
Mendengar kata-kata Wu Song, Yue Fei mengangguk dalam diam.
Dia tidak bisa berkomentar ini masalah pribadi junjungan nya, meski hati kecilnya kasihan terhadap Yi Yi.
Tapi dia juga tidak bisa dan tidak boleh berkomentar.
Setelah memberi hormat pada Wu Song Yue Fei segera mengajak Sin Yi calon istrinya meninggalkan tempat tersebut.
Sebelum nantinya penduduk datang menuntut keadilan akan semakin repot.
Dalam beberapa kali lompatan panjang, Yue Fei bersama Sin Yi telah menghilang dari tempat tersebut.
Wu Song sangat kagum dengan kebesaran cinta Yue Fei, dia mendoakan semoga mereka berdua bisa hidup berbahagia sampai tua.
Wu Song menghela nafas dan bergumam sendiri,
"Cinta telah merubahnya menjadi iblis, cinta pula lah yang mengembalikannya menjadi Dewi."
Kemudian Wu Song melesat kembali ke arah penginapan nya, sampai di kamar Wu Song melihat istrinya masih asyik tidur.
Wu Song tidak membangunkan nya, Wu Song memilih duduk di sampingnya bermeditasi.
Lu Ping akhirnya dengan malas membuka matanya, dia melihat suaminya sedang bermeditasi.
Timbul niat menggoda Wu Song, Lu Ping bangun mencium pipi suaminya tapi tidak ada respon.
Dia meniup lubang telinga Lu Sun juga tidak ada respon, dia kemudian dengan gemas mencium bibir Wu Song, tetapi tetap tidak ada respon.
Lu Ping tiba-tiba tersenyum nakal, dia meraba dan mengelus tongkat suaminya, sekali ini Wu Song tidak bisa menahan diri lagi.
Dia membuka matanya sambil tertawa langsung merangkul Lu Ping dan menjatuhkannya ke kasur.
"Wu Song berkata kamu nakal ya hari di hukum."
Lu Ping tertawa cekikikan menanggapi kata-kata suaminya.
"Mau di hukum apa ? katakan saja aku siap menerimanya tuan." ucap Lu Ping meledek Wu Song.
Wu Song berpikir sejenak kemudian berkata,
"Hukuman di kelitikin..."
Selesai berkata, Wu Song langsung beraksi membuat Lu Ping menjerit-jerit ampun jangan dan tertawa-tawa tidak berhenti kegelian.
"Aduh sayang perut ku kram,!" jerit Lu Ping tiba-tiba.
Wu Song terkejut dan menghentikan main-main nya, melihat Lu Ping dengan panik,
__ADS_1
"Maaf sayang... maaf sayang...maaf..." ucap Wu Song ketakutan dan panik sambil meraba-raba perut istrinya dengan khawatir.
Tiba-tiba Lu Ping bangun melompat dari kasur berlari menjauhi Wu Song dan berkata,
"Tertipu..." Lu Ping tertawa-tawa menjulurkan lidahnya mengejek Wu Song .
Wu Song pun tersadar, Lu Ping kembali mempermainkan nya, kedua suami istri itu berkejar-kejaran di dalam kamar bersenda gurau tertawa-tawa seperti anak kecil.
Setelah kecapekan Lu Ping baru menyerah dan berbaring di pelukan suaminya dengan manja dan bertanya,
"Bagaimana sayang, apakah berhasil menangkap pembunuh itu?"
Wu Song kemudian menceritakan semua yang dialaminya semalam, termasuk menceritakan Bun Houw telah menjadi panglima.
Tapi tidak menikah dengan Yi Yi, Bun Houw menikah dengan putri Gao Liu.
Mendengarnya Lu Ping sangat marah, dan berkata,
"Saudara mu itu sangat kelewatan, pulang ke lembah saya pasti akan memberitahu ayah dan Lu Fan untuk memberikan pelajaran padanya."
"Pantas saja sejak awal bertemu, aku sudah kurang suka padanya, cuma karena kamu saja aku bersedia menampung dia di lembah."
