
Sambil menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya Pai Mei Lau Jen berkata,
"Ikut dengan ku,"
Dia berjalan menuju patung Yu Se Thian Cun yang terletak di tengah, lalu mendorong patung itu mundur kebelakang.
Sehingga muncul sebuah lubang di bawahnya, Pai Mei Lau Jen melompat masuk kedalam diikuti tetua kedua.
Lubang tertutup kembali setelah tetua kedua ikut memasuki lubang.
Pai Mei Lau Jen membawa tetua kedua melalui jalan berlika-liku dan berkelak-kelok.
Terus menanjak keatas, sampai kesebuah jalan buntu, Pai Mei Lau Jen mendorong sebuah pintu batu yang besar dan sangat berat.
Pintu pun terbuka, ternyata di balik pintu itu terdapat sebuah lembah yang penuh dengan berbagai bunga berwarna-warni.
Bahkan di tempat ini juga terlihat banyak pohon persik dengan buahnya yang lebat dan besar-besar.
Hanya buah di sini cuma buah biasa, tidak sama dengan buah yang ada di alam penebus dosa.
Pai Mei Lau Jen membawa tetua kedua melewati lembah yang penuh taman bunga.
Di ujung dari taman bunga tersebut terdapat 3 gua besar yang berjejer.
Pai Mei Lau Jen kemudian berkata sambil menunjuk gua didepannya.
"Gua yang paling tengah ini bagian luar di lindungi formasi segel dewa."
"Bagian dalam dijaga oleh oleh Supek Couw Su kita yang telah berusia ribuan tahun.
Di bagian paling dalam dari gua ini terdapat sebuah batu berbentuk janin berwarna kuning keemasan."
"Itu adalah batu Janin yang berisi Roh iblis yang datang dari dunia lain."
Di gua sebelah kiri juga terlindungi segel dewa, di dalam gua terdapat dua ekor monyet raksasa yang satu bulunya merah seperti api, yang satu lagi berwarna putih salju."
"Kedua monyet raksasa ini umurnya juga tidak dibawah Supek Couw Su kita, kesaktian kedua monyet itu juga sangat mengerikan."
"Kedua monyet ini di jaman nya dipanggil monyet api dan es, kedua monyet ini ditahlukan oleh guru besar Fu Si dan dikurung di dalam gua ini."
"Dan gua sebelah kanan di huni oleh Susiok Couw kita yang sangat sakti tapi kurang waras, karena salah latihan dia telah mengalami gangguan jiwa dan lupa ingatan."
__ADS_1
"Beliau lah pencipta jurus Cui Sin Cang yang sangat sesat dan berbahaya, dia juga di segel oleh guru besar Fu Si."
"Bagaimana Cui Sin Cang bisa tersebar di dunia luar bila Susiok Couw selalu terkurung di sini.?" tanya tetua ke dua heran.
"Itu aku juga kurang tahu, cuma guru pernah bercerita Susiok Couw dahulu adalah seorang jenius ilmu silat, dia tersesat dalam latihan." jawab Pai Mei Lau Jen.
"Akibat kehilangan anak istrinya yang di celakai oleh musuhnya ketika dia sedang menutup diri berlatih."
"Mungkin saja ilmu tersebut tersebar lewat anak keturunannya yang hilang itu, tapi ini cuma dugaan ku saja."
"Tugas mu sebagai ketua Xu San Pai kelak adalah menjaga dan melindungi Ketiga gua itu, jangan sampai ada yang melepaskan segel dewa dari.luar yang mengurung semua mahluk yang berada di dalam masing-masing gua."
"Bila mahluk di dalam sampai ada yang terlepas kekacauan yang akan ditimbulkannya akan sangat besar."
"Ayo sekarang kamu perhatikan baik-baik ya aku akan mewariskan kepada mu 3 jurus penutup Xu San yang hanya diwariskan kepada ketua saja.
Pai Mei Lau Jen melayang berdiri di atas kembang lalu mulai menunjukkan jurus pertama nya.
