LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
PERTEMUAN BUN HOUW DAN GURUNYA


__ADS_3

Sampai di tendanya Yang Jian mendengar Yi Yi sedang menangis diatas kasur tempat tidur mereka.


Yang Jian menghampiri Yi Yi sambil menyentuh pundaknya dia berkata,


"Yi Yi aku tahu kamu tadi berada di luar tenda, dan sudah mendengar semuanya.."


"Ayah sudah tua sehingga terkadang dia menjadi tidak sabaran, kita harus memahami posisi nya."


"Jangan terlalu di ambil hati atas semua kata-katanya.sabarlah..."


"Aku bukan kesal sama ayah...aku kesal sama diri ku sendiri..."


ucap Yi Yi menahan Isak.


Yang Jian menghela nafas panjang dan membelai rambut Yi Yi dan berkata,


"Hal seperti itu adalah takdir dari atas, kita hanya bisa berusaha.."


"Kamu mana boleh menyalahkan diri mu, dalam hal ini melibatkan aku dan kamu, kamu mana boleh menyalahkan diri mu sendiri."


"Sabarlah bila waktu nya tiba, semua pasti akan datang dengan sendirinya, sudahlah jangan menangis lagi ya, sayang.."


ucap Yang Jian lembut sambil memeluk dan membelai punggung istrinya.


"Yang Ta ke, aku benar-benar ingin perang ini cepat usai.


"Sehingga kita bisa pergi meninggalkan dunia ramai yang rumit dan banyak konflik ini, kita bisa cari tempat sepi di Thian San dan menetap di sana dengan damai dan tentram."


Yang Jian mengangguk dan berkata,


"Semua terserah pada mu, aku akan ikuti apapun kehendak mu, yang penting kamu bahagia dan gembira.."


Yi Yi membalikkan badannya memeluk suaminya dengan mesra dan berkata,


"Makasih ya kamu selalu sabar dan penuh pengertian menghadapi berbagai sifat jelek ku.."


Yang Jian tersenyum dan berkata,


"Tidak apa-apa, itu karena aku tidak yakin di kehidupan selanjutnya apakah aku masih bertemu dan bersatu dengan mu lagi.."


"Jadi aku benar-benar akan memanfaatkan waktu yang kita punya, untuk bersikap sebaik mungkin dan menjaga mu dengan hati-hati agar tidak pernah bersedih."


Yi Yi merangkul suaminya dengan erat dan berkata,


"Terimakasih sayang..."


Setelah memenangkan istrinya dan menjaganya hingga tertidur pulas.


Yang Jian baru mengumpulkan anak buahnya meminta mereka untuk bergerak malam ini juga menduduki dan menjaga Meng Jin.

__ADS_1


Sesuai dengan rencana yang di atur oleh Lu Sun.


Setelah itu Yang Jian menghubungi ajudan Gao dan Jendral hitam putih agar mempersiapkan pasukan mereka bergerak menuju Luo Yang besok subuh..


Yang Jian kembali ke tenda memilih duduk bersila memulihkan kekuatan sambil menanti waktu subuh tiba.


Sementara itu di pihak Bun Houw sendiri mereka sudah sepakat akan meninggalkan Luo Yang melalui Meng Jin.


Di mana mereka akan melarikan diri menuju daerah Utara melewati kota Jin Yang.


Bun Houw akan membawa pasukan nya yang terlatih menyeberangi sungai kuning dengan sepotong kayu sebagai pelampung mereka.


Mereka menggunakan pintu dan daun-daun jendela di Luo Yang sebagai pelampung mereka.


Tidak jauh dari penyeberangan Meng Jin memang ada sebuah dermaga kecil yang tersembunyi.


Melalui dermaga Tanpa nama itu, mereka bisa meloloskan diri menuju Utara.


Bun Houw dan Rombongannya berangkat selangkah lebih cepat dari perkiraan Lu Sun.


Lu Sun yang mendapat kabar ini dari mata-matanya, dia langsung merubah rencana.


Dia mempercepat rencana penghadangan besok pagi oleh para pendekar, menjadi dirinya sendiri beserta seluruh pasukan di bawahnya.


Pergerakan pasukan Lu Sun yang menggunakan kuda lebih cepat selangkah di banding pergerakan pasukan Rajawali Merah pimpinan Bun Houw.


