot menawan mereka di sini.


Bila dikatakan ingin melecehkan mereka juga kurang tepat, karena kedua muda-mudi tersebut selalu melayani makan minum mereka dengan hormat.


Bahkan untuk urusan ke kamar mandi pun sipemuda melayani mereka dengan sopan.


Pada hari ke 4 terdengar pergerakan beberapa orang mendatangi kuil tempat mereka di tawan,


Awalnya mereka bertiga mengira itu adalah kedatangan sepasang muda-mudi itu.


Tapi ketika mendengar langkah kaki banyak orang mereka menjadi ragu, tapi mereka berpikir mungkin sepasang muda-mudi itu sudah membawa rombongan mereka datang, untuk mengadili mereka bertiga.


Tapi saat melihat rombongan orang yang melangkah memasuki ruangan, sepasang mata mereka bertiga berbinar-binar kegirangan.


Mereka bertiga berusaha berteriak memanggil, tapi tidak ada suara yang bisa mereka keluarkan sama sekali.


Bahkan sekedar ber "Ah..Uh..Ah..Uh..!" pun tidak bisa.


Sedangkan tubuh dan kaki tangan mereka tidak bisa di gerakkan sama sekali.

__ADS_1


Mereka bertiga hanya bisa melotot menatap kedepan.


__ADS_2