Dia bergerak dengan sangat ringan dan gesit semua bunga yang berguguran di tanah tersedot berputar-putar mengikuti tarian pedangnya.
Akhirnya dalam satu hentakan bunga tersebut membentuk kumpulan angin tajam yang menghantam dahsyat Kearah sebuah batu gunung sebesar kerbau dan hancur berkeping-keping.
"Bagaimana adik ke dua,?apa kamu sudah mengingatnya dengan baik ?"
Tetua kedua mengangguk dan menjawab,
"Cukup kak aku sudah mengingatnya."
Pai Mei Lau Jen kemudian melanjutkan dengan gerakan jurus kedua, tubuhnya melayang keatas,. setelah melakukan beberapa gerakan silat di udara.
Dia menunjuk pedangnya ke bawah, dari ujung pedang keluar seberkas cahaya merah yang kemudian terus menerus membelah diri menjadi ribuan cahaya merah melesat kearah bawah seperti hujan.
lokasi yang terkena lesatan cahaya merah tersebut menimbulkan lubang-lubang yang berdekatan seperti sarang lebah.
Dan untuk jurus terakhir terlihat Pai Mei Lau Jen memainkan beberapa jurus serangan pedang dengan lemah gemulai.
Kemudian pedangnya dia lepaskan dan mulai bergerak sendiri di kendalikan oleh tangannya.
Dari satu pedang berubah jadi dua dan terus bertambah sampai menjadi ribuan pedang yang mengikuti gerakan tangannya berseliweran mengincar musuh.
Seperti kumpulan lebah yang menutupi udara, dan terus bergerak mengejar musuhnya tanpa henti.
__ADS_1
Sampai Pai Mei Lau Jen menarik jurusnya kembali baru pedang tersebut kembali ke tangannya, menjadi sebatang pedang kembali.
Pai Mei Lau Jen kemudian menatap tetua kedua dan berkata,
"Bagaimana adik kedua kamu sudah bisa?"
Tetua kedua terlihat mengingat ketiga jurus di ajarkan ketua Xu San padanya, lalu duduk bersila memejamkan matanya.
Hampir setengah jam dia berada dalam posisi seperti itu, akhirnya dia membuka matanya dan mulai meniru gerakan kakaknya.
Meski agak kaku tapi dia berhasil menyelesaikan Ketiga jurus penutup itu dengan cukup baik.
Pai Mei Lau Jen tersenyum puas mengelus-elus jenggotnya dan berkata,
"Adik kedua kurasa sudah cukup, tinggal butuh latihan untuk melancarkan nya saja."
"Bila sering berlatih kamu pun bisa menyempurnakan gerakan mu."
"Ayo kita kembali keruang depan lagi."
Lalu mereka berdua kembali keruang depan dan duduk bersila di sana.
Dua bayangan berpakaian hitam muncul di depan kuil tempat tinggal Pai Mei Lau Jen.
Pai Mei Lau Jen yang sedang memejamkan matanya telinga kanannya bergerak-gerak, lalu dia berkata,
"Yang harus datang akhirnya datang juga."
Lalu dia membuka matanya dan melihat kearah pintu depan di mana dua sosok bayangan hitam yang mengenakan pakaian hitam dengan penutup wajah juga berwarna hitam.
Kini berjalan masuk keruang tengah dengan santai.
Tetua kedua sudah berdiri dari posisi nya bersila tadi dan sebatang pedang putih berkilauan tertimpa cahaya api lilin, telah berada ditangannya.
"Siapa kalian berdua ? apa maksud kalian berdua malam-malam datang menyatroni Xu San Pai ?" tanya tetua kedua sambil menatap tajam kearah kedua orang berpakaian hitam itu.
Kedua orang berpakaian hitam saling pandang, mereka tidak menjawab pertanyaan tetua ke2 seakan-akan tidak mendengarnya.
Salah satu dari orang berpakaian hitam yang berdiri di sebelah kanan mengangguk.
Dia tanpa banyak bicara langsung menerjang kearah tetua kedua dengan sepasang cakarnya yang mengeluarkan sinar putih.
__ADS_1