LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
KOTA CHANG AN,


__ADS_3

"Utari kuharap kamu bisa membuka pikiran dan hati mu, untuk menerima kenyataan.


Aku tahu itu tidak mudah tapi kamu harus berusaha."


"Ini bukan hanya demi diri mu tapi demi kedua orang tua mu dan semua orang yang menyayangi mu.


Bersikap dewasalah."


"Yang harus ku katakan sudah ku katakan, kini semua kembali ke kamu.


pikirkan dan renungkan baik-baik apa yang kita bicarakan barusan."


"Semoga kamu berbahagia selalu adik ku."


"Permisi.."


Wu Song pun menghilang bagai asap dari hadapan Utari.


Wu Song yang bersembunyi di balik awan diam-diam memperhatikan gerak-gerik Utari .


Wu Song takut gadis tersebut berbuat nekad setelah ditinggal pergi.


Wu Song yang memperlihatkan Utari diam-diam, menghapus dua air bening yang menitik dari matanya.


Bagaimana pun dia juga masih manusia biasa yang memiliki jiwa dan perasaan.


Utari sendiri setelah melihat Wu Song pergi dia duduk termenung cukup lama menatap bulan yang bersinar terang akhirnya dia bergumam.


"Kakak Song... kakak Song...kakak Song...Utari akan berusaha mengikuti saran mu."


Tak lama kemudian Utari berjalan memasuki kamarnya.


Wu Song perlahan-lahan melayang turun dari hinggap di atas atap kamar Utari.


Wu Song mengamati Utari secara diam-diam, setelah memastikan Utari sudah tidur.


Wu Song baru terbang kembali ke kediamannya, Wu Song tidak tidur malam itu.


Dia menghabiskan semalam suntuk duduk di taman menggunakan sebuah pisau kecil mengukir sepotong kayu.


Hingga menjelang matahari terbit, Wu Song tersenyum puas melihat hasil karyanya.


Di tangan Wu Song terlihat sebuah patung ukiran kayu yang sangat indah dan halus.

__ADS_1


Itu adalah ukiran patung Utari yang sedang berdiri tersenyum bahagia.


Wu Song menambahkan beberapa huruf sansekerta kuno di bawah patung.


yang berbunyi,


"Utari ini kenang-kenangan dari ku, semoga kamu selalu bahagia seperti patung ini."


"Dari Wu Song kakak mu.."


Sambil tersenyum Wu Song berkelebat pergi menuju depan kamar Utari.


Wu Song yang berdiri di depan kamar Utari masih bisa mendengar suara pernapasan Utari yang halus dan masih sedang tertidur pulas.


Wu Song tidak ingin mengganggu tidurnya dan membuat Utari terbangun dan bersedih melepas kepergian nya.


Wu Song perlahan-lahan meletakkan patung ukiran kayu tersebut pelan-pelan di depan kamar Utari.


Setelah itu dia pun berkelebat kembali ke kediamannya, sampai di kamar Wu Song melihat Lu Ping sudah rapi dan siap.


Wu Song sambil tersenyum berkata,


Ayo kita pergi sekarang.


Lu Ping mengangguk berdiri dari duduknya, berjalan kesamping Wu Song mereka berdua keluar dari kamar mereka.


Wu Song melempar selembar surat pamit dan ucapan terimakasih, yang menancap di depan pintu kamar raja dan ratu Wirata.


Begitu juga saat melewati depan kamar pangeran mahkota Utara, Wu Song juga melakukan hal yang sama.


Kemudian Wu Song dan Lu Ping terbang meninggalkan kerajaan Wirata, melewati jalur air sungai Gangga, sampai ke bagian hulu sungai di mana ada 3 air terjun besar dan tinggi yang tumpah dari puncak tebing yang tinggi kebawah.


Wu Song dan Lu Ping terbang melintasi puncak tebing, melewati beberapa hutan melalui Padang gurun pasir yang luas.


Akhirnya mereka tiba kembali ke deretan pegunungan Himalaya yang luas.


Saat melewati puncak Gunung Es Wu Song mengajak Lu Ping mendarat sebentar di reruntuhan Perguruan langit.


Mereka berdua berlutut memberi hormat tiga kali kepada sebuah patung besar pendiri Perguruan tersebut.


Setelah itu mereka berdua baru kembali melanjutkan perjalanan menyusuri pegunungan Himalaya melewati pegunungan Kun Lun San, Kembali ke daratan tengah.


Sementara Wu Song sedang melakukan perjalanan pulang ke daratan tengah.

__ADS_1


Di kota Chang An yang megah dan ramai pagi itu terlihat semua aktivitas berjalan biasa .


Lalu lalang manusia sangat banyak, para pedagang juga mulai sibuk menggelar dagangannya baik di pinggir jalan di depan pertokoan maupun pertokoan itu sendiri.


Satu persatu mulai membuka toko mereka masing-masing, perekonomian mulai sibuk menggeliat masing-masing.


Tapi yang sedikit berbeda adalah wajah penduduk yang tidak begitu ceria.


Mereka terlihat berwajah agak cemas, para pasukan yang berseragam merah dengan jubah yang bergambar rajawali merah terlihat sibuk berseliweran di mana-mana.


Bahkan benteng Chang An kini di jaga oleh pasukan berjubah rajawali merah.


Mereka semua rata-rata adalah anak muda berusia 18 sampai 25 tahun, tubuh mereka tegap tatapan mata mereka tajam menunjukkan mereka rata-rata memiliki tenaga dalam yang lumayan.


Mereka juga terlihat memiliki kekuatan fisik yang terlatih, dapat terlihat dari bentuk tubuh dan otot yang melingkar-lingkar ditangan mereka.


Yang paling menyolok adalah kediaman Si Ma Yi yang biasanya selalu tenang dan sepi.


Kini di kelilingi oleh pasukan berjubah rajawali merah yang mengepung dan menjaga kediaman tersebut dengan ketat.


Setiap orang yang ingin keluar masuk dari kediaman tersebut akan melalui pemeriksaan yang sangat ketat.


Selain Pasukan pria juga terdapat Pasukan wanita yang khusus disediakan untuk melakukan pemeriksaan bila yang ingin keluar masuk adalah seorang wanita.


Mereka semua bekerja dengan sangat tertib dan profesional.


Di sebuah restoran yang sangat ramai pengunjungnya, di mana restoran tersebut memiliki 3 lantai dengan desain yang masih baru, sangat mewah dan elegan.


Restoran ini bernama Restoran Rejeki Datang (Fu Lai Ciu Tian) Restoran ini sangat terkenal di Chang An dan selalu ramai pengunjung.


Karena arak dan masakan yang di sajikan di sini sangat berkualitas dan lezat, cuma harganya memang agak tinggi.


Tapi itu semua tidak masalah bagi orang kaya dan pejabat atau pun keluarganya untuk makan di sini.


Selain pengunjung di atas pengunjung dari orang dunia persilatan dan para petualang dan perusahaan pengiriman barang juga sering mampir makan dan kumpul ditempat ini.


Dulu Restoran ini tentu tidak semegah ini, tapi sejak insiden perkelahian Bun Houw dan Ouwyang Kok menyebabkan restoran ini rusak berat.


Lewat ganti rugi putri Gao Liu yang kini menjadi istri Bun Houw, kini Restoran ini tampil dengan sangat mewah dan elegan.


Diantara para pengunjung yang ramai terlihat dua orang berpakaian pendeta Tao dan seorang biksu sedang duduk satu meja dan berbincang-bincang sambil makan masakan vegetarian dan minum teh.


Mereka sedang membahas tentang kejadian yang menimpa Siauw Lim Si dan perguruan Xu San.

__ADS_1


Dan membahas langkah-langkah yang akan mereka ambil selanjutnya.


Mereka bertiga bukan orang biasa, mereka adalah ketua Siauw Lim Si yang baru biksu Hong Ti dan tetua ketiga Xu San Pai Yi Lau Jen, serta Tetua ke 4 Xu San Pai Lung.


__ADS_2