
Ceng Ceng mengangkat wajahnya menatap Wu Song sambil tersenyum kemudian dia mengangkat tangannya untuk mengelus wajah Wu Song.
Sebelum tangan itu sampai mengelus wajah Wu Song, tangan itu terkulai lemas kebawah.
Kepalanya juga terkulai kesamping bersandar pada dada Wu Song ujung bibirnya tersungging senyum lembut, dia terlihat seperti sedang tidur dari sudut matanya menetes dua butir air bening.
Mungkin senyuman nya mewakili perasaan puas didalam hidupnya yang singkat dia bisa bertemu dan menjadi istri dari Wu Song.
Sedangkan airmata nya menunjukkan perasaan belum rela melepaskan dunia yang penuh kenangan indah ini.
Dan ketidak berdayaan nya menolak takdir ini.
Wu Song dan Lu Ping yang melihat hal ini serentak berteriak,
"CENG CENG...CENG CENG..!!!"
"Ohh Thian.. ahh... bangunlah Ceng Ceng istriku, anak kita masih kecil jangan tinggalkan aku seperti ini.!!"
"Jangan menakuti ku.. bangunlah...sayang..!!"
Ucap Wu Song berlinang air mata sambil terus menepuk-nepuk wajah Ceng Ceng dengan lembut.
Lu Ping memalingkan wajahnya yang bercucuran airmata tidak kuat melihat situasi yang ada dihadapannya.
"AAARRRGGGHHH...!!" Terdengar raungan putus asa dari Wu Song yang membuat Lu Ping terhuyung-huyung mundur menutup telinganya.
Dan langsung jatuh terduduk segera bermeditasi menenangkan goncangan yang mengguncang organ jantung nya.
Sementara diseluruh kediaman perdana menteri yang sedang mengadakan pesta juga terkejut dibuatnya.
Suara raungan itu membuat geger seluruh kota LUO YANG, semua penduduk kota LUO YANG dibuat terkejut oleh suara raungan yang sangat keras itu.
Si Ma Jian sangat terkejut, dia meminta kepala pelayan untuk melihat apa yang terjadi dihalaman belakang.
Karena suara dahsyat itu berasal dari sana, dia merasa hatinya sangat tidak enak dan tidak tenang.
Cin Hai juga terkejut dan terbangun kemudian menangis keras, untung dia berada dalam pelukan bibi Hua.
Sehingga nangisnya cuma sebentar, karena bibi Hua dengan sigap menenangkannya.
Sesaat kemudian dengan berlari tergopoh-gopoh kepala pelayan berbisik ditelinga Si Ma Jian memberi kabar bahwa Putri Ceng Ceng telah pergi meninggalkan mereka semua.
Tubuh Si Ma Jian gemetar dan wajahnya pucat tapi dia adalah orang berpengalaman dengan cepat dia dapat memulihkan ketenangan hatinya.
Dia berpesan dengan kepala pelayan agar melayani para tamu dengan baik.
__ADS_1
Sambil mengatur beberapa orang kepercayaannya untuk mengurus perlengkapan yang dibutuhkan Ceng Ceng dalam pemakaiannya.
Setelah meninggalkan pesan Si Ma Jian segera mengajak bibi Hua mengikuti dirinya masuk kedalam, menuju kamar Ceng Ceng dan Wu Song yang terletak dihalaman belakang menghadap taman.
Sampai disana Si Ma Jian berdiri terpaku, hatinya diliputi kesedihan mendalam melihat cucu kesayangannya telah pergi untuk selama-lamanya.
Sambil menghapus dua butir airmata yang jatuh dia tersenyum melihat wajah cucunya yang meninggal dalam keadaan bahagia dengan mulut tersenyum indah.
Cucunya terlihat seperti sedang tidur dalam dekapan suaminya.
Sedangkan Wu Song terlihat seperti orang bodoh yang terus menerus menangis dan bergumam memanggil nama istrinya.
Wu Song terduduk bodoh sambil memangku dan mendekap tubuh Ceng Ceng yang telah meninggal.
Si Ma Jian berjalan mendekati Wu Song kemudian menepuk-nepuk bahu Wu Song dengan lembut sambil berkata,
"Kita semua sudah tahu hari seperti ini cepat lambat pasti akan datang, kamu jangan terlalu bersedih lagi biarkan dia pergi dengan tenang."
"Kamu sudah berusaha maximal, dan sudah melakukan yang terbaik untuknya, jangan ada penyesalan lagi."