Saat Pasukan Rajawali Merah pimpinan Bun Houw dan Shi Ma Ong tiba di Meng Jin.


Bun Houw mengangkat tangannya memberi kode agar Pasukan nya berhenti bergerak.


Dia sendiri maju kedepan menggunakan kuda merahnya yang tinggi besar dan gagah berjalan pelan mendekati Lu Sun Xue Yen Lu Fan dan Wu Song yang juga berada di atas tunggangan mereka masing-masing.


Setiba di hadapan Lu Sun, Bun Houw turun dari kudanya berjalan kehadapan Lu Sun dan berlutut sambil berkata,


"Guru Bun Houw datang memberi salam pada mu.!"


Bun Houw berlutut dan membenturkan dahinya diatas tanah sebanyak 3 kali.


Lu Sun menatap muridnya ini dengan haru, Lu Sun teringat masa-masa mereka hidup di lembah.


Bun Houw inilah yang selalu menyiapkan makanan untuk nya sehari 3 kali.


Bun Houw sangat rajin cerdas dan berbakat, sebenarnya di dalam hati Lu Sun benar-benar sangat menyayangi muridnya ini.


"Bun Houw kamu berdiri lah, saat ini kita berdiri di pihak yang berbeda."


"Mari kita berbicara mewakili pihak masing-masing.."


ucap Lu Sun berusaha mengatasi kelemahan hatinya.

__ADS_1


Bun Houw mengangguk patuh, kemudian dia berdiri dengan gagah di hadapan gurunya dan berkata,


"Meski kita berdiri di sisi berbeda, ijinkan lah aku tetap memanggil mu guru hingga akhir hayat hidup ku guru."


Bun Houw menatap kearah Lu Sun dengan penuh permohonan.


Lu Sun menghela nafas panjang dan berkata,


"Bun Houw bila saat ini kamu bertobat ikut dengan ku kembali ke lembah, tinggalkan tempat ini."


"Maka aku akan membiarkan semua pasukan Rajawali Merah mu pergi dengan aman dari tempat ini."


"Ayah...! sayang jangan...!"


Terdengar teriakan kaget Lu Fan dan Xue Yen mendengar tawaran Lu Sun ke Bun Houw.


Mereka berdua tidak rela melepaskan Bun Houw yang telah merusak kehidupan Yi Yi orang yang sangat mereka sayangi itu.


Lu Sun mengangkat tangannya memberi kode Lu Fan dan Xue Yen jangan ikut campur.


Hanya Wu Song yang tetap terlihat tenang menatap sahabatnya dengan lembut dan penuh iba.


Lu Sun melanjutkan berkata sambil menatap Bun Houw,


"Tapi tinggalkan Shi Ma Ong dan Koai Lau Jen.."


"Guru ambillah nyawaku, aku rela dan tidak akan pernah melawan, tapi tolong lepaskan semua mereka yang mengikuti ku.."


Lu Sun menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Bun Houw murid ku sadarlah dan bertobatlah jauhi kedua orang itu, mereka tidak pantas kamu bela..."


"Mereka adalah Iblis berwajah manusia.."


"Maafkan murid mu yang tidak berbakti ini guru, bukan murid ingin berbantah dengan mu.."


"Murid sudah bersumpah selagi murid masih bernafas, murid akan melindungi pangeran Shi Ma Ong dengan taruhan nyawa, dan tidak akan pernah meninggalkan atau pun berkhianat darinya."


Wu Song akhirnya angkat bicara,


"Sahabat ku sadarlah, dia hanya memanfaatkan mu, kamu jangan keras kepala cepat tinggalkan dia selagi masih ada kesempatan.."


Bun Houw memberi hormat kearah Wu Song dan berkata,


"Dia boleh memanfaatkan ku, tetapi aku Bun Houw sekali bersumpah tidak akan pernah mengingkarinya.."


"Mohon mengertilah sahabat ku, hanya sedikit kebanggaan inilah yang tersisa dari Bun Houw yang tidak berguna dan kotor.."


"Terimakasih atas perhatian mu sahabat ku, sampai mati pun Bun Houw tidak akan melupakan persahabatan kita.."

__ADS_1


.


__ADS_2