
Tapi mereka semua di perlakukan dengan sopan, di sisi mereka berdiri pangeran Utara dan Putri Utari.
Raja Wirata berdiri dari tempat duduknya dan turun dari atas mimbar begitu melihat mereka ber 6 di hadirkan keruang sidang.
Raja Wirata berjalan mendekati pria yang menggunakan senjata Tombak, sambil mencabut sebatang pedang pendek yang sangat tajam berkilauan tertimpa cahaya lilin yang terang di dalam ruang sidang tersebut.
Wanita yang tidak terikat terkejut dan berlari menghadang di depan raja Wirata sambil berkata,
"Kamu mau apa ? jangan sakiti suamiku, langkahi dulu mayat ku bila ingin menyakitinya."
Melihat hal ini Pria berbadan besar dan pria yang membawa busur bereaksi keras kedua mata mereka melotot penuh kemarahan, urat-urat di dahi mereka sampai menonjol.
Tapi tubuh mereka tidak menuruti pikiran mereka, tubuh mereka meski tidak diikat sekalipun tidak bisa mereka gerakan.
Bahkan suara mereka pun tidak bisa keluar, sehingga mereka hanya bisa melotot dengan penuh kemarahan dan kebencian.
Raja Wirata dengan tenang berkata,
"Tuan putri Drupadi bila kamu menghadang seperti ini bagaimana saya bisa melepaskan ikatan ditubuh pangeran Yudistira, putra raja pandu.?"
Putri Drupadi terkejut dan dengan ragu melihat kearah mereka berlima, dia mendapat anggukan dari Yudistira yang selalu bersikap tenang dan sabar.
Maka Drupadi pun mundur kesamping Yudistira, membiarkan raja Wirata maju memotong tali pengikat ke 5 orang itu sambil berucap,
"Maaf pangeran Yudistira, maaf pangeran Bima, maaf pangeran Arjuna, maaf pangeran Nakula, maaf pangeran Sadewa."
Setiap mengucapkan kata maaf dia memotong dan melepaskan tali mereka satu persatu sambil menyebut indentitas mereka ber 5.
Kemudian melanjutkan berkata,
"Maafkan ketidak sopanan putra-putri ku dan pelindung kerajaan kami nak Wu Song."
Wu Song mengangguk kecil kearah mereka berlima sambil tersenyum kemudian mengibaskan tangannya kearah mereka
ber 5.
Serangkum angin menerpa mereka, sedetik kemudian tubuh mereka pun bisa bergerak lagi.
Si pemuda tinggi besar (Bima) dengan penuh kemarahan maju dan berkata,
"Bajingan licik majulah kalau kamu jantan hadapi aku dengan terang-terangan."
Bima mundur jaga sikap mu..! mundurlah..!
ucap Yudistira tenang.
"Kakak tapi dia...!"
__ADS_1
ucap Bima tidak puas.
"Biarkan saja pangeran Yudistira, aku akan bermain-main sebentar dengan pangeran Bima agar dia puas."
ucap Wu Song tenang dan sudah lenyap dari tempatnya berdiri dan muncul dihadapan Bima yang bertubuh tinggi besar.
Bima tertawa gembira dan berkata dengan suara nya yang keras dan berat,
"Kamu cukup bernyali mahluk kuning, tapi beranikah kamu menghadapi ku secara langsung tanpa main hilang dengan ilmu sihir mu."
Wu Song tersenyum dan berkata,
"Baiklah pangeran Bima aku tidak akan menghindar dan akan menerima pukulan mu keras lawan keras, kerahkan lah semua kekuatan mu agar kamu puas."
Bima berkomat-kamit membaca mantra, kemudian secara ajaib sebuah gada yang sangat besar dan berat muncul dalam genggaman nya.
Dengan ringan nya Bima memutar-mutar gadanya di atas kepala sehingga menimbulkan bunyi angin berderu-deru.
Yang membuat orang disekitarnya semua mundur menjauh termasuk ke 4 saudaranya dan putri Drupadi
juga raja Wirata dan putra putrinya mereka juga mundur menjauh termasuk para Mentri dan jendral.yang hadir diruang sidang istana.
Bima setelah mutar-mutar gadanya kemudian melompat untuk memukulkan gadanya ke arah Wu Song sambil berteriak,
"Mahluk kuning keluarkan senjata mu...!!"
"Tidak perlu..!"
Seekor Naga Mas mengeluarkan raungan menggetarkan ruangan menubruk kearah Bima.
Pertemuan antara gada dan tenaga pukulan telapak tangan Wu Song menimbulkan ledakan dahsyat yang mengguncang ruang sidang istana.
Tubuh Bima melayang keluar dari istana seperti layang-layang putus gadanya terlepas dari pegangannya dan jatuh diatas lantai.
Wu Song tetap berdiri gagah di tempatnya tanpa kekurangan apapun.
Ke 5 orang itu menatap dengan terkejut, mereka tahu betapa kuatnya serangan Bima tadi, tapi yang mereka tidak sangka adalah
Wu Song yang bertubuh kecil itu sanggup melayani Bima dan membuatnya terpental.
Sesaat kemudian Drupadi cepat-cepat berlari keluar dari ruangan dan berteriak memanggil Bima dengan penuh kekhawatiran.
Baru di susul dengan keempat saudaranya yang lain.
Tapi Bima sudah kembali melangkah memasuki istana sambil tersenyum puas dan menatap Wu Song dengan kagum.
Bima masuk dibantu oleh Drupadi istrinya yang cantik dan bertubuh kecil.
__ADS_1
Bima sambil memegang dadanya berkata,
"Mahluk kuning aku mengaku kalah, kamu hebat."
Tiba-tiba Arjuna melangkah maju dan berkata,
"Saudara Song beranikah kamu menerima tantangan ku ?"
Wu Song sambil tersenyum berkata,
"Aku bukan tidak berani menerima tantangan mu, cuma bila di lakukan di tempat ini."
"Kerajaan Wirata akan kehilangan istananya dan akan mengalami kerugian besar."
"Bagaimana bila kalian setujui dulu permintaan raja Wirata, kemudian kita mencari tempat yang jauh dari pemukiman warga, aku berjanji akan melayani semua panah mu sampai kamu puas."
ucap Wu Song dengan cerdik memancing rasa penasaran Arjuna yang sangat percaya diri dan haus kemenangan dari musuh tangguh.
Arjuna dengan tidak sabar menatap kearah raja Wirata dan berkata,
"Ada permintaan apa raja Wirata ? cepat anda katakan ."
Wu Song tersenyum kalimat inilah yang dia tunggu-tunggu tanpa perlu susah payah kini pihak Pandawa yang bertanya sendiri.
Raja Wirata dengan senang hati menceritakan semua duduk perkaranya dan memohon kebijaksanaan Yudistira agar tidak melibatkan kerajaan nya yang kecil dalam permusuhan antara Pandawa dan Kurawa.
Raja Wirata juga menjelaskan bahwa pangeran Duryodana raja Chedi Sisupala dan Raja Muda Angga Karna.
Sudah berada di perbatasan dan siap menyerang kerajaan nya, bila Pandawa masih ada di tempat mereka.
Bima Arjuna dan Nakula Sadewa langsung mengutuk karna si anak kusir yang selalu mencari masalah dengan mereka.
Wu Song yang mendengar hal itu pun berkata,
"Jaga ucapan kalian jangan sembarangan menghujat orang, sebelum anda semua tahu yang sebenarnya atau kelak anda akan menyesalinya."
"Ketahuilah raja Angga adalah sahabatku, menghujatnya sama dengan menghina diri ku, aku bisa menangkap kalian tentu bukan hal sulit bagi ku memusnahkan kalian."
Baru selesai Wu Song berucap, dari arah pintu muncul seorang pria berjalan masuk seluruh tubuhnya memancarkan cahaya kebajikan.
Wajahnya selalu tersenyum ramah, dia melangkah masuk kedalam ruang sidang dengan kaki tidak menapak di atas tanah.
Seperti berjalan diudara, dijari telunjuk kanannya sebuah Cakra emas berputar-putar dengan sendirinya.
Pakaian nya sangat indah rapi dan bersih terbuat dari bahan sutra yang lembut.
Hampir mirip dengan Wu Song dia juga memegang sebatang suling di tangan kirinya.
__ADS_1