"Aku jadi menyesal membawanya ke lembah bedebah sialan itu tidak pantas di tolong."
Umpat Lu Ping kesal tidak putus-putus seperti kereta api.
"Entah ada di mana Yi Yi sekarang, gadis lugu dan polos itu aku sungguh khawatir dengan nasibnya." ucap Lu Ping sedih.
Wu Song hanya diam, tidak berkata apa-apa,
dia sadar dalam hal ini saudaranya salah, tapi sebagai orang luar tidak bijaksana bila mereka ikut campur.
Itu adalah urusan perasaan dan hati mereka berdua siapa pun di antara mereka tidak ada yang berhak mencampurinya.
"Sudahlah sayang yang paling penting sekarang adalah secepatnya menemukan
Yi Yi , sedangkan persoalan di antara mereka berdua kita sebagai orang luar tidak bisa ikut campur." ucap Wu Song memberi saran.
Tiba-tiba Lu Ping menoleh ke arah Wu Song dan berkata dengan sengit,
"Kamu terus saja membela saudara mu itu, jangan-jangan kamu mau meniru kelakuan saudara mu itu ya?"
Wu Song langsung terkejut dan panik,
"Sayang kamu jangan berpikir sembarangan, aku tidak akan seperti itu, percayalah."
Lu Ping mendengus dingin dan berkata,
__ADS_1
"Aku tahu kok, di puncak Hua San, putri Nan Yang yang genit itu mengungkapkan perasaan nya pada mu."
"Cuma aku pura-pura tidak tahu saja, aku ingatkan pada mu, kalau kamu berani meniru atau punya pikiran seperti saudara mu, manusia tak berjantung itu, aku pasti akan menggorok leher ku di depan mu."
"Biar aku mati bersama anak yang ku kandung ini," ucap Lu Ping emosi dan air mata mulai mengembang di matanya.
Wu Song terkejut cepat-cepat memeluk Lu Ping dan berkata,
"Kamu berpikir terlalu jauh, di hati ku cuma ada dua wanita, pertama Ceng Ceng kedua kamu tidak akan ada yang ketiga."
Lu Ping sambil cemberut berkata,
"Lalu Se Se gimana?"
Wu Song menghela nafas dan berkata,
"Se Se adalah sebuah kesalahan yang ada hanya rasa penyesalan dan rasa bersalah tidak ada cinta, sayang."
Tapi Lu Ping hanya mendengus dingin dengan muka cemberut dan kesal dia berkata,
"Aku berubah pikiran kita tidak boleh ke Chang An, aku benci Chang An."
Wu Song mengangguk sambil menelan ludah berkata,
"Baik kita tidak akan pernah menginjakkan kaki di Chang An, bila kamu tidak suka, masih banyak kota-kota lain yang bisa kita kunjungi selain kota itu."
Lu Ping masih kesal dia membalikkan badannya berjalan kearah kamar mandi.
Wu Song tidak berani mengikuti nya, meski hatinya ingin, Wu Song takut membuat Lu Ping kembali marah.
Sebelum menutup pintu kamar mandi terdengar suara Lu Ping,
"Kamu kenapa masih duduk bodoh di sana,? tidak mau mandi,? atau masih memikirkan Putri itu dan ingin ke Chang An?"
Wu Song tidak menjawab cepat-cepat menyusul istrinya kekamar mandi.
Tak lama kemudian saat keluar dari kamar berjalan menuju restoran, sudah tidak terlihat wajah marah Lu Ping.
Mereka berdua terlihat mesra berjalan saling berangkulan dan tertawa-tawa.
Terlihat seperti orang yang sedang kasmaran, tidak ada yang bakal menyangka beberapa menit yang lalu sang pria baru saja di damprat habis-habisan oleh si wanita.
Selesai makan Wu Song dan Lu Ping Kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju kota Xiang Yang.
Saat tiba di kota Xiang Yang, Wu Song melihat keributan di depan gerbang kota.
Antara seorang pemuda tampan dengan tujuh orang berpakaian pendeta Tao.
__ADS_1