
Sambil berjalan nenek Yang yang melihat Yi Yi melamun begitu mendengar kabar berita tentang Bun Houw.
Dengan lembut dari samping menepuk-nepuk pundak Yi Yi, belajarlah melepaskannya.
Tidak bisa melupakan, simpanlah di di suatu tempat dibagian hati yang terdalam.
Belajar menerima dan hiduplah dengan sebaik-baiknya tidak demi diri mu setidaknya demi bayi di dalam kandungan mu.
Kata-kata dari Nenek Yang bagai air es yang disiramkan ke luka hati Yi Yi yang sedang berdarah.
Seketika rasa sakitnya jauh berkurang, darah yang menetes pun membeku.
Hatinya pun kembali dingin, Yi Yi menghapus airmatanya kemudian menatap Nenek Yang penuh rasa terimakasih dia berkata,
"Terimakasih nek, aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan mu nek.
Bila tidak ada Nenek entah bagaimana aku akan menjalani hidup ini."
"Aku merasa diriku seperti anak kecil yang tersesat, tidak punya arah dan tujuan.'
Nenek Yang tersenyum dan berkata,
"Nona Yi Yi tenang saja, biar nenek ini yang menjadi kompas untuk mu."
Yi Yi menatap Nenek Yi Yi dengan heran dan berkata,
"Nenek kata-kata mu membuat aku merasa kamu seperti seorang pria yang sedang merayu ku."
"Tapi aku malah menyukai nya dan merasa nyaman." ucap Yi Yi sambil tertawa.
Nenek Yang terlihat panik dan canggung dia berkata,
"Maafkan Nenek sebagai orang desa yang tidak banyak memiliki kata-kata indah untuk menghiburmu."
"Jadi nenek mencuri beberapa kata dari syair lagu, tidak tahunya malah salah tempat." ucap Nenek Yang sambil tertawa menutupi ke canggungan nya.
Yi Yi tersenyum dan berkata,
"Lupakan saja, aku malah merasa senang dan nyaman nek, ayo kita lihat-lihat ke toko sana."
Ying Ying sambil menunjuk sebuah toko tidak jauh dari mereka dia berjalan kearah toko tersebut.
Setelah berputar-putar dan membeli semua keperluan Yi Yi dan Nenek pun meninggalkan kota pulang kerumah mereka.
Kembali ke Bun Houw mari kita ikuti perjalanan nya yang berangkat ke perbatasan barat menghadapi bangsa Tar-Tar dan Bhutan.
__ADS_1
Yang terkenal ganas, punya fisik yang bagus jago memanah dan berkuda, ini semua berkat kehidupan mereka yang keras.
Sebagian besar mereka hidup dari berburu sejak mereka kecil sampai dewasa.
Menunggang kuda juga keahlian mereka, yang sejak kecil sudah terlatih dengan baik.
Karena selain sebagai pemburu mereka juga peternak kuda yang handal.
Bun Houw membawa seluruh pasukan yang telah dia latih sebanyak 50.000 personil, Bun Houw tidak membawa semua nya.
Yang dianggap kurang mampu dia tidak membawanya, Bun Houw tidak mau mereka menjadi korban karena belum siap.
Bun Houw pasukannya menggunakan baju pelindung dari kulit saja, sehingga pasukannya terlihat biasa saja.
Tidak seperti Pasukan Pangeran Si Ma Ong yang memakai baju zirah besi dengan lengkap terlihat sangat keren.
Dalam 3 hari perjalanan mereka semua sampai di benteng perbatasan barat.
Selama dua hari Bun Houw hanya mengumpulkan informasi dia tidak bergerak.
Dari informasi yang di kumpulkan Bun Houw mendapatkan informasi bangsa Tar-Tar dan Bhutan kini bekerja sama.
Pasukan gabungan mereka mencapai 600.000 personil, pantas saja dalam sehari bisa puluhan kali mereka berteriak di depan benteng menantang perang-.
Bun Houw menyimpulkan benteng mereka memiliki pertahan yang cukup baik karena benteng terdiri dari dua lapis tembok tinggi.
Bun Houw sengaja tidak keluar melayani tantangan mereka, hampir 5 hari Pasukan Kerajaan tidak bergerak sama sekali.
