
Wu Song buru-buru berdiri dan membantu raja Wirata untuk kembali duduk dan berkata "tidak perlu seperti itu yang mulia, anda membuat ku menjadi tidak enak."
Raja Wirata tersenyum, lalu dia melirik kearah istrinya seakan-akan memberi kode agar istrinya berbicara.
Ratu mengerti maksud suaminya, dia mengangguk lalu dengan wajah sedih dia berkata,
"Maaf nak Wu Song kami terus merepotkan mu, ku harap kamu jangan tersinggung dan merasa tertekan dengan berbagai permintaan kami."
Wu Song tersenyum lembut dan berkata,
"Yang mulia ratu jangan sungkan ada hal apa katakan saja, bila Wu Song bisa bantu Wu Song pasti tidak akan menolaknya."
Ratu sedikit ragu tapi akhirnya dia berkata,
"Nak Wu Song kamu tahu Utari adalah putri kami satu-satunya, sebagai ibunya akhir-akhir ini aku sungguh tidak tenang dan sangat khawatir dengan nya."
Mendengar disebutnya nama Utari Wu Song langsung tersenyum kecut tidak tahu mau berkata apa dia langsung terlihat gelisah.
Masalah ini lebih mengkhawatirkan daripada harus menghadapi ribuan panah dan pedang dari musuhnya.
Sambil menghela nafas panjang Wu Song perlahan-lahan bertanya,
"Ada apa dengan putri Utari,? Yang mulia ratu mohon penjelasannya."
Sambil menghela nafas panjang penuh kesedihan dari keputusasaan ratu pun berkata,
"Putri ku yang bodoh dan sangat keras kepala itu, kondisinya sangat mengkhawatirkan bila dia terus seperti ini aku khawatir dia tidak bisa bertahan melewati bulan ini."
Berbicara sampai di sini meledaklah tangis Sang Ratu tidak bisa menahan diri lagi, meluapkan seluruh Perasaannya yang tidak bisa dia tahan lagi.
Melihat anaknya yang sejak bayi dia rawat sampai sebesar ini, yang biasanya selalu bersemangat dan ceria, kini berubah seperti ini hatinya seperti disayat-sayat oleh pisau saja.
Apalagi bila sampai anak itu pergi meninggalkannya lebih dahulu, dia sungguh tidak berani membayangkan dan memikirkannya bila hal itu sampai terjadi.
Bagaimana dia sanggup melanjutkan hidupnya bila hal itu terjadi.
Wu Song menatap sedih dan tak berdaya Kearah Sang Ratu, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi hal ini.
Wu Song hanya bisa mengutuk kecerobohan nya sendiri sehingga terjadi tragedi seperti saat ini.
__ADS_1
Raja Wirata memegang pundak istrinya dan berkata,
"Sayang kamu tenanglah sedikit jangan seperti ini."
"Tenang tenang tenang...! kamu hanya selalu bisa berkata seperti ini, putri kita sudah hampir sekarat kamu masih saja meminta ku tenang.!"
"Ayo kamu katakan bagaimana aku harus tenang ? sebentar lagi si rambut putih ini harus mengantar kepergian si rambut hitam.!
"Yang selama ini saya kandung lahirkan dan besarkan dengan susah payah sampai sebesar ini, sebentar lagi dia akan pergi meninggalkan kita, kamu masih bisa meminta ku untuk tenang.!"
"Kamu katakan...katakan... bagaimana aku bisa tenang...!" teriak sang Ratu kepada suaminya lalu kembali menangis tersedu-sedu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Raja Wirata mengulurkan tangannya ingin membelai rambut Istrinya, Mencoba untuk menenangkan istrinya, tapi tangannya di tepis oleh Sang Ratu yang tidak bersedia disentuh .
Raja Wirata hanya bisa menghela napas dan tersenyum pahit melihat Wu Song dengan perasaan tidak berdaya dan tidak enak.
