
Lin Lin ingin berdiri tapi kedua kakinya lemas tak bertenaga, dia kembali jatuh terduduk tak berdaya.
Kepalanya semakin pusing akhirnya dia jatuh tertelungkup diatas meja dalam keadaan setengah sadar
Seluruh badannya semakin tidak nyaman dan sangat gerah.
Samar-samar dia mendengar suara
Si Men Ke ke, memanggil namanya sambil menyentuh bahu dan lengannya.
Dia merasa sangat nyaman saat disentuh oleh Si Men Ke ke, entah kenapa dia merasa saat disentuh rasa tidak nyaman itu berubah menjadi lebih nyaman.
Sesaat kemudian dia mendengar suara gubrak dan bergedebukan.
Kemudian semua menjadi hening hanya terdengar hembusan angin ditelinga nya.
Dia merasa ada seseorang yang merangkul pinggang nya dengan erat.
Dan dia merasa sangat nyaman dengan rangkulan tersebut.
Sebenarnya apa yang terjadi,
Saat Lin Lin kepalanya merasa pusing dan terbaring di atas meja setengah sadar.
Si Men Cing tersenyum senang langsung berjalan mendekati Lin Lin, menyentuh bahu dan lengannya untuk memastikan kondisi benar-benar dibawah kendalinya sekarang.
Baru saja dia mau menggendong tubuh Lin Lin yang sudah pasrah tidak berdaya.
Tiba-tiba sebuah bayangan tinggi besar muncul, langsung mendorongnya jatuh terjengkang kebelakang.
Saat dia bangun melihat kearah meja dimana Lin Lin terbaring lemas tadi.
Lin Lin sudah tidak terlihat bahkan keranjang kue Coi Pan pun ikut lenyap.
Si Men Cing ngedumel panjang pendek sangat kesal dan kecewa.
Mangsa yang sudah didepan mata hilang begitu saja tanpa bekas.
Si Men Cing marah-marah dan menyapu semua makanan dan minuman dimeja sampai jatuh berserakan di atas lantai.
Kemudian dengan uring-uringan dia berjalan menuju kamar tidurnya.
Sampai di dalam kamar, dia melihat seorang pelayan muda sedang membereskan kasurnya.
Melihat kedatangan tuannya pelayan muda yang cantik tersebut terkejut.
Dia segera menghentikan pekerjaannya yang setengah jalan, memberi hormat kemudian ingin keluar dari kamar tersebut.
Tapi Si Men Cing melarangnya, dan meminta Pelayan tersebut menyelesaikan sampai tuntas pekerjaannya baru boleh pergi.
__ADS_1
Dengan sedikit takut-takut, pelayan tersebut kembali melanjutkan pekerjaannya membereskan kasur Si Men Cing.
Di saat pelayan muda dan cantik tersebut sedang membereskan kasur sepasang ****** nya yang indah dan bulat dari belakang terlihat bergoyang kesana kemari.
Ditambah dengan gaun pelayan yang tipis membuat belahannya terpampang jelas.
Si Men Cing yang sedang kesal karena rencananya terhadap Lin Lin gagal.
Melihat pemandangan di depan mata dia langsung menelan ludah terangsang.
Perlahan-lahan dia mendekati Pelayan tersebut dari belakang, kemudian langsung menerkam dan menindih tubuh pelayan tersebut dari belakang.
Pelayan tersebut menjerit meronta memohon ampun dan menjerit minta tolong, tapi tidak ada yang datang menolongnya.
Akhirnya dia hanya bisa berkata,
"Jangan tuan jangan lakukan itu ku mohon jangan...jangan..." dengan airmata bercucuran membasahi wajahnya.
Pakaian pelayan itu sudah tersingkap kemana-mana, di saat kritis saat Si Men Cing hampir menggagahi pelayan yang muda cantik dan bernasib malang tersebut.
Sesosok bayangan tinggi besar kembali muncul, menarik kerah baju Si Men Cing.
Dan melemparnya jatuh tunggang langgang menghantam meja kursi dan baru berhenti saat menabrak lemari kayu.
Karena kuatnya benturan, vas bunga yang terletak di atas lemari baju jatuh menimpa kepala Si Men Cing.