"Lihatlah wajah Ceng Ceng dia tersenyum bahagia, dia sangat puas bisa mendapatkan suami dan cinta serta kasih sayang mu Wu Song."
Wu Song perlahan-lahan melihat wajah Ceng Ceng kemudian dia mencium kening mata hidung dan bibirnya, sambil berucap,
"Selamat jalan istriku pergilah dengan tenang, tunggulah aku disana suatu hari kita akan bertemu kembali."
Setelah mengeluarkan kata perpisahan Wu Song perlahan-lahan mengangkat kepalanya menatap Si Ma Jian kemudian berkata,
"Kakek aku ada satu permintaan harap memandang muka Ceng Ceng kakek mau mengabulkan permintaan ku ini."
Si Ma Jian tersenyum lembut dan berkata,
"Ada permintaan apa katakanlah, meski Ceng Ceng telah tiada kamu selamanya tetap adalah cucu mantu ku yang baik."
Wu Song sangat terharu mendengar ucapan Si Ma Jian orang kedua yang sangat berjasa dalam hidupnya.
Dengan sedih Wu Song berkata,
"Terimakasih kek, semasa hidupnya Ceng Ceng sangat suka memandang jendela ini dari posisi taman itu.
Bolehkah aku menguburnya disana agar dia setiap hari bisa melihat kenangan masa lalunya yang penuh kenangan indah dari tempat itu."
Si Ma Jian mengangguk kemudian berkata, "tentu saja boleh Song Er, ini malah memudahkan aku mengawasi dan menyembayangi makamnya."
Wu Song dengan kepala tertunduk berkata,
__ADS_1
"Terimakasih banyak kek,"
Setelah itu dia menggendong tubuh Ceng Ceng berjalan keluar dari dalam kamar.
Didepan halaman kamar sudah ada sebuah peti mati dan semua peralatan sembayang yang lengkap.
Para pelayan dan petugas pemakaman mendekati Wu Song mau membantunya memasukkan mayat Ceng Ceng kedalam peti.
Wu Song menghentakkan aura dinginnya membuat mereka terpental terhuyung-huyung mundur kebelakang dan menggigil kedinginan.
Dengan suara tegas Wu Song berkata,
"Tidak ada yang boleh menyentuh Ceng Ceng, semasa hidup Ceng Ceng tidak suka disentuh pria lain selain aku dan kakek..!!"
Wu Song memasukkan mayat Ceng Ceng dengan hati-hati kedalam peti, setelah merapikan rambut dan pakaian Ceng Ceng Wu Song berdiri menatap wajah istrinya untuk terakhir kalinya.
Kemudian Wu Song membungkuk kedalam peti dan memberikan ciuman terakhir ciuman perpisahan pada Ceng Ceng.
Setelah itu dengan berat hati dan perasaan belum rela Wu Song perlahan-lahan menutup peti mati istrinya sambil berkata,
"Istirahatlah dengan tenang di sana sayang ku, aku akan menyimpan semua kenangan kita didalam sini." ucap Wu Song sambil menunjuk hatinya.
Wu Song berjalan kearah taman tempat Ceng Ceng dulu sering berdiri memperhatikan dirinya yang sedang bekerja dari jendela kamarnya yang terbuka.
Wu Song menggunakan suling Hitam nya membuat garis , kemudian dia menghantamkan Suling hitamnya kearah tanah di taman yang telah dia tandai tadi.
Alhasil dalam 3 kali hantaman terbentuk sebuah lubang yang pas dan cukup dalam untuk mengubur Peti mati yang berisi Ceng Ceng.
Wu Song dengan hati-hati mengangkat dan memasukkan peti mati kedalam lubang seorang diri.
Kemudian Wu Song mengibaskan tangannya beberapa kali kearah tumpukan tanah bekas galian nya tadi.
Tanah itu berhamburan masuk kedalam lubang tempat peti mati.
Akhirnya membentuk sebuah gundukan tanah yang baru selesai ditimbun.
Wu Song membelah dan membentuk sebuah batu nisan dari batu gunung alam yang menghiasi sisi kanan taman.
Kemudian menempatkan batu nisan didepan gundukan tanah timbunan makam Ceng Ceng.
Wu Song mengukir tulisan,
Makam Istri Tercinta Si Ma Ceng,
Wu Song kemudian berlutut dan memejamkan matanya didepan makam Ceng Ceng.
__ADS_1
Si Ma Jian memerintahkan orang-orang itu mengurus sembayangan dan perapian makam.
Orang-orang yang terpana melihat kesaktian Wu Song, kini cepat-cepat menjalankan tugas yang diberikan oleh Si Ma Jian.