
"Dengan pedang ini pula saya mengangkat hartawan Lim menjadi pengganti walikota Hu."
Mendengar ucapan Wu Song semua orang yang ada disana langsung menjatuhkan diri berlutut.
"Kalian semua berdirilah..!"
ucap Wu Song.
Maka hartawan Lim pun kembali berdiri, diikuti oleh komandan pasukan dan seluruh pasukannya.
Kerumunan masyarakat juga menyusul ikut berdiri.
Mereka semua menatap Wu Song dengan tatapan hormat, segan dan sedikit takut.
Wu Song menyadari hal itu, dan dia segera berkata,
"Baiklah hanya itu yang mau saya sampaikan, silahkan masing-masing kembali menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing."
ucap Wu Song singkat.
Kemudian Wu Song menatap kearah Hartawan Lim yang masih sedikit syok dengan hukuman yang Wu Song tunjukkan.
Wu Song tersenyum lembut menatap hartawan Lim dan berkata,
"Walikota Lim jangan khawatir saya bukan orang haus darah, asalkan anda tidak meniru jejaknya, anda pasti akan baik-baik saja."
"Tolong ambil alih tempat tinggal dan semua hartanya, gunakan untuk kesejahteraan rakyat kota Wan."
"Tolong kirimkan satu orang untuk pergi mengabari Kaisar Shi Ma Yan di Luo Yang, tentang keadaan dan situasi saat ini."
ucap Wu Song berpesan.
"Saya permisi dulu.."
ucap Wu Song singkat.
Wu Song langsung menghilang dari tempat tersebut setelah menyelesaikan kata-katanya.
Hartawan Lim kembali menjatuhkan diri berlutut diikuti oleh semua bawahannya.
Wu Song tidak menghiraukan hal itu, dia mencari tempat tertinggi dari menara pengawas dia duduk di situ.
Menanti kedatangan musuh yang lebih sakti yang bakal di kirimkan oleh Shi Ma Ong , untuk merebut kembali kota penting ini.
Pada hari ketiga terlihat rombongan dari istana datang, mengunjungi kota Wan.
Wu Song yakin yang datang adalah utusan kaisar untuk melakukan pengangkatan resmi kepada hartawan Lim.
__ADS_1
Itu bukan urusan nya, dia tidak akan mau ikut campur, jadi dia hanya pura-pura tidak melihat nya.
Dan kembali memejamkan matanya meneruskan meditasinya.
Sesuai dugaan Wu Song yang datang adalah Kasim Wei yang membawa Titah kaisar Shi Ma Yan.
Selain Kasim Wei, rombongan tersebut juga terlihat Jendral Kam dan Jendral Sun beserta rombongan pasukan baju Zirah emas.
Pasukan baju Zirah emas adalah pasukan elite pelindung keluarga Istana, Pasukan ini tidak pernah meninggalkan istana.
Kecuali saat mengawal kaisar yang sedang melakukan berbagai perjalanan, baik itu inspeksi maupun sedang melakukan kegiatan berburu.
Kehadiran jendral Sun di kota Wan adalah untuk menggantikan posisi Jendral He, yang telah gugur dalam rangka mempertahankan kota Wan.
Sedangkan kedatangan Jendral Kam dan Pasukan khususnya, adalah mendapat tugas dari Shi Ma Yan untuk mengawal adik manjanya Shi Ma Sian yang bersikeras ingin mengunjungi kota Wan.
Shi Ma Yan tahu mengunjungi kota Wan adalah alasan, mencari Wu Song itu barulah tujuan utama.
Tapi dia tidak berdaya menolaknya, apalagi di sogok dengan makanan yang sengaja di masak khusus oleh adiknya untuk menjamunya.
Walikota Lim menyambut kedatangan rombongan tersebut dengan penuh hormat, dan menyiapkan perjamuan buat mereka.
Setelah titah resmi di bacakan oleh Kasim Wei.
Putri Shi Ma Sian yang cantik jelita dan membuat semua mata yang hadir disana menatapnya dengan kagum.
"Walikota Lim dimana pelindung kota Wan, Pendekar Suling Hitam Wu Song, mengapa aku tidak melihatnya.?"
Jendral Kam yang tahu dengan pasti keinginan junjungan nya, hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan yang di lontarkan Shi Ma Sian.
Walikota Lim langsung kelabakan mendengar pertanyaan tuan putri Shi Ma Sian yang mendadak itu.
"Itu...itu...kalau hal itu, maafkan hamba..tuan putri..hamba kurang jelas mengenai keberadaan Pendekar Besar Wu Song..."
jawab walikota Lim dengan gugup.
Karena dia sendiri benar-benar tidak tahu, setelah Wu Song menyelesaikan masalah di kota Wan, dia langsung menghilang dari tempat tersebut. Dan tidak pernah terlihat lagi,
Walikota Lim dan semua orang di kota Wan tidak ada yang tahu, sebenarnya Wu Song berada di salah satu menara pengawas.
Yang sudah sangat lama tidak digunakan, meski itu adalah menara pengawas tertinggi, tapi menara itu sudah sangat tua dan lama tidak digunakan.
Shi Ma Sian terlihat kecewa dan agak sedih, jauh-jauh dia menempuh perjalanan, ternyata hasilnya sia-sia.
Mungkin benar apa yang di katakan oleh kakaknya, mencari orang sakti seperti Wu Song sangatlah sulit.
Seperti mencari jarum didalam tumpukan jerami, orang sakti seperti itu, mirip dengan naga sakti terlihat kepala tidak terlihat ekornya.
__ADS_1
Sambil menghela nafas panjang dengan kecewa Shi Ma Sian berkata,
"aku sudah lelah mau kekamar saja, silahkan kalian teruskan."
Dia pun langsung berdiri dari duduknya, dan berjalan meninggalkan tempat perjamuan tersebut.
Pelayan wanita Walikota Lim bergerak sigap, langsung membantu mengantar Shi Ma Sian kembali ke kamarnya.
Melihat Shi Ma Sian kembali ke kamar nya, Jendral Kam juga ikut meninggalkan jamuan tersebut, menyusul putri Shi Ma Sian.
Tugasnya adalah menjaga tuan putri, bila terjadi apa-apa dengan Tian putri akibat dia menikmati jamuan.
Kepalanya dan seluruh keluarganya bisa berpindah tempat.
Jendral Kam berdiri berjaga di depan kamar putri Shi Ma Sian.
Keesokan paginya rombongan Kasim Wei dan putri Shi Ma Sian, langsung bergerak kembali ke ibukota.
Jendral Kam akhirnya bisa bernafas dengan lega, ketika tuan putrinya memutuskan untuk kembali ke istana.
Saat keluar dari gerbang kota Wan, tiba-tiba Shi Ma Sian keluar dari dalam kereta nya.
Membuat kusir yang sedang mengendalikan kereta kuda sangat terkejut.
Shi Ma Sian tidak memperdulikan nya, dia berdiri di samping kusir dan berteriak dengan suara keras.
"Kakak Song...! Kamu di mana...! Selamat tinggal kota Wan..!"
"Kakak Song...! aku akan selalu menunggu kedatangan mu di istana...!"
Wu Song yang sedang meditasi, terkejut mendengar suara teriakan Shi Ma Sian.
Wu Song membuka matanya dan melihat kearah Shi Ma Sian, Wu Song benar-benar tidak menyangka gadis itu bisa nekad datang mencarinya.
Wu Song menghela nafas panjang, hatinya sangat terharu akan ketulusan cinta gadis itu padanya.
"Maafkan aku adik Sian... lupakan lah aku hiduplah dengan bahagia..."
gumam Wu Song kemudian kembali memejamkan matanya.
Shi Ma Sian dengan lesu masuk kembali kedalam kereta nya, kereta pun bergerak cepat meninggalkan kota Wan untuk kembali ke ibukota.
Setelah kepergian rombongan istana, suasana kota Wan kembali menjadi tenang.
Keterangan yang menyimpan bom waktu.
Pada hari ke 7 Wu Song yang merasakan, kehadiran orang yang tidak di undang.
__ADS_1
Dia membuka sepasang matanya, menatap kearah timur dengan tatapan tajam.
Terlihat 7 titik hitam sedang melayang cepat diudara, bergerak menuju ketempatnya.