Wu Song kemudian menghela nafas panjang dan berkata,
"Yang mulia ratu jangan seperti ini, baiklah aku berjanji pada anda sekarang juga aku akan pergi menemui Utari dan mencoba membujuknya."
Wu Song kemudian berdiri memberi hormat kepada raja ratu dan pangeran Utara, dengan perasaan tidak enak.
Dia langsung berkelebat lenyap terbang menuju kediaman putri Utari.
Wu Song sangat terkejut melihat seorang gadis yang duduk di taman sedang termenung kadang tersenyum kadang tertawa kadang bersedih dan menangis.
Hanya satu yang tidak berubah dalam setiap ekspresi wajah nya yaitu airmata nya tidak berhenti mengalir membasahi pipinya yang kurus dan cekung.
Tubuhnya terlihat sangat lemah dan lesu, Wu Song hampir tidak percaya inilah putri Utari yang sangat cantik yang selalu riang dan selalu tertawa gembira.
Bila dia tidak sedang duduk di taman di kediaman nya dan di kelilingi oleh dayang-dayang nya Wu Song pasti tidak akan mengenalinya.
Wu Song hampir tak kuat melihatnya, Wu Song sangat merasa bersalah juga sedih melihatnya.
Ingin rasanya Wu Song melesat kehadapan nya dan langsung merangkul nya kedalam pelukannya dan berkata,
"Aku mencintaimu... menikahlah denganku.."
Hanya begitu sederhana, cukup dua kata itu semua masalah pasti beres, dan dalam 1 bulan bila dirawat dengan baik.
__ADS_1
Utari pasti akan kembali pulih seperti sedia kala, seperti Utari dulu yang cantik jelita dan selalu tersenyum gembira tanpa beban.
Tapi Wu Song sadar meski terlihat sederhana tapi Wu Song tidak boleh sekali-sekali melakukannya.
Kesenangan sesaat itu akan membawa penderitaan tiada ujung, baik buat Utari maupun untuk Lu Ping wanita yang sangat dia cintai itu.
Setelah kembali ke pikiran tenang nya, Wu Song bisa kembali berpikir dengan jernih tanpa terbawa perasaan.
Wu Song perlahan-lahan melayang turun di hadapan Utari dan mendarat dengan ringan di depan nya, lalu berkata.
"Utari mengapa kamu harus menyiksa dirimu sendiri seperti ini.?"
Mendengar dan melihat Wu Song yang kini berdiri di hadapannya Utari sangat terkejut.
Ada perasaan senang bahagia Wu Song datang menemuinya dan mengkhawatirkan dirinya.
Tapi juga ada perasaan takut, takut dengan kenyataan Wu Song akan mengatakan hal yang tidak ingin dia dengar.
Utari begitu tersadar langsung berusaha berdiri sambil berpegangan pada meja lalu dengan tubuh sempoyongan berniat berlari kembali kekamar tidak ingin bertemu dengan pria yang dia rindukan siang dan malam.
Tapi juga pria yang paling tidak ingin dia temui.
Akibat tubuhnya yang lemah karena terburu-buru dia malah terjatuh, Wu Song cepat-cepat menangkapnya.
Sehingga dia tidak berkutik lagi kini bersandar dengan lemah dalam pelukan Wu Song.
"Kakak Song...aku...aku..."
"Sudahlah jangan berkata apa-apa lagi, aku yang akan merawat mu sendiri sampai kamu pulih total baru kita berbicara."
ucap Wu Song lembut.
Airmata kembali melompat keluar dari sepasang mata yang indah itu.
Wu Song dengan lembut menghapus dua butir air bening yang mengalir dari mata Utari.
"Kakak Song kalau begitu aku memilih tidak pernah pulih saja."
ucap Utari menatap Wu Song dengan penuh harap.
__ADS_1
Wu Song tersenyum dan berkata,
"Gadis bodoh mana boleh seperti itu, kamu hanya akan membuat ku merasa sedih dan bersalah bila kamu terus seperti ini."