Pangeran Si Ma Ong sudah beberapa kali menanyakan kepada Bun Houw, tapi Bun Houw selalu menjawab waktu belum tepat.
Pada hari ke enam dari pagi terlihat awan hitam bergulung-gulung menghampiri kearah benteng.
Bun Houw berdiri di puncak menara pengawas benteng di bagian paling tinggi seorang diri.
Dari atas sana Bun Houw dapat melihat dengan jelas pasukan bangsa liar, yang berjumlah sangat banyak.
Terlihat seperti kumpulan semut yang sedang mengepung benteng pertahanan mereka.
Akhirnya hujan mulai mulai turun membasahi mereka, petir mulai sambar menyambar diudara.
Bun Houw berdiri mematung di bawah curahan hujan sambil memejamkan matanya.
Se saat kemudian semua petir diudara terserap kearahnya yang kini melayang keatas langit setelah terkumpul Bun Houw melemparkan bola petir raksasa itu kearah Pasukan bangsa liar .
Pasukan bangsa liar sangat terkejut saat melihat Bun Houw bisa melayang menyerap petir kemudian mengumpulkannya menjadi sebuah bola petir.
__ADS_1
Yang kini dilemparkan ke arah mereka dengan kecepatan tinggi, mau mundur dan menghindar pun tidak sempat lagi.
Pasukan bangsa liar terpental bergelimpangan tersengat petir yang berarus kuat.
Karena tanah dan pakaian mereka basah terkena hujan apalagi para komandan sampai jendral merekai sebagian besar menggunakan baju Zirah pelindung dari logam.
Maka arus listrik dari petir bergerak cepat menyambar merekai.
Sebagian besar Pasukan bangsa liar hangus tersambar petir, tindakan Bun Houw tidak sampai di situ saja Dia menyusul nya dengan pukulan Tapak es abadi
Sehingga dalam radius puluhan mil seluruh pasukan bangsa liar kini membeku tidak bisa bergerak.
Bun Houw Kemudian berteriak,
"Sekarang serbuuu...!! hancurkan mereka semua...!!"
Pintu gerbang terbuka Pasukan kerajaan keluar dari dalam bentuk bersorak-sorak berlarian menyerbu kearah Pasukan liar yang membeku tidak bisa melawan.
Saat di tebas mereka akan pecah berkeping-keping seperti kaca pecah, Pasukan Si Ma Ong tidak bisa bergerak terlalu jauh hamparan yang membeku membuat jalan menjadi licin.
Hanya Pasukan Bun Houw yang di sepatunya di lengkapi mata pisau bisa meluncur dengan cepat di atas tanah membeku menebas semua pasukan bangsa liar dengan sangat cepat.
Dalam waktu singkat 300.000 pasukan bar-bar musnah sebagian tersengat petir, sebagian lagi tewas di tebas Pasukan Bun Houw.
Bun Houw tidak terlalu gembira atas kemenangan ini, karena dia memprediksi bangsa bar-bar dalam waktu dekat akan datang menyerang dengan kekuatan yang lebih besar.
Bun Houw melarang semua pasukan merayakan kemenangan, dia meminta mereka bersiap dengan waspada.
Benar saja pada hari kedua terlihat lautan manusia yang datang seperti gerombolan semut menuju kearah mereka.
Pasukan pengawas yang melihatnya membeku hatinya wajahnya pucat tubuhnya gemetaran.
Dia memperkirakan Kekuatan musuh mencapai 500.000 mungkin lebih.
Bun Houw dan pangeran Si Ma Ong yang sedang sarapan pagi mendapatkan laporan seperti itu.
Mereka langsung kehilangan selera makan, dan bergerak ke arah menara pengawas untuk melihat lebih jelas.
Dengan kepala dan mata mereka sendiri. Si Ma Ong sedikit pucat melihatnya.
Dia melirik ke arah Bun Houw mencari jawaban.
Bun Houw tidak menyangka kekuatan mereka begitu besar, apalagi saat ini sedang cerah.
Bun Houw tidak dapat menggunakan kekuatan alam menyerang ke mereka.
__ADS_1