LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
MENYETUJUI 2 PERMOHONAN CENG CENG,


__ADS_3

Ceng Ceng menatap Lu Ping sambil tersenyum kemudian meraih tangan Lu Ping dan menepuk-nepuk punggung tangannya dengan lembut kemudian dia gunakan tangan itu untuk menyentuh wajah Wu Song.


Kemudian dia berbicara dengan suara pelan,


"Ping Cie Cie aku merebut Wu Song dari mu, apakah kamu membenciku..?"


Lu Ping menggelengkan kepalanya, dengan airmata bercucuran dia berkata,


"Aku membenci diriku sendiri yang terlambat menyadari perasaan ku padanya."


Ceng Ceng sedikit kesulitan mengangkat kepalanya untuk menatap Lu Ping yang berdiri di sisinya.


Melihat hal ini Lu Ping cepat berjongkok disamping Ceng Ceng.


Ceng Ceng tersenyum hangat kemudian mengulurkan tangannya menghapus air mata yang membasahi sepasang pipi Lu Ping yang halus dan lembut.


Kemudian dia berkata,


"Ping Cie Cie aku ada satu permintaan, bersediakah kamu memenuhinya untuk ku..?"


Lu Ping mengangkat kepalanya menatap Ceng Ceng kemudian dia mengangguk dan berkata, "katakanlah aku pasti akan memenuhi harapan mu."


Lu Ping sadar meski kalau dia di minta untuk menjauhi Wu Song dia akan memenuhi harapan Ceng Ceng yang terakhir ini.


Dia tidak akan mengecewakan harapan terakhirnya yang akan membuat Wu Song berada dalam posisi serba salah.


Tapi di luar dugaannya, Ceng Ceng sambil tersenyum kemudian berkata,


"Suamiku ini banyak memiliki kelebihan tapi di satu sisi dia juga sangat bodoh dalam memahami perasaan pasangannya."


"Dia bahkan tidak bisa membedakan mana cinta sejati nya dan tanggung jawabnya.


Dia mencampur adukkan nya menjadi satu."


"Setelah aku pergi nanti yang paling aku khawatir kan adalah sikapnya yang bodoh dan keras ini."


"Aku tahu di dalam hatinya dia tetap sangat mencintai mu dan tidak pernah melupakan mu Ping Cie Cie."


Ceng Ceng meraih tangan Lu Ping kemudian menyatukan nya dengan tangan Wu Song.


Wu Song sangat terkejut dan ingin protes tapi melihat tatapan Ceng Ceng yang penuh permohonan, Wu Song tidak tega Akhirnya dia hanya tersenyum sedih menatap Ceng Ceng.


Sebaliknya Lu Ping sangat terkejut dan tidak menyangka tindakan Ceng Ceng saat ini.


Dia menatap Ceng Ceng dengan bingung dan tidak tahu mau berkata apa, ada perasaan sedih haru tapi juga ada perasaan tidak percaya.


Ceng Ceng dengan wajah tenang dan tersenyum lembut berkata,

__ADS_1


"Ping Cie Cie setelah aku pergi nanti, mau kah kamu menggantikan diriku menjaga merawat mencintai dan menyayangi suamiku yang bodoh ini."


"Meski dia bodoh tapi dia sangat setia bertanggungjawab dan tulus, dari segi ini saja dia adalah pria yang sangat bisa dipercaya, diandalkan menjadi sandaran hidup."


Lu Ping airmata nya mengalir deras


membasahi pipinya, dia sangat terharu dengan ketulusan dan kebaikan hati Ceng Ceng.


Sedangkan Wu Song menghadap ke arah lain perasaan sedih dan haru menyesaki dada nya membuat nya sulit bernafas.


Hanya sedu sedan tertahan yang keluar dari tenggorokan nya, airmata mengalir deras tidak tertahankan lagi.


Ceng Ceng sudah dalam kondisi seperti ini yang dipikirkan masih diri Wu Song, hal ini membuat Wu Song sangat terharu dan semakin sedih harus kehilangan seorang wanita yang begitu tulus mencintai nya.


Lu Ping menatap Wu Song sejenak dengan tatapan penuh harap.


Kemudian dia mengangguk dan menjawab,


"Aku akan menjaga dan merawat nya dengan baik sesuai harapan mu adik Ceng."


Ceng Ceng menghembus nafas lega, seakan beban yang sangat berat kini terangkat sebagian.