Vas bunga pecah berantakan tapi kepala Si Men Cing juga terluka berlumuran darah.
Si Men Cing melihat seorang pemuda tinggi besar mengenakan topeng anak kecil.
Sedang menatap dingin kearahnya.
Dia jadi ingat orang yang beberapa hari lalu menghajar walikota dan mengusirnya dari Xiao Pei.
Dengan tubuh gemetar dan celana basah dia berkata,
"Ampun tuan Pendekar...ampuni saya,... saya berjanji... saya bersumpah.. tidak akan mengulanginya lagi."
Si Men Cing segera berlutut dan menyembah-nyembah sambil membenturkan dahinya kelantai.
Pelayan muda yang cantik itu memanfaatkan situasi didepannya membereskan pakaiannya.
Sambil melirik kearah punggung Lu Fan dia berkata,
"Terima kasih tuan penolong."
Lalu berlari pergi dari kamar tersebut dengan wajah basah airmata.
Lu Fan hanya mengangguk kecil tanpa melihat kearah pelayan tersebut, dia sedang menatap Si Men Cing dengan tajam.
__ADS_1
Saat Lu Fan ingin memberi pelajaran pada
Si Men Cing dua rangkum angin panas dingin menerpa punggungnya.
Lu Fan menyadari serangan tersebut dia tidak mau menghindarinya, dia malah membiarkan kedua tapak itu mendarat tepat dipunggungnya.
Sambil mengerahkan Xi Xing Ta Fa kedua tapak menempel ketat dipunggung Lu Fan.
Bukan nya terdengar jeritan Lu Fan setelah kedua tapak itu mendarat, tap malah kedua kakek kembar itu yang menjerit-jerit panik.
Dan meronta-ronta berusaha melepaskan tangan mereka dari punggung Lu Fan.
Ketika Lu Fan menoleh menatap mereka,
tiba-tiba wajah mereka berdua menjadi pucat.
Lu Fan berkata sambil tersenyum dingin menatap mereka berdua.
"Dua kali bertemu dua kali kalian melawanku menolong orang jahat.
Kelihatannya malam ini nasib kalian berdua akan berakhir disini."
Lu Fan meningkatkan kekuatan Xi Xing Ta Fa sampai level 10 tenaga sakti kedua kakek kembar itu langsung membanjir keluar seperti air tidak bisa ditahan.
Kedua kakek kembar itu menggunakan tangan yang lain menotok beberapa jalan darah Lu Fan agar sedotan tenaga dalamnya berhenti.
Tapi totokan mereka malah mengenai daging lembut yang tidak memiliki nadi dan jalan darah.
kemudian dari jari mereka yang menempel di daging lembut tersebut tenaga sakti mereka berdua dengan deras menghambur keluar tak terkendali.
Tiba-tiba kepala Lu Fan dan tangan Lu Fan berputar ke 180° kebelakang menghadap kearah kedua kakek kembar itu.
Lu Gan menggunakan Wu Xiang Sen Kung sehingga tubuhnya bisa bebas bergerak sesuka hati.
Lalu tangan Lu Fan mencengkram kedua tapak mereka yang menempel di punggung Lu Fan ,sambil mengerahkan Xi Xing Ta Fa.
Membuat tenaga sakti mereka berdua semakin cepat terkuras, bahkan kini energi kehidupan mereka mulai ikut tersedot.
Sepasang kakek kembar itu terbelalak ketakutan dan tidak percaya apa yang dilakukan oleh Lu Fan.
Setelah energi kehidupan mereka habis, kedua kakek itu tewas dengan ekspresi wajah yang ketakutan dan tidak percaya.
Tubuh mereka perlahan-lahan jatuh kelantai tak bergerak lagi.
Kini Lu Fan tersenyum dingin berjalan kearah Si Men Cing yang wajahnya pucat seperti mayat,.
Melihat kedua pengawal sakti yang baru dia undang, untuk melindunginya kini telah kehilangan nyawa.
Lu Fan berjongkok memegang rahangnya sedikit memencetnya sehingga mulutnya terbuka dengan suara dingin Lu Fan berkata,
__ADS_1
"Saat kamu menodai anak gadis orang lain, apakah kamu pernah berpikir mengampuni mereka?"