Ceng Ceng memegang wajah Wu Song dengan lembut dan menarik nya pelan-pelan agar menghadap kearahnya.


Kemudian berkata,


"Permintaan kedua ku, adalah biarkan Cin Hai dirawat oleh bibi Hua dan kakek disini.


Masa depan mu masih panjang, jangan sia-siakan karena terikat oleh Cin Hai yang masih kecil."


Wu Song sangat terkejut mendengar permintaan Ceng Ceng ini.


Dia terbelalak tidak percaya, dia ingin membantah bahwa dia tidak bisa dan tidak sanggup melakukan nya.


Tapi ketika bertemu dengan tatapan Ceng Ceng yang penuh permohonan, dia sadar Ceng Ceng melakukan semua ini untuk dirinya.


Tapi dia sulit menerima nya, tapi juga tidak tega menolaknya.


Lu Ping yang melihat Wu Song terlihat sangat keberatan dengan permintaan Ceng Ceng.


Dia kemudian berkata adik Ceng, "bagaimana kalau kamu percaya kan Wu Song dan Cin Hai padaku.


Aku berjanji akan mengurus keduanya dengan baik."


Ceng Ceng menatap Lu Ping sambil tersenyum penuh pengertian dan berkata,


"Bukan aku tidak mempercayai mu Ping Cie Cie, tapi Cin Hai masih bayi dia setiap hari perlu di susui oleh wanita yang memiliki bayi seperti bibi Hua.

__ADS_1


Sedangkan kamu masih gadis itu tidak bisa."


Ceng Ceng wajahnya menjadi merah dan tertunduk malu.


Sekali lagi Wu Song dan Ceng Ceng bertemu pandang dan Wu Song kemudian menghela nafas panjang dia tidak berdaya menolak permintaan Ceng Ceng.


"Song ke ke di sini agak dingin, aku ingin kembali ke kamar kita."


Wu Song mengangguk kemudian menggendong Ceng Ceng kedalam kamar.


Lu Ping ikut dibelakang Wu Song.


Sampai di kamar Wu Song ingin melangkah kearah ranjang.


Tapi Ceng Ceng mencegahnya, sambil menunjuk kearah meja dan kursi di pinggir jendela Ceng Ceng berkata.


"Song ke ke kita duduk disana saja, Wu Song tidak berkata apa-apa.


Dia langsung menggendong Ceng Ceng duduk dikursi dimana dulu sering dia gunakan untuk mengerjakan segala tugas yang diberikan kakek Ceng Ceng.


Wu Song duduk sambil merangkul pinggang Ceng Ceng yang duduk di pangkuannya.


Kepala Ceng Ceng bersandar di dada Wu Song.


Ceng Ceng terlihat termenung menatap bunga salju yang berterbangan jatuh keatas lantai dihalaman taman.


Salju yang sangat indah tapi membawa perasaan dingin dan sepi di hati Wu Song.


Sambil terus menatap kearah salju yang berterbangan tertiup angin, Ceng Ceng tiba-tiba bersuara,


"Ping Cie Cie menurut mu tidakkah salju ini sangat indah..? sayang keindahan nya cuma sebentar begitu jatuh keatas tanah dia sudah bukan apa-apa lagi dan akan menghilang begitu saja."


"Menurut mu, hidup wanita mirip dengan bunga tidak..? tumbuh mekar sangat cantik kemudian akan gugur seiring waktu dan lenyap tanpa bekas."


Lu Ping hanya mendekat dan mengangguk tapi dia tidak bisa menjawabnya, karena dia sedang menutup mulutnya menahan suara tangisannya, dengan airmata yang bercucuran membasahi pipi dan jatuh keatas dadanya.


Lu Ping sangat sedih dan tidak tega melihat wanita yang sangat baik ini semakin lama semakin lemah tubuhnya.


Wu Song tahu saat ini Ceng Ceng pasti sedang mengenang semua masa lalu mereka yang awal pertemuan nya lewat jendela tempatnya bekerja ini.


Tanpa dapat tertahankan hidung dan sepasang matanya kembali basah.


Ada perasaan sedih yang menyesakkan dada.


"Ceng Ceng kemudian menghela nafas panjang dan melanjutkan kata-katanya,


Alangkah baik bila bisa hidup lebih lama di dunia yang begitu indah ini."

__ADS_1


__